Beradaptasi dengan Modernisasi Pertanian Demi Menjaga Ketahanan Pangan

Beradaptasi dengan Modernisasi Pertanian Demi Menjaga Ketahanan Pangan

Ida Bagus Widi Adnyana – UD. Inten

Dahulu di Indonesia, ada alu dan lesung sebagai penyosoh padi tradisional. Kemudian seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman yang semakin modern, mulai bermunculan alat-alat yang membuat para petani atau pemilik usaha penggilingan padi lebih efisien dalam bekerja. Usaha penggilingan padi pun, seperti UD. Inten, mampu berperan sebagai lembaga penyedia modal, bagi para petani.

Usaha UD. Inten sebelumnya dirintis oleh orangtua, setelah sepeninggal ayah, Ida Bagus Widi Adnyana tidak tega untuk membiarkan Sang Ibu mengelola usaha ini sendiri. Ia pun yang sebelumnya memiliki pengalaman bekerja di Legian Beach Hotel, Kuta, juga pernah sebagai sales, memutuskan ikut turun tangan membantu. Dan Seiring usia ibu yang terus bertambah, ia kemudian mengambil alih penuh UD. Inten yang berlokasi di Desa Marga, Kabupaten Tabanan.

UD. Inten awal perintisannya, tidak hanya hanya berkutat pada penggilingan beras, tapi juga menawarkan hasil bumi lainnya, seperti cengkeh, vanili dan cokelat, Namun pada tahun 2005, Ida Bagus Widi, mengalami dua kali pengalaman tidak mengenakan, gudang vanili dan cengkehnya mengalami kerampokan,  menyebabkan kerugian sebesar 800 juta. Dibalik kejadian tersebut, bersyukur ia masih diberi keselamatan dan tidak mengalami luka sedikit pun. Meski pada akhirnya hanya meninggalkan satu gudang penggilangan beras saja.

Masih sederhana dan tradisional, begitulah pemaparan Ida Bagus Widi, mengingat bagaimana UD. Inten dirintis orangtua dengan penuh ketekunan. Anak pertama dari dua bersaudara ini pun diperkenalkan pada usaha tersebut sejak dini, seperti cara membeli dan menjual beras. Momen lain yang tak akan pernah lupakan, saat ayahnya mengatakan “Daripada kamu bekerja di hotel, butuh waktu bulanan untuk memperoleh penghasilan dengan jumlah sekian, lebih baik kamu belajar mengelola usaha ini. Tiga hari saja, kalau berjalan baik, sudah bisa mencapai gaji bulanan kamu”. Pesan tersebut pun terus terngiang pada pikiran Ida Bagus Widi, hingga ia jadikan sebagai motivasi, untuk mundur dari pekerjaannya di pariwisata pada tahun 2011.

Setelah di bawah pengawasan Ida Bagus Widi dan istri, Ida Ayu Ketut Candrawati, UD. Inten mulai diarahkan untuk masuk ke sistem yang lebih modern, karena bila terus terpaku pada konvesional, usahanya akan tergilas oleh zaman. Seperti praktek pada penjemuran gabah yang dulu masih bergantung pada faktor cahaya matahari, di masa ini, kondisi alam yang sudah tidak menentu, tak selamanya bisa diharapkan dalam proses usaha penggilingan berasnya. Maka dilakukanlah perundingan dengan ibunya, agar membeli alat pengering gabah, agar bekerja lebih efisien, sekaligus penghasilan yang didapat, dapat dialokasikan ke kebutuhan selanjutnya.

Sebagai usaha penggilingan padi, yang tak hanya memiliki peran sebagai pengolahan gabah menjadi beras, tapi juga sebagai sumber pemodalan bagi petani dan lokasi memasarkan padi, UD. Inten terus berupaya untuk terus bertumbuh sebagai usaha penyedia pangan yang tetap enerjik di zaman yang semakin maju.

Dengan proses pengolahan usaha yang dirasa sudah membutuhkan teknologi yang canggih dan mendesak, demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan beras, dari berbagai kelas ekonomi dalam skala yang lebih besar dan modern, untuk menggantikan unit penggilingan yang lebih kecil.

Tak hanya itu, transaksi antara usaha penggilingan dan petani yang optimal, juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kesejahteraan petani dan persaingan antara usaha penggilingan padi lainnya yang diperkirakan akan terus berlanjut. Dalam hal ini, Ida Bagus Widi menanggapinya untuk tetap tekun dalam bekerja, jangan lengah dan tetap diirngi dengan doa, untuk menjaga keberlangsungan usaha penggilingan padi “UD. Inten” itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *