Benang Merah Jambudwipa, Jawadwipa, dan Balidwipa

Benang Merah Jambudwipa, Jawadwipa, dan Balidwipa

Hubungan erat Indonesia dengan India telah berlangsung sejak berabad-abad lampau. Tentu saja, hubungan itu terjadi karena kedekatan geografis dan kesamaan iklim. Keuntungan itu tentu saja dimanfaatkan betul oleh para pengelana -kebetulan yang banyak dikenal di antaranya adalah para brahmana. Teks pertama yang memperlihatkan hubungan itu adalah Ramayana dengan disebutkannya istilah ‘Yawadwipa (Pulau Jawa)’ -belum jelas juga yang disebut sebagai Yawadwipa, apakah hanya pulau Jawa yang sekarang atau pulau Jawa yang masih menyatu dengan pulau Sumatra sebelum gunung Krakatau meletus dan menyebabkan gempa bumi dahsyat di zaman purba dan membentuk selat Sunda.

Puncak hubungan keduanya kita bersama ketahui terjadi melalui pengaruh epos Ramayana dan Mahabharata yang masih populer hingga hari ini. Fragmen-fragmen cerita kedua epos yang diklaim berasal dari India ini mengisi sebagian besar kisah-kisah yang diramu dalam pagelaran seni pertunjukan maupun seni rupa. Akhirnya, kebudayaan klasik dan adiluhung terutama di Jawa dan Bali banyak mengandung esensiesensi yang diambil dari epos Ramayana dan Mahabharata.
Selain itu, kesamaan-kesamaan dalam wujud arketipe kebudayaan dapat dilacak di ketiga dwipa. Arketipe dimaksud adalah mistisisme Tantris, yaitu kehadiran Siwa dan Sakti dalam konsep pemujaan di ketiga wilayah seperti penjelasan Victor M. Fic. Tantrisme yang telah menjadi arketipe inilah yang menjadi benang merah yang merajut secara terus menerus hubungan kebudayaan ketiga wilayah.

Selain itu, Claire Holt (2000) menjelaskan bahwa hubungan erat itu telah terjadi sejak awal abad-abad tarikh Masehi yang ditunjukkan dengan kehadiran kerajaan-kerajaan H indu kecil menyebut kata ‘hindu’ dapat ditafsirkan dalam pemahaman sekarang merujuk langsung kepada India. Lebih jelasnya, ciri utama hubungan Nusantara dengan India diperlihatkan dengan banyaknya kata-kata berbahasa Pallawa dalam prasasti-prasasti dari zaman Kutai, Tarumanegara, dan Kalingga dan Sanskerta diserap ke dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia yang telah dinaturalisasi. Tentu saja, data-data yang digunakan merujuk kepada periodisasi yang terbatas, seperti data bahasa dan tinggalan arkeologis yang dapat terlacak secara empiris. Lalu, bagaimana hubungan Jambudwipa, Jawadwipa, dan Balidwipa sebelum itu? Inilah pertanyaan besar yang perlu dijawab.

Banyak téks memperlihatkan benang merah antara Jambudwipa, Jawadwipa, dan Balidwipa terutama dengan kehadiran kata-kata serapan berbahasa Sanskerta dalam kesusastraan di Jawa dan Bali. Di antara teksteks itu, adalah teks Tantu Pagelaran (Panggelaran) yang paling tegas memperlihatkan benang merah itu. Walaupun menurut Sedyawati teks ini tergolong baru, namun dapat menggambarkan bagaimana puncak Gunung Mahameru di India telah dipindahkan ke Jawa menjadi gunung Semeru. Kendati demikian, tafsir-tafsir terhadap teks ini banyak mengarah kepada upaya hegemoni India (Indianisasi) terhadap Nusantara, terutama Jawa dan Bali, namun berdasarkan teks ini dapat dipahami bahwa ketiga wilayah sama-sama memiliki shared culture berupa kebudayaan gunung (meru). Atau, jangan-jangan benar gunung (puncak peradaban) di India telah dipindahkan ke Jawa dan Bali seperti kesan Tagore ketika berkunjung dalam sebuah suratnya, “We crossed over to Bali; we saw the ever youthful shape of the earth. Here the past centuries are all present”. Mahameru yang purba di India telah bereinkarnasi menjadi Semeru, menunj ukkan kemudaannya. Peradaban kuno India (the past centuries) semuanya ditemukan (all present) Tagore terutama di Jawa dan Bali dalam wujud yang lebih muda.

Jika ditelaah secara lebih mendalam penjelasan Holt bahwa Tantrisme telah mempersatukan kebudayaan -terutama Hindu dan Buddha yang berserteru di India namun bersatu di Nusantara walaupun pada akhirnya keduanya berbeda tujuan-dan teks Tantu Pagelaran yang menjelaskan meru sebagai sthana dewa Siwa, kiblat pemujaan Hindu, maka dapat dipahami bahwa peradaban India, Jawa, dan Bali sama-sama mendambakan “puncak” seperti dalam Geguritan Sucita, “jenek ring meru sarira ”. Namun dalam Hindu, puncak itu bukanlah tujuan utama, adalah kembali dari keadaan sunyi yang termaksud dalam uj aran, “uwus limpad sakeng sunyata” dalam Arjuna Wiwaha dan menjadi poin penting dalam menjelaskan peradaban Hindu di India, J awa, dan Bali. Seperti penjelasan Victor M. Fic bahwa Tantrisme Hindu yang lebih condongmengarah kepada penciptaan sebuah dunia baru, yaitu kehidupan baru yang lebih sejahtera. Namun dapat dipahami bahwa kendati dunianya baru, tapi arketipenya tetap mengendap, ada yang mencair dan ada yang memfosil; yang mencair menjadi kebudayaan atau kesenian, yang memfosil menjadi agama.

Belakangan banyak sekali sanggahan yang menganggap peradaban kuno dunia justru berasal dari Indonesia. Pandangan bahwa peradaban Hindu berasal dari India mulai diragukan. Kata “nesia” dalam Indonesia berasal dari ‘nesos’ dalam bahasa Yunani yang berarti pulau, lebih tepatnya “tanah yang tenggelam’, seperti penjelasan Plato. Definisi yang sama juga dapat diberlakukan terhadap kata ‘dwipa ’, yang dapat dipahami sebagai daratan-daratan bak surga yang sekarang tenggelam. Definisi-definisi ini mendukung temuan Santos (1997) yang menegaskan bahwa benua Atlantis yang hilang adalah Indonesia. Temuan ini juga menjelaskan bahwa arketipe kebudayaan dunia berasal dari Indonesia yang lalu menyebar ke seluruh dunia akibat gempa dahsyat di zaman purba. Boleh jadi, inilah yang menyebabkan penduduk dunia, termasuk orang India, berbondongbondong datang ke Indonesia untuk melihat atraksi-atraksi budaya. Mereka (penduduk dunia) boleh jadi merasa seperti bemostalgia dengan kebudayaan purba nenek moyang mereka namun dalam kemasan yang lebih baru, seperti diungkapkan Tagore di atas; ada shared knowledge yang mengendap.

Benang merah itu tentu saja dapat putus jika pemintalnya tidak terampil dan alat pintalnya tidak bekerja dengan baik. Namun sebelum keduanya ada, pohon kapas yang subur dan menghasilkan kapas bermutu tentu saja menjadi penentu utama di samping tanah yang subur untuk menumbuhkan pohon kapas itu. Pohon kapas yang subur itulah budaya lokal yang selalu bersemi dan berbuah. Ia harus senantiasa ditanam dan dipupuk agar kain peradaban dunia yang agung (Hindu) dapat selalu dirajut walaupun pada akhirnya menjadi berbagai jenis pakaian yang berbeda-beda.

Oleh Sindhu Gitananda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *