Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri, di Mana Pun Dalam Kondisi Apa Pun

Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri, di Mana Pun Dalam Kondisi Apa Pun

I Made Luntara & I Gusti Ayu Made Nitalia – PT. Mesari Adi Harsa/UD. Mesari

I Made Luntara mengawali karirnya dari posisi sebagi staff di suatu perusahaan yang bergerak di bidang supplier daging ayam, yang dijlalani hampir 10 tahun. Sekian lamanya ia ada di perusahaan tersebut, bahkan ia sudah menginjakan kakinya saat perusahaan baru dirintis. Sudah tidak perlu diragukan lagi, penguasaannya dalam ruang lingkup pekerjaan tersebut sudah tidak main – main, bisa dikatakan mencapai level expert dan seharusnya sudah sangat percaya diri untuk membangun usahanya sendiri.

Menjelma 10 tahun lamanya sebagai staff, hingga mendapat kepercayaan penuh dari sang pemilik untuk meng-handle usaha, tentu merupakan sebuah kebanggaan bagi mereka yang memiliki passion meningkatkan karir dalam sebuah bidang perusahaan. Namun bagi mereka yang memiliki jiwa “pemberontak”, konsep ini tak berlaku dalam hidup, terlebih dalam karir. Seolah ada hati yang tak mampu dibohongi dan terus meyakini diri, bahwa kita akan menjadi sosok yang lebih baik, lebih mujur meski meninggalkan kenyamanan finansial yang telah dimiliki.

Bila bekerja di sebuah manajemen perusahaan yang profesional, posisi Made Luntara sudah bisa disebut sebagai manager. Seraya merendahkan hatinya, ia menyanggah belum bisa dipanggil seprofesional itu, ia hanya berupaya memberikan perfoma terbaik dalam pekerjaannya. Apa yang diperintahkan oleh atasan, ia penuhi dan ia kerjakan dengan tuntas.

Menjadi versi terbaik dalam pekerjaan apapun, begitulah prinsip yang dipegang Made Luntara dalam bekerja untuk mengais rezeki, tak hanya di usaha supplier daging ayam yang ia jajaki, pria kelahiran Jagapati, 20 Februari 1985 ini, juga sempat berkancah di bidang pekerjaan lainnya, yakni di hotel selama empat tahun. Kefokusan dan loyalitasnya pun sama besarnya selama sebagai pekerja di dua dunia yang berbeda tersebut. Bahkan, ia seolah tak mengenal mana siang, mana malam, saking tersitanya waktu demi menghidupi keluarga.

Made Luntara yang memutuskan untuk menikah muda, pun mulai mengalami perubahan pola pikir, terlebih ia telah dikaruniai buah hati, tentu kebutuhan keluarganya akan bertambah. Maka di kelahiran anak kedua, ia dan istrinya I Gusti Ayu Made Nitalia, mulai mencari celah di sela – sela kesibukan mereka bekerja, dengan membuka sebuah usaha toko sembako sederhana yang berlokasi di pasar. Semenjak membuka toko sembako tersebutlah, diungkapkan Made Luntara, jiwa bisnisnya mulai muncul ke permukaan.

Setelah dibukanya toko sembako, Made Luntara mendapat dukungan dari atasan untuk mengembangkan usaha tersebut. Bahkan, tak hanya moril, atasannya tak ragu menyumbangkan kebutuhan lain berupa materi untuk tokonya. Namun ternyata tak semudah dalam bayangannya, usaha tersebut tak mampu ia jalankan dan hanya bertahan selama delapan bulan, karena kurangnya pengalaman terutama dalam memenuhi kelengkapan stok dan tidak melakukan riset harga (yang kerap berubah).

Bertarung dengan Waktu dan Rasa Lelah
Di saat Made Luntara masih berstatus sebagai karyawan, ia sudah bertekad bahwa ia tidak akan menggantungkan penghasilannya hanya dari satu sumber saja, suatu saat nanti ia harus memiliki sebuah usaha sendiri, meskipun itu sederhana. Bahkan ia pernah berucap dengan atasannya, Bapak Nyoman Puja di supplier daging ayam, bila usaha beliau sudah maju, ia akan mundur dan membangun usahanya secara mandiri. Tentunya tanpa lupa berterima kasih kepada beliau yang sudah menjadi mentornya, karena telah diberi bekal berupa ilmu dan pengalaman yang sangat mumpuni baginya untuk berdiri di kaki sendiri.

Setelah gagal pada toko sembako, Made Luntara kembali mencoba usaha dan terdorong untuk memotong daging ayam dan membagi beberapa bagian, kemudian dijual. Rutinitas tersebut ia lakukan sepulang kerja pada jam 7 malam sampai jam 12 malam. Kadang ia juga bisa tidak mendapat kesempatan untuk tidur dan langsung pergi bekerja. Untuk pengiriman daging kemudian dilakukan oleh istri, pada pagi harinya.

Tak sanggup terlalu lama dalam urusan pekerjaan dan usaha yang dilakukan secara bersamaan, Made Luntara pun menegaskan dirinya untuk mundur dari perusahaan dan berpamitan kepada Bapak Nyoman Puja dan istri, secara terhormat. Setelah pengunduran dirinya disetujui, ia dan istri siap menata hidup lagi dengan cara yang mereka yakini akan berjalan sukses kedepannya.

Pilihannya untuk berkarya bersama istri, bukan dengan alasan sederhana, Made Luntara meyakini pintu kesuksesan justru lebih terbuka lebar, saat Sang Istri ada disamping mengiringi usahanya. Dan benar saja, keyakinan tersebut disambut oleh restu semesta yang mempermudah dan memperlancar dalam bertransaksi dengan customer, selama enam bulan di awal membuka usaha.

Dibalik kerja keras pasangan suami istri tersebut, memang harus ada yang dikorbankan yakni waktu dan melawan kantuk yang tak tertahankan. Namun sesekali mereka saling melemparkan lelucon, agar lelah di badan tak terasa melekat sepenuhnya. Akhirnya dengan keikhlasan yang ada di hati masing-masing, serta keringat dan energi mereka yang telah ditumpahkan, mereka pun mendapatkan hasil yang memuaskan. Hingga setelah berjalan cukup stabil, berkat kepercayaan masyarakat dan atasannya yang selalu men-support, Made Luntara mulai mempekerjakan satu orang karyawan.

Diakui oleh Made Luntara, sempat timbul rasa, seolah berkhianat kepada tempat bekerja sebelumnya, karena ia membangun usaha “PT. Mesari Adi Harsa/UD. Mesari” yang bergerak di bidang yang tidak jauh dari perusahaan sebelumnya. Ibaratkan tak mau jadi “Kacang yang lupa akan kulitnya”, seperti itu pula ia terapkan dengan tetap menjalin hubungan yang profesional dan menjadikan tempat usaha terdahulu sebagai mentor perusahaannya yang beralamat di Jalan Jabejero I No. 6, Br. Jabejero, Desa Jagapati, Abiansemal-Badung.

Setiap Individu Memiliki Masa Suksesnya
Definisi kesuksesan bagi masing-masing orang mungkin berbeda, begitu pula waktu dalam menggapai kesuksesan yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada kita. Sebelumnya dalam perjalanan hidup, kita disuguhkan sebuah “persimpangan jalan” yang memberikan kita kesempatan untuk memilih nasib kedepannya. Dari sanalah dibutuhkan kebijakan yang tepat dalam mengambil keputusan.

Sepert itulah, Made Luntara menarik kesimpulan atas kesuksesan yang ia raih saat ini. Bahwa Tuhan selalu memberikan mahluk ciptaanNYA berbagai pilihan hidup. Bagaimana cara memilihnya, Made Luntara tak memiliki jawaban pasti, ia hanya berpesan, pastikan apa pun yang kita fokuskan saat ini, landasilah dengan kebenaran dan tak peduli apapun yang terjadi, tetaplah menjadi orang baik di mata Tuhan. Niscaya, Tuhan dan semesta akan selalu menuntun hati kita untuk memilh jalan terbaik menuju kesuksesan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *