Darah Sang Pendidik yang Sentuh  Dunia Pariwisata hingga Kesehatan

Darah Sang Pendidik yang Sentuh Dunia Pariwisata hingga Kesehatan

Dr. Drs. I Ketut Putra Suarthana, M.M. – Klinik Bina Usada & Rektor Universitas Triatma Mulya

Hidup di masa Gunung Agung meletus, membuat Ketut Putra Suarthana, sempat merasakan putus sekolah, saat di kelas III SD. Di mana peristiwa tersebut telah menyebabkan krisis ekonomi pada masyarakat Bali, yang pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani kala itu. Sama halnya dengan orangtua Putra Suarthana, mereka harus merelakan “ladang emas” mereka mengalami gagal panen dan memulai menanam bibit lagi.

Peristiwa tersebut hanya sekelumit dari perjalanan Putra Suarthana, yang lahir di desa Madangan 5 April 1950, dari pasangan I Wayan Genjir (ayah) dan Ni Nengah Meling (Ibu). Usai dari kejadian tersebut, ia harus cuti sekolah selama tiga tahun yang ia isi dengan kegiatan membantu orangtua menggarap tanah puri atau beternak itik bersama ibunya.

Kakaknya yang saat itu sedang tinggal di panti asuhan Kristen Giri Asih Negara, pulang ke Gianyar untuk mengajak Putra Suarthana melanjutkan SMA di dalam binaan panti asuhan tersebut. Orangtua pun tak keberatan jauh dari putranya, asal tetap bisa bersekolah. Namun berbeda halnya dengan perasaan Putra Suarthana yang tidak ingin jauh dari orangtuanya.

Meski sempat ada penolakan dari Putra Suarthana, ia pun tak bisa berbuat apa – apa selain menuruti kedua orangtuanya. Karena bagaimana pun tujuan untuk tinggal di panti asuhan adalah demi keberlangsungan masa depan Ketut Suarthana sendiri.

Di panti asuhan, keseharian ayah dari tiga orang anak ini, dididik untuk membiasakan diri hidup disiplin. Sejak bangun di pagi hari, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hingga waktu tidur, masing-masing memiliki peraturannya dan dibagi rata kepada seluruh penghuni panti asuhan. Hidup Putra Suarthana pun dirasakan lebih teratur dan mandiri, dibandingkan saat ia masih tinggal bersama orangtua.

Setelah dijalani, ternyata hidup di panti asuhan tidak seburuk yang ia bayangkan, karena segala kebutuhan dipenuhi oleh panti asuhan yang mendapat dukungan dari negara luar saat itu. Juga dikelilingi oleh teman-teman yang menyenangkan, baik saat bermain maupun belajar.

Dari dunia panti asuhan, begitu banyak pengalaman dan pelajaran penting yang diperoleh Putra Suarthana, dari beradaptasi dengan lingkungan baru, belajar disiplin, hingga berpengaruh pada pola pemikirannya dan terbawa pada perjalanan karir. Dari menjadi mahasiswa, dosen, hingga menjadi pengusaha sukses di bidang pariwisata dan pendidikan.

Puri Saron Hotel Madangan Gianyar

Mulai Menginjakan Kaki di Dunia Perhotelan
Lepas dari SMA Widya Pura, anak terakhir dari dua belas bersaudara ini, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah jurusan perhotelan di Denpasar, tepatnya di Akademi Pariwisata Bali. Saat lulus, Putra Suarthana mulai memiliki cita – cita untuk menjadi seorang guru, ia pun memutuskan melanjutkan kuliah di IKIP Mahasaraswati Denpasar.

Saat kuliah semester II, Putra Suarthana sembari mengambil pekerjaan di Sanur Beach Hotel, dan menempati beberapa posisi, yaitu di bagian pembersih kolam renang, bellboy dan terakhir sebagai reservation manager di Nusa Dua Beach Hotel selama satu tahun.

Setelah selama 12 tahun di dunia perhotelan, cita-citanya pun mulai ia jajaki sebagai tenaga pendidik di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bali (BPLP) pada tahun 1983. Karena memiliki peran yang berpengaruh dalam merintis BPLP, dan meraih prestasi yang luar biasa, Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, mengirimnya ke Belanda, dalam rangka Summer Course.

Selama delapan tahun di BPLP, karir Putra Suarthana pun terus meningkat, dari dosen hingga terpilih menjadi ketua jurusan. Banyak pengalaman yang didapatkan seputar pendidikan pariwisata, hal ini kemudian melahirkan keinginan Putra Suarthana untuk tak hanya menjadi pendidik, tapi juga membangun sebuah wadah bagi generasi muda yang ingin memperdalam ilmu di dunia pariwisata.

Ia pun membangun Akademi Komunitas Manajemen Perhotelan (AK. MAPINDO) pada tahun 1991. Akademi ini pertama kali dirintis dengan menyewa sebuah ruko daerah Sesetan, Denpasar Selatan dengan menawarkan fasilitas kursus Bahasa Inggris dan pelatihan pemandu wisata.

Selain dalil tersebut, AK. MAPINDO yang sebelumnya bernama “Pelatihan Manajemen Pariwisata Indonesia (PPLP. MAPINDO)”, didirikan Putra Suarthana, karena lembaga pendidikan sejenis ini masih sangat jarang saat itu. Berada dalam naungan Yayasan Triatma Surya Jaya, AK. MAPINDO kemudian berkembang pesat dalam meningkatkan kualitas lulusan, yang nantinya siap bersaing di dunia kerja, terutama dunia pariwisata.

Dari Pariwisata Merambah ke Dunia Kesehatan
Dengan adanya fasilitas lembaga pendidikan pariwisata, yang telah didirikan yaitu Pusat Pendidikan dan Latihan Pariwisata (PPLP) Dhyana Putra dan AK. MAPINDO yang berkembang hingga luar Bali, Putra Suarthana pun terpacu untuk membangun jaringan perhotelan The Puri Saron Hotel Group, sebagai lokasi kerja lulusan pendidikan pariwisatanya, yang berlokasi di Bali, Jawa dan Lombok.

Tak berhenti sampai disana, perhatian Putra Suarthana kemudian tertuju pada pendidikan dunia kesehatan. Sejak ia mengambil alih STIKES Bina Usada, lulusan Doktor Pariwisata Udayana ini, juga menyediakan wadah bagi lulusan untuk melakukan kerja praktek. Ia mendirikan Klinik Pratama Bina Usada, namun seiring berjalannya waktu dan menjawab kebutuhan tenaga spesialis, lokasi Klinik Pratama Bina Usada pun dipindahkan ke Jalan Gatot Subroto Tengah dan dalam proses pengembangan saat ini, tengah dilakukan kerjasama dengan salah satu RSIA, dalam penyediaan program bayi tabung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *