Kesederhanaan Jiwa yang Membesarkan : Dari Kuli Hingga Sukses Menjadi Pengusaha Mandiri

Kesederhanaan Jiwa yang Membesarkan : Dari Kuli Hingga Sukses Menjadi Pengusaha Mandiri

I Wayan Supardi – Pardi Motor

Peribahasa yang mengatakan bahwa Meratapi Nasib, tidak akan mengubah apapun tampaknya kian memacu semangat Wayan Supardi untuk berusaha merubah kehidupan ke arah yang lebih baik. Bahkan melewati setiap tapakan kaki di tengah arah perjuangannya, sosok ayah dua anak ini enggan mengisi hidupnya dengan banyak berkeluh kesah. Hingga akhirnya, bermodal kesederhanaan jiwa di dukung niat serta tekad yang besar, ia pun mampu bangkit menjadi pengusaha mandiri.

Perjalanan hidup yang dilakoni Wayan Supardi, memang layak untuk dijadikan cermin pembanding. Pria yang lebih akrab disapa Pardi ini menjadi salah satu aktor pengusaha yang mampu merubah stigma atau anggapan banyak orang tentang sebuah nasib seseorang yang awalnya diremehkan. Namun seperti itulah hidup. Percaya atau tidak, sebenarnya rezeki itu sudah diatur. Anda juga harus percaya bahwa roda kehidupan itu berputar. Kadang bisa di atas, kadang di bawah.

Tak percaya? Jika tidak, Anda bisa melihat bagaimana kisah Pardi, seorang pengusaha sukses yang ternyata awalnya pernah menjalani profesi sebagai buruh kasar atau seorang kuli. Semua itu tentu tidak terlepas dari kegigihannya dalam bekerja dan kini bisa menikmati hasil sebagai pengusaha mandiri di bidang automotif shop & garage yang di kenal dengan nama Pardi Motor yang beralamat di Jl. Raya Abiansemal, Badung, Badung-Bali.

Tanpa di duga, perjalanan Pardi hingga titik ini tidak dalam bayangan atau perencanaannya. Namun, terus melangkah adalah motivasi hidup sukses sekaligus kunci rahasia dalam membangun setiap usaha-usahanya tersebut. Sebab, pria yang terlahir dari kondisi ekonomi keluarga yang terbilang cukup jauh dari kata sejahtera, tidak menyurutkan niat untuk terus berbenah pada diri.

Semua berawal dari didikan di lingkungan keluarga yang memberikan banyak kesempatan bagi Pardi untuk menempa ilmu hidup yang sesungguhnya. Kedua orang tua, I Made Wetha dan Ni Ketut Resin mengajarkan Pardi dengan cara sederhana yaitu memberikan teladan lewat semangat bekerja. Bahkan sejak kecil, dirinya sudah mulai mengemban tanggung jawab besar untuk menentukan nasib sendiri.

Saat ditemui di sela waktu senggangnya, Pardi menceritakan tentang banyak hal, termasuk perjuangan yang tentu menjadi bekal perjalanan karir menuju gerbang kesuksesan. Sejak menempuh pendidikan SMP, Pardi sudah mengenal dunia kerja.

Dengan latar belakang orang tua sebagai petani yang terkadang tak hanya sibuk menggarap lahan sawah, namun juga turut mengambil banyak peran sebagai seorang buruh kasar ini kian membentuk kepribadian Pardi untuk ikut ambil bagian demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Kesehariannya usai pulang sekolah, Pardi ikut bekerja sebagai seorang petani yang menggarap lahan sawah, menjadi kuli bangunan yang juga sesekali menjadi tukang angkut tanah atau pasir hingga bekerja di penggilingan padi. Rutinitas ini pun ia lakoni hingga menempuh pendidikan STM Negeri Denpasar di tahun 1993.

“Karena memang keluarga kita hidupnya sangat sederhana, jadi suka tak suka saya pun ikut ambil bagian untuk bekerja demi meringankan beban keluarga. Saat saya bekerja, hasilnya pun untuk kebutuhan biaya sekolah saya sendiri dan adik saya yang bungsu,” kenang Pardi. Meski sibuk dengan banyak pekerjaan, Pardi enggan meninggalkan sekolahnya.

Bahkan, ia tergolong sebagai salah satu siswa yang cardas dan kerap mendapat juara umum di sekolah. Sehingga dengan begitu, pria kelahiran Abiansemal, 9 Desember 1978 ini mendapat keringanan biaya sekolah sejak SMP hingga pendidikan di STM dengan jurusan Otomotif. Tentu penghargaan berupa beasiswa itu sangat membantu Pardi untuk bisa meraih cita-cita melalui jalur pendidikan.

Namun harapan itu harus ia tanggalkan ketika tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Lagi-lagi semua karena terkendala biaya dan yang paling utama adalah tanggung jawabnya yang besar untuk tetap memikirkan kehidupan keluarga serta adik-adiknya. Pardi pun berbesar hati meninggalkan ego demi kebahagiaan keluarga.

“Jujur saya sangat minder setelah tamat STM, karena saya ngak pernah mengenal namanya kuliah. Ya itu tadi, karena ada tanggung jawab yang besar sehingga saya harus bekerja untuk membiayai adik dan kehidupan saya. Jadi sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, saya harus bisa bertanggung jawab,” pungkasnya.
Pardi meyakini bahwa jalan hidup yang di laluinya adalah bentuk campur tangan Tuhan. Ia mengaku jika setiap arah langkah yang dilakukannya berlandas pada prinsip hidup yang seimbang antara usaha dan doa. Semuanya harus sejalan, sebab ketika melakukan sesuatu hal yang baik, tentu kebaikan-kebaikan lain akan mengikuti setiap perjalanan kita.

Dengan prinsip itu pula lah yang menjadikan titik balik kesuksesan Pardi dalam meniti karir. Setiap apa yang dikerjakan selalu diberikan jalan dan kesempatan. Sehingga, ia pun selalu memanfaatkan peluang itu dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras.

“Saya berpikir bahwa ini semua adalah karma baik ya, mungkin dari kakek-nenek atau orang tua saya, sehingga membuahkan hasil yang bisa saat ini kami teruskan. Kedua, bagi saya suatu usaha, niat, dan tekad dan di dukung oleh doa itu membuktikan bahwa saya bisa sampai saat ini. Pastinya akan berbuah manis,” kata Pardi.

Sehingga sejak menamatkan pendidikan di STM, suami dari Ni Wayan Rastini ini langsung mendapat pekerjaan di bengkel perusahaan resmi (dealer) mobil di area Denpasar. Pardi mengatakan bahwa bengkel mobil tersebut merupakan tempat magang (praktek) saat di STM dulu. Tentu berkat kualitas serta totalitasnya dalam bekerja, bengkel resmi itu pun turut memperhitungkan semangat Pardi dan mempekerjakannya.

Meski demikian, Pardi tidak serta merta langsung mendapat posisi yang baik. Di awal ia harus mengambil peran sebagai tukang cuci mobil. Tidak lama berselang ia mulai merambah peran sebagai teknisi di bagian service mobil.

“Akhirnya saya banyak belajar dari pengalaman disana sehingga saya di percaya untuk mengawal bengkel mobil resmi dari perusahaan tersebut di Ubud dan melakukan training di beberapa kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Hingga terakhir, saya menempati jabatan sebagai kepala bengkel,” ujarnya. Meski mendapat posisi yang nyaman, namun semangat Pardi untuk bekerja terus membara.

Di waktu libur atau bahkan setelah bekerja dari perusahaan, ia nyambi bekerja dengan berkeliling dari rumah ke rumah untuk menerima service mobil. Dan hal ini ia lakoni selama 13 tahun saat bersamaan dengan pengabdiaannya di bengkel resmi mobil tersebut. “Jadi selama masa muda, saya habiskan dengan banyak waktu untuk bekerja dan belajar.

Kenapa seperti itu? karena sebenarnya ada 3 motivasi saya saat itu. Pertama karena harus membiayai adik saya yang kuliah, kedua, memperbaiki ekonomi keluarga sambil membiayai adik saya yang nomor dua untuk berobat. Dan ketiga karena memang tekad saya agar bisa merubah kehidupan saya,” tegas Pardi sambil mengenang.

Mendapat peran penting serta jabatan yang baik nyatanya tak membuat Pardi berpuas diri. Inisatif untuk mengembangkan sayap di dunia bisnis otomotif mulai dilakukan. Bermodal tabungan seadanya, pria rendah hati ini pun mulai pelan-pelan menyiapkan berbagai macam peralatan untuk membuka bengkel pribadi di kampung halaman.

“Awalnya saya belajar dari senior-senior saya ya. Mereka menginspirasi, seperti semangat dan usaha mereka dalam bekerja. Sehingga saya menyiapkan diri, kurang lebih selama 5 tahun sebelum saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempat saya bekerja, saya telah menyiapkan tempat usaha saya sendiri di rumah.

Kebetulan adik saya selesai kuliah dan saya menganjurkan untuk memulai pekerjaan itu di rumah yang di kelola olehnya untuk sementara waktu,” jelas Pardi. Dan seiring berjalannya waktu, bermodal pengalaman kerja dengan memberikan pelayanan service yang baik serta menjaga kualitas hasil yang maksimal, kami bisa menarik banyak konsumen untuk datang ke bengkel mobil Pardi.

“Saya berpikir dengan menjaga kualitas service yang baik, sehingga dengan cara itu pula kami bisa berkompitisi di bidang tersebut. Itu yang menjadi acuan saya selama membangun usaha ini. Sehingga dengan sendirinya pelanggan pun sudah banyak yang tahu hasil dari yang kami kerjakan ini,” pungkas Pardi bersemangat.

Hingga akhirnya, di tahun 2010 Pardi pun memilih untuk keluar dari perusahaan tersebut dan fokus membangun usaha mandiri yang ia namai Pardi Motor. Tidak ia sangka, pemimpin perusahaan pun ikut mendukung semangatnya dalam berkarya dan Pardi mendapatkan hadiah sepeda motor operasional untuk ia gunakan.

Kurang lebih 16 tahun membangun usaha bengkel mobil secara mandiri, hubungan pardi dan perusahaan tempat ia bekerja masih terjalin baik. Terkadang jika ada kendala, Pardi masih tetap ikut membantu. Kini perkembangan yang perusahaan yang ia bangun dari nol kian berkembang dan mampu mempekerjakan banyak orang. Tak hanya itu, kehidupan keluarga berangsur membaik. Ia mangaku jika kepuasan tersendiri yang sangat ia rasakan adalah ketika kesuksesan dari hasil kerja kerasnya ini masih bisa dinikmati oleh kedua orang tua, adik-adik dan keluarga kecilnya.

“Terlebih saya menyadari bahwa karakter serta kepribadian saya sejak kecil terbentuk dari didikan kedua orang tua. Kedekatan saya bersama sosok Ibu pun sangat berpengaruh ya. Didikan yang keras, tegas dan pekerja keras terus terngiang dalam ingatan saya. Boleh di bilang beliau adalah Tuhan yang nyata di kehidupan saya.

Di balik sosoknya yang tegas itu, beliau sangat lembut dan sayang kepada kami anak-anaknya. Saya masih ingat betul, dulu saya bekerja dengan ibu juga. Karena Ibu juga kebetulan buruh kasar juga. Sehingga perjuangan itu yang turut membakar ‘api’ semangat saya untuk terus berjuang,” kenang Pardi.

Sementara itu, ketika ditanyakan tentang apa motivasi yang mesti di bagi melalui pengalaman hidupnya, Pardi mengaku bahwa ada satu hal yang setidaknya bisa menjadi resep untuk menjadi aktor yang sukses. Ia mengaku kunci utama dan paling penting untuk di ingat adalah harus bisa memotivasi diri.

“Tentu dengan satu-satunya cara yaitu mengenali diri sendiri. Dengan menggali potensi diri dan menyelami karakrer serta jiwa masing-masing pribadi. Sehingga, ketika sudah mengenal diri sendiri, ada motivasi yang lahir untuk membentuk tekad kita demi mewujudkan perubahan. Siapa saya? Ya, saya adalah orang yang tidak mampu sejak kecil.

Sehingga saya harus berusaha dengan tekad yang besar untuk merubah kehidupan saya. Dan Tuhan menginzinkan dan memberikan sesuatu yang baik kepada saya, sehingga bagi saya sendiri kehidupan tidak akan bahagia kalau kita tidak turut berbagi kepada orang lain,” tutup Pardi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *