Mewarisi Jiwa Kerja Keras Orangtua dalam Berdagang

Mewarisi Jiwa Kerja Keras Orangtua dalam Berdagang

I Wayan Wirawan – UD. Semar Sari

Setiap orang pasti memiliki impian dalam hidupnya, namun yang menjadi pembedanya, ada yang hanya sebatas berani bermimpi dan menyia-nyiakan waktunya, tanpa terasa mimpi kita didahulukan oleh mereka yang take action untuk mewujudkannya. Begitulah Wayan Wirawan, ia tak ingin menghabiskan energi masa mudanya hanya demi kesenangan sesaat, namun memanfaatkannya dengan bekerja sembari menempuh pendidikan.

Masa muda adalah masa terbaik untuk berkreatifitas, tapi terkadang karena kondisi lingkungan yang kurang mendukung, generasi muda justru terjerumus pada pergaulan yang tidak produktif, seperti bermalas-malasan atau bermain game tanpa mengenal batas waktu. Biasanya sebagian dari mereka yang mengambil gaya hidup demikian, karena masih memiliki pandangan tentang kesuksesan yang sering dianggap cukup enteng, berawal dari kebiasaan menunda-nunda pekerjaan dan berujung pada kemalasan.

Generasi muda pada zaman Wayan Wirawan dan generasi saat ini tentu memiliki perbedaan yang jelas. Dalam memberikan pendidikan keluarga pun, tak bisa sepenuhnya menerapkan cara zaman dulu dengan sekarang. Jika dulu ia terbiasa mendapat didikan keras dalam keluarga, terutama bekerja membantu orang tua, kini tak semua generasi bisa menerapkan hal tersebut. Mereka umumnya memiliki gaya pemikiran sendiri, dalam memilih cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam hal ini, melihat tahun kelahiran Wayan Wirawan pada 1972, ia pun masih tergolong pada dunia anak-anak yang tidak neko-neko dan mengikuti keinginan orangtua adalah sesuatu yang wajib dilakukan sebagai anak kepada orangtua. Sikap ini ia buktikan, salah satunya dengan melanjutkan sebuah warisan usaha dan mempertahankannya di tengah bertumbuhnya usaha serupa, yang sama sekali tidak mudah.

Wayan Wirawan patut berbangga lahir dari orangtua pekerja keras yang menjadi inspirasinya dalam berwirausaha. Kisahnya berawal dari orang tua yang sempat mengambil beberapa bisnis penjualan, seperti berjualan beras oleh Sang Ibu, sedangkan ayahnya menekuni usaha mengirim patung-patung kecil pada tahun1970an ke Denpasar. Kejayaan usaha tersebut cukup lama berpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan keluarga, hingga tahun 1980an ayahnya berkenalan dengan pemilik dari toko bahan bangunan “Harum Jaya”, dan tertarik untuk menekuni usaha tersebut. Usaha sebelumnya pun digeser dan beralih menjual bahan bangunan pada tahun 1984.

Keputusan I Wayan Wirawan mengikuti jejak orangtua untuk membangun usaha bahan bangunan, sekaligus mendapat dorongan penuh, ia wujudkan pada tahun 1993. Setelah beberapa kali berpindah untuk menemukan lokasi yang pas, sembari mengambil proyek di Tanjung Benoa pada tahun 2008 hingga 2014, barulah tahun 2015 ia resmi menetapkan toko “UD. Semar Sari” di alamat Jalan Raya Mas, Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.

Dalam merintis usahanya, Wayan Wirawan mengatur manajemen waktunya seapik mungkin. Di pagi hari ia mengurus usaha sampai jam 4 sore, kemudian melanjutkan kuliah di Jurusan Ekonomi Akuntansi di Universitas Warmadewa, hingga jam 9 malam. Mengingat keesokannya ia sudah harus kembali ke toko, ia pun tidak memiliki waktu untuk berkumpul bersama teman – temannya. Atas keputusan bagaimana cara ia menjalani karirnya, ia pun paham dan siap dengan konsekuensi yang harus diterima.

Belajar dari Masa-Masa Sulit
Bagi Wayan Wirawan, hal yang mempengaruhinya hingga berani mengambil resiko membangun usaha ialah, karena sejak kecil secara tidak langsung telah diperkenalkan dunia dagang oleh ibu, dengan mengikutsertakannya dalam kegiatan tersebut. Bahkan saat di bangku SD, ia sudah keliling berjualan jajan, meski waktu bermainnya berkurang, ia cukup menikmati masa anak-anaknya tersebut.

Kedekatan pria kelahiran Denpasar, 30 September 1972 ini sebagai anak dengan orangtua, ternyata sukses membawa ia mewarisi jiwa dagang dari ayah dan ibunya. Kerja keras keduanya pun sudah menjadi kebiasaan sejak muda, seperti pepatah yang mengatakan “Buah tak jatuh jauh dari pohonnya” seperti dirinya, ayahnya pun saat masih muda, juga harus bekerja sambil berkuliah.

Perjuangan demi perjuangan digeluti orangtua Wayan Wirawan, hingga diwarisi kepadanya. Seperti giat untuk terus mengembangkan UD. Semar Sari, dilakukan Wayan Wirawan dengan mengambil beberapa proyek dan bekerjasama dengan kontraktor. Berbeda strategi setelah pandemi, ia lebih berhati-hati dalam memutuskan sesuatu, memang di satu sisi ia membutuhkan customer untuk terus menghidupkan usahanya, namun bukan berarti ia asal-asalan dalam menjalin kerjasama.

Sebagai manusia, kita tak bisa selalu bertumpu pada bekerja dan bekerja, jangan sampai melupakan bahwa pemilik segala isi semesta ini adalah Sang Pencipta. Kurang lebih seperti itulah, Wayan Wirawan mengkonsepkan hidupnya dalam sehari-hari. Doa baginya sudah menjadi hal wajib yang ia kumandangkan, sebagai bentuk terimakasih dan syukurnya, atas berkah yang telah ia terima sampai saat ini.

Tidak secara instan Wayan Wirawan memperoleh pemahaman ini, ia harus melalui masa-masa sulit dalam hidupnya. Terutama yang paling terkenang dalam hidupnya, saat musibah kecelakaan terlindas truk yang menimpanya yang membuat semua orang mengiranya sudah meninggal dunia. Di tengah ia merintis usahanya saat itu, Tuhan pun menurunkan perlindungan dan kuasaNYA, hingga ia bisa melawan rasa sakitnya akibat peristiwa tersebut. Sampai disaat ini ia pun masih diberi kesempatan untuk mengisi dan menjalani kehidupannya dengan pelajaran yang telah ia terima.

Kini sosok Wayan Wirawan tak hanya menghabiskan waktunya sebagai wirausahawan, ia ingin lebih meningkatkan hubungan secara personal kepada Sang Maha Pencipta, melalui kegiatan yang mampu membangun spiritual dalam dirinya, salah satunya melalui meditasi. Terlebih di tengah pandemi, kesehatan fisik dan mental, menjadi harta yang sangat berharga dari apapun yang dimiliki manusia, agar kita tetap bisa menjaga perfoma dalam bekerja, maupun bersosialisasi dengan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *