Memilih Menjadi Wanita Karir : Terus Belajar, Jujur dan Memiliki Keuletan Jadi Kunci Sukses

Memilih Menjadi Wanita Karir : Terus Belajar, Jujur dan Memiliki Keuletan Jadi Kunci Sukses

Desak Putu Kriani – Adhi Fashion Garment

“Cara terbaik untuk mengetahui masa depan adalah dengan menciptakannya,”. Sepenggal kalimat motivasi dari Dr. Forest C. Shaklee, seorang dokter, ilmuwan, Filosofi dan juga entrepreneur ternama dari Amerika yang lahir pada tahun 1894 silam yang tentu turut menggambarkan kisah Desak Putu Kriani demi memilih jalan hidupnya sebagai seorang aktor yang mandiri saat berwirausaha.

Dengan bermodal keingintahuan nya dalam belajar, sosok Desak Putu Kriani mampu membangun sebuah perusahaan garmen yang di kenal dengan nama Adhi Fashion Clothing & Garment. Usaha pembuatan pakaian atau tekstil yang memproduksi berbagai macam dan jenis pakaian untuk diperjual belikan kembali ini beralamat di Perum Griya Parerepan no. 44, Jalan Raya Pemogan Suwung – Denpasar Selatan.

Berbeda dengan kebanyakan perempuan lainnya, pilihan Desak Putu Kriani untuk berjuang secara mandiri adalah tekad untuk merubah segala sesuatu. Dan hal itu bisa ia buktikan dengan mengibarkan usaha di bidang tekstil sejak tahun 1999. Baginya tidak ada siapa pun yang berhasil mencapai puncak tanpa kerja keras. Hanya itu resepnya. Mungkin tak selalu membuat langsung ke puncak, namun jika setiap upaya di labur dengan kerja keras tentu akan lebih dekat dengan tujuan.

Terlahir dari keluarga sangat sederhana di Desa Pejeng, Banjar Intaran, Tampak Siring – Gianyar, perempuan yang lebih akrab disapa Kriani tersebut dipaksa untuk bekerja keras. Anak sulung dari 5 bersaudara, dari pasangan Dewa Putu Mergug dan Jero Made Mundeh cukup banyak beraktivitas membantu pekerjaan di rumah. Sesekali waktu ia ikut membantu keseharian sang ibu berdagang di pasar, sementara sosok ayah mencari rejeki tambahan sebagai wiraswasta sebagai peternak ayam. Namun meski demikian hal itu belum mencukupi kebutuhan keluarga. Situasi itu pun yang secara tidak disadari membentuk kepribadian Kriani untuk lebih dewasa secara pikiran dan sikap.

“Jadi saya melewati hari-hari dengan keadaan seperti itu. Mau makan saja susah, mau sekolahkan adik-adik juga susah. Karena berdagang di desa hasilnya tidak seberapa. Nah saya pun di didik disiplin. Jadi Ibu bilang kalau jadi perempuan itu harus disiplin dan telaten. Saya pun bekerja dengan ibu di rumah dan bantuin ibu berdagang di pasar. Bagi saya Ibu saya sangat baik. Memberikan kami ajaran lewat teladan. Tidak pernah kasar. Ibu hanya banyak memberi tahu bahwa memulai sesuatu itu harus dari dalam diri sendiri dan tumbuh dari dalam diri sendiri. Seperti semangat, motivasi dan juga rasa syukur,” kenang Kriani.

Ia pun tidak menapik bahwa darah pebisnis yang mengalir dalam darah Kriani adalah dari rintisan dari kedua orang tuanya. Pengalaman hidup semasa kecil yang membentuk kepribadiannya, seperti hidup disiplin, pekerja keras, serta selalu mensyukuri dan mencintai setiap pekerjaan mampu membimbing setiap pilihan hidup yang akan di ambil.

Hal itu bisa terlihat seiring berjalannya waktu, ketika perempuan kelahiran 5 Februari 1968 ini menamatkan pendidikan SPG (Setara SMA/SMK) pada tahun 1987 dan mencoba mengemban profesi sesui cita-cita yang ia idam-idamkan sejak kecil, yaitu menjadi seorang guru.

Karena terkendala biaya saat itu, Kriani pun belum bisa langsung melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Meski mendapat tempat sebagai seorang guru honorer dengan gaji sebesar Rp 15 ribu rupiah, semangat dan rasa cinta terhadap sebuah pekerjaan lebih besar nilainya untuk terus mengabdikan diri sebagai seorang guru yang berkualitas.

Beberapa tahun mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar, Kriani pun memilih untuk kuliah di IKIP Dwijendra Denpasar dengan bermodal gaji yang ia miliki. Namun, tak cukup hanya sebagai guru untuk menopang biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Akhirnya ia pun memilih untuk mencari pekerjaan tambahan yaitu sebagai karyawan di sebuah perusahaan garmen.

Hampir tak ada waktu luang, sebab hari-harinya di isi dengan jadwal yang cukup padat untuk bekerja. Siapa sangka, peluang-peluang kerja yang ia geluti mampu merubah hidupnya. Sejak menamatkan pendidikan di perguruan tinggi, profesi guru ia tinggalkan namun tetap melanjutkan pekerjaan di perusahaan garmen.

Dan sejak saat itulah ketertarikannya untuk coba mengembangkan diri hingga merubah pola pikirnya untuk terjun ke dunia bisnis. Kurang lebih 6 tahun, ia menempa banyak pelajaran serta ilmu terkait sistem dan teknis saat mengerjakan pembuatan pakaian. Meski keterbatasan kemampuan di dunia kerja saat itu, tapi ia mengaku tetap belajar untuk bisa mengembangkan diri.

“Saya harus terus belajar. Saya punya kemauan yang besar untuk total bekerja. Meski di marah, tapi saya tetap bekerja keras untuk belajar. Jadi tidak mesti pintar baru belajar. Kita mesti belajar menjadi pintar. Dalam artian, apa pun sekolah mu, kalau tidak di praktekkan atau menggunakan ilmu mu, tidak bisa kamu bekerja sesuai passion mu.

Sehingga saya merasa beruntung, karena saya bisa belajar dari nol di perusahaan garmen. Sistem dan teknis pekerjaannya seperti apa tentu menjadi modal untuk pengembangan diri saya nantinya,” ungkap Kriani.

Selain banyak belajar dari perusahaan tersebut selama 6 tahun, ia pun mendapat suntikan motivasi hidup dari pemilik perusahaan. “Saya masih ingat peribahasa yang sering beliau katakan yaitu kalau ada yang bisa di makan jangan di makan, tapi kalau tidak ada baru di makan.

Lama baru saya paham dengan peribahasa itu, bahwa jangan cepat sombong. Terap rendah hati, harus tetap belajar. Karena ilmu yang beliau miliki tidak ia bawa sampai mati. Sehingga curi lah ilmu, biar saya bisa seperti beliau nantinya,” tuturnya sambil tersenyum.

Kriani pun tampaknya memilih jadi guru yang masih sesuai dengan mimpi dan cita-citanya, tapi dengan jalur yang berbeda. Tetap ingin memberi motivasi dan mendidik orang lain untuk bisa pintar. Dalam artian pintar bukan ilmunya, tapi memotivasi orang untuk bisa hidup lebih baik.

Menurut Kriani, pengalaman selama bekerja adalah guru terbaik. Seperti saat dirinya di salah satu outlet ternama di Bali yaitu Quicksilver selama 4 tahun sebelum memutuskan membuka usaha sendiri di bidang garmen pada tahun 1999. Pelajaran yang ia dapat dari pengalaman kerja adalah tentang kejujuran dan keuletan. Sehingga hal itu pula yang ia terapkan selama membangun perusahaannya sendiri yaitu Adhi Fashion Clothing & Garment.

Selain itu, keberanian untuk mengambil resiko apa pun turut menjadi keyakinan dalam setiap arah pilihan. “Waktu itu, saya jujur dengan manager saya di Quiksilver untuk mencoba membuka usaha di luar pekerjaan sebagai karyawan disana.

Ternyata dia pun ikut mendukung usaha saya. Akhirnya dia pun ikut mendukung lewat orderan dari Quiksilver. Sambil bekerja dengan quicksilver selama 4 tahun, saat tahun 2003 saya betul-betul berhenti dan fokus untuk membangun usaha saya. Saat itu saya sudah punya 20 karyawan,” imbuh Kriani.

Ketika ditanya terkait apa alasan sehingga memilih usaha sendiri? Ibu 4 anak ini mengatakan bahwa saat itu dirinya terdesak dengan keadaan ekonomi keluarga. Dengan menjadi wanita karir, dirinya tentu saja akan mendapatkan pendapatan ekstra, diluar pendapatan pasangan, yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Selain itu, penambahan pendapatan tersebut dapat dialokasikan untuk kegiatan investasi. Hal ini tentu akan membantu perekonomian keluarga. “Terlebih saya tidak ingin setiap hari atau rutinitas saya pergi kerja pagi pulang sore lalu anak saya ngak ada yang mengasuh. Syukurnya suami saya mendukung bisnis saya waktu itu dengan modal 10 juta.

Akhirnya pun saya beli satu mesin potong, dua mesin jahit dan merekrut tiga karyawan,” ungkapnya. Lama-kelamaan, bisnisnya terus berkembang dengan menampung puluhan karyawan dan mampu memproduksi pakaian dari beragam usia. Memang ada berbagai macam upaya untuk memajukan sebuah usaha. Ada yang menerapkan strategi perang harga, ada yang gencar melakukan promosi, atau dengan cara lain guna menarik minat calon konsumen.

Namun bagi Kriani, strategi bisnis yang paling manjur di bidang garmen adalah menjaga kualitas produk dan pelayanan. Tentu didukung pula dengan pengembangan SDM melalui beragam pelatihan yang berkaitan dengan konveksi yang telah ia dapati, merupakan upaya demi meningkatkan kualitas perusahaan.

Meski sudah terbilang sukses, Kriani pun tak lupa dengan pesan-pesan baik dari sosok Ibunya. Untuk selalu berbuat baik, tetap rendah hati dan berbagi kebaikan. “Jujur saya bersyukur karena dengan apa yang saya lakukan ini adalah bentuk semangat saya untuk berbuat baik kepada orang banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *