Terinspirasi dari Tanggung Jawab dan Kejujuran Ayah Dalam Bekerja

Terinspirasi dari Tanggung Jawab dan Kejujuran Ayah Dalam Bekerja

I Dewa Gede Sukma Prayojana – UD. Sri Sukma Persada

Memiliki bakat dan passion di suatu bidang, menjadi sebuah kenikmatan dalam bekerja, apalagi mampu hingga mengembangkan sebuah bisnis. Pria lulusan jurusan teknik sipil, Universitas Udayana ini kemudian kompak bersama ayahnya, membangun sebuah toko material bangunan, tak hanya itu, mereka yang memiliki bakat bekerja di pertukangan, juga menawarkan kreatifitas mereka dalam merancang furniture rumah tangga.

Orangtua dari I Dewa Gede Sukma Prayojana atau lebih akrab dipanggil Dewa Sukma, disamping bekerja sebagai ASN, juga memiliki bakat dalam pertukangan, di mana bakat tersebut telah diturunkan oleh sang kakek. Kakeknya merupakan tukang yang cukup ternama pada jamannya dan berlanjut hingga saat ini. Ketekunan dalam merintis usaha, bisa disaksikan bagaimana I Dewa Sumanigara (ayah) lebih dikenal dengan sebutan Ajik Sukma dan Dewa Sukma menjemput bahan-bahan yang akan diproses, hingga ke desa-desa. Ayahnya juga menjalin komunikasi dengan tukang-tukang senior di setiap desa yang dikunjungi, untuk merealisasikan jaringan sebagai jasa tukang yang lebih luas.

Sebagai bentuk menghargai customer yang datang menggunakan jasa usaha keluarga, ayahnya selalu memiliki keinginan kuat untuk terus belajar, terutama dalam mengerjakan permintaan yang belum pernah dikerjakan sebelumnya. Pekerjaan tersebut pun dikerjakan secara tuntas demi mengejar target yang telah ditentukan, meski terkadang harus lembur, untuk menjaga kepercayaan customer.

Sang Ayah pun berharap dengan upaya yang diberikan saat itu, perlahan akan membangun image di mata masyarakat yang membutuhkan pengolahan kayu, langsung terbayang pada usaha ini. Bakat mereka yang semakin dikenal luas, sekaligus kepercayaan yang semakin dipegang masyarakat, tak hanya membawa pekerjaan tersebut sampai di seputar Tabanan dan Jembrana, tapi juga di pusat kota Bali, yakni di Denpasar.

Seiring berjalannya waktu, bersama tipe pekerjaan yang masih ditekuni, timbul pemikiran sang ayah, bagaimana masa depan pekerjaan ini, kalau hanya mengandalkan proyek saja. Belum tentu proyek akan selalu ada, bahkan bisa saja menipis, seiring dengan pertumbuhan pekerjaan serupa. Ayahnya pun mulai memikirkan usaha apa yang bisa mereka kerjakan untuk mendapatkan proyek secara berkelanjutan.

Inspirasi tersebut kemudian datang, saat ayahnya mengunjungi sebuah bengkel besar di Denpasar, Dewa Sukma yang saat itu masih kelas II SMA, pun diikutsertakan. Sesampai di bengkel, tertariklah Dewa Sukma pada sebuah mesin pengolahan kayu yang digunakan pada bengkel tersebut. Ia mengungkapkan keinginannya untuk memiliki mesin tersebut kepada ayahnya, sambil tidak henti tangannya menunjuk ke arah mesin tersebut.

Cukup lama cita-cita tersebut terpendam dalam hati ayah dan anak tersebut, karena keterbatasan modal untuk membeli perlengkapan kebutuhan proyek dan sewa lokasi. Hingga suatu ketika ayahnya yang masih mengumpulkan modal untuk usaha, mendapat peluang untuk berangkat ke Surabaya, untuk melakukan transaksi pada usaha pemilik toko bangunan langganan ayahnya, saat masih bekerja sebagai tukang.

Mungkin karena telah lama ayahnya bekerjasama mengambil barang di toko bangunan tersebut, sang pemilik toko bangunan memberikan kepercayaan yang besar kepada ayahnya untuk berangkat ke Surabaya melakukan transaksi material-material usaha bangunan. Dengan mengendarai truk semen, sampailah ayahnya di Surabaya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, kemudian ia kembali ke Bali, dan mendapatkan bonus dari pemilik toko. Bonus tersebut kemudian digunakan untuk mengontrak lokasi, di mana pemiliknya adalah pemilik toko bangunan itu juga.

Dari mengontrak lokasi sampai pengurusan ijin, UD. Sri Sukma Persada mengawalinya sebagai usaha pengolahan kayu dengan mesin (moulding), dengan produk/jasa utama adalah pembuatan kusen, daun pintu, bangunan Bali, dll. Akhirnya seiring bertambahnya modal dan permintaan masyarakat, UD. Sri Sukma Persada berkembang menjadi sebuah toko bahan bangunan pada tahun 1993, yang berlokasi di Jalan Raya Penyalin, Samsam, Kec. Kerambitan, Kabupaten Tabanan.

Keasyikan mengurus usaha toko bangunan, tak hanya digeluti oleh ayahnya, diakui Dewa Sukma, ia hampir tak lulus kuliah, karena memikirkan toko. Bahkan saat ia sedang melakukan kegiatan di tempat KKN, ia rela bolak-balik dari lokasi KKN ke toko bangunan, untuk melihat secara langsung perkembangan toko.

Memiliki basic sebagai tukang, Dewa Sukma dan ayahnya ingin mempererat hubungan dengan pelanggan dengan memberikan pelayanan yang optimal. Salah satunya, dengan menjalin komunikasi yang ramah dan memberikan solusi kepada pemilik proyek bangunan, yang biasanya masih awam dengan bidang ini. Sehingga konsumen disamping membeli produk, juga mendapatkan pencerahan dari kendala-kendala yang mungkin ditemukan di tengah proses pembangunan proyek.

Tidak hanya memenuhi produk-produk kebutuhan material, UD. Sri Sukma juga menawarkan jasa tukang kayu dan bangunan, meliputi pembuatan lemari, service tiang meja aquarium, meja tangga, meja resepsionis, bangku sekolah, kolam ikan koi dan pengecatan bangunan. Dari pelayanan dan produk yang diberikan, diharapkan, nama dari “UD. Sri Sukma Persada” selalu melekat dalam ingatan pelanggannya sebagai sebuah nama toko bangunan.

Belajar Tanggung Jawab dan Kejujuran dari Ayah
Beliau adalah sosok yang sangat jarang melampiaskan emosi dan amarah kepada anaknya, itulah jawaban Dewa Sukma yang pertama kali terlontar dari mulutnya, saat ditanyakan bagaimana sosok sang ayah. Tak hanya itu, ayahnya juga merupakan sosok yang tidak lepas dari rasa tanggung jawab atas pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.

Meski terkadang, tak terhindari ada saja pihak-pihak yang menimbulkan kerugian pada pekerjaan ayahnya, padahal pekerjaan telah fokus diselesaikan. Sikap lainnya yang dikagumi oleh Dewa Sukma, adalah kejujuran sebagai bahan pertimbangan yang sangat penting bagi sang ayah, baik saat masih bekerja sebagai ASN maupun saat membangun usaha.

Saat ayahnya telah pensiun sebagai ASN, sebenarnya Dewa Sukma bisa saja mendapat posisi di instansi pemerintahan, bahkan atasan ayahnya, sudah menawarkan posisi pada Gede Sukma. Namun dari sikap ayahnya, Gede Sukma bisa menangkap, bahwa sang ayah menginginkan ada sesuatu yang lebih bisa dibekali ia nanti, tak melulu hanya dari pekerjaan sebagai ASN. Ayahnya pun menyarankan lebih baik ikut beliau merintis sebuah usaha.

Memiliki hubungan yang dekat dengan orangtua, menciptakan awal perjalanan Dewa Sukma untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta. Hal itu ia wujudkan, di mana setiap paginya, sebelum beraktifitas ia mengawali dengan menghaturkan canang lengkap dengan sari berupa uang. Keeseokan harinya, sari canang tersebut disimpan di sebuah toples dalam jangka waktu tertentu, kemudian akan disumbangkan bagi mereka yang membutuhkan. Kegiatan tersebut, menjadi rutinitas Dewa Sukma setiap hari sebagai umat Hindu Bali, tanpa menitikberatkan pada tujuan tertentu, cukup dilandaskan rasa tulus ikhlas untuk melakukan persembahan kehadapan Sang Pencipta.

Tidak sedikit generasi muda yang mulai mandiri membangun usaha. Bagi Dewa Sukma, fenomena ini patut dipuji, karena keberanian mereka untuk mulai bergerak dalam dunia bisnis. Meski usaha yang diawali masih sederhana. Sebagai orangtua, hal tersebut patut diapresiasi, dengan memberi dukungan terbaik kepada putra dan putrinya, apapun pilihan karirnya nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *