Jangan Terlarut Saat Senang, Jangan Pula Terlarut dalam Keterpurukan; Hadapi dengan Tegar dan Tetap Berusaha

Jangan Terlarut Saat Senang, Jangan Pula Terlarut dalam Keterpurukan; Hadapi dengan Tegar dan Tetap Berusaha

I Made Suastika – UD. Tiga R Grosir

Tamatan dari Pendidikan Guru Olahraga pada tahun 1989, menjadi sebuah kebanggaan bagi Made Suastika saat itu dan pandangan masyarakat di lingkungannya. Namun saat harus mengikuti prosedur untuk melanjutkan di PGSD, ia tidak memiliki biaya, kemudian diputuskan untuk ke Denpasar, untuk langsung bekerja. Tak membutuhkan waktu lama untuk Made Suastika memperoleh pekerjaan, ia mendapat tawaran pekerjaan sebagai pool attendant di kolam renang Rama Palace dan sebuah hotel bintang tiga di Denpasar pada tahun 1990.

Bekerja di ranah pariwisata, membuat Made Suastika berkeinginan untuk meningkatkan skill-nya dalam bahasa asing, terutama mengikuti kursus bahasa Jepang. Setelah fasih dalam berkomunikasi, lagi – lagi tanpa perlu syarat ijazah dan sebagainya, ia diterima bekerja sebagai bellboy di sebuah hotel pada tahun 1992.

Seraya sebagai bellboy, Made Suastika tak lelah meningkatkan kualitasnya dengan mencoba mencari tahu soal lisensi sebagai pemandu wisata. Di suatu perusahaan agen yang berjaya saat itu, ia mendapat informasi bahwa ia harus fokus untuk belajar menjadi pemandu wisata dan meninggalkan pekerjaannya di hotel. Karena tidak memiliki kesiapan untuk meninggalkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya, diputuskan akhirnya ia tetap bekerja. Hingga di tahun 1996, ia menyatakan kesiapannya untuk berhenti di hotel dan bekerja di sebuah perusahaan agen yang khusus meng-handle wisatawan yang hobi surfing.

Karena gaji yang diperoleh tidak seberapa, Made Suastika memutuskan pindah ke group agen yang lebih besar, ia pun diterima dari ratusan pelamar, pada tahun 2000an. Namun kondisi pariwisata yang mengalami keterpurukan, akibat bom Bali pada tahun 2002, membuat ia mulai berpikir untuk mulai mempersiapkan sumber finansial dari bidang yang berbeda.

Dengan mengontrak sebuah lokasi selama dua tahun, Made Suastika membuka toko buah yang bekerjasama dengan rekannya asal Tabanan yang memiliki usaha serupa. Setelah menjalani usaha tersebut, nyatanya produk yang ia jual, tak bisa ia andalkan sepenuhnya, karena masyarakat Bali sebagian besar membeli buah hanya saat hari raya saja, tidak secara continue. Kembali ia pun mencari ide untuk usaha lainnya, yang lebih dibutuhkan dan dicari oleh masyarakat setiap harinya.

Dari Toko Buah, Mantap Sebagai Penyedia Bahan Pokok
Akhirnya ditemukan ide untuk mengisi toko buahnya sedikit demi sedikit, dengan kebutuhan sembako. Awalnya dari menjual beras, setelah dirasa ramai dan menguntungkan, ia semakin menseriusi usaha tersebut dengan mencari lokasi yang lebih strategis, untuk membuka toko sembako dengan produk yang semakin lengkap, tepatnya di Jalan Glogor Carik, Banjar Gunung, Pemogan, Denpasar.

Persaingan antar toko sembako di masa itu tak meninggalkan kesan yang berarti untuk Made Suastika, sehingga tidak sedikit masyarakat yang memenuhi kebutuhan mereka dengan bertransaksi di dalam tokonya. Ditambah ada yang menitipkan dagangan lima macam nasi di tokonya, yang membuat tokonya yang ia beri nama “Toko Resha” semakin beralasan untuk ramai dikunjungi.

Pria asal Singaraja, anak ke enam dari tujuh bersaudara ini lahir dari orangtua penandu, sudah jelas bagaimana keadaan ekonomi keluarganya saat itu, sangat sederhana. Namun anak kedua dari tujuh bersaudara ini selalu mendapat dukungan dari orangtua, khususnya dari ayah agar ia memiliki bekal ilmu untuk masa depan, tak hanya menjadi petani seperti ayahnya. Mendengar pesan tersebut, ia pun berinisiatif untuk bekerja sambil bersekolah, saat akan memasuki bangku SMA.

Setelah tamat SMA, takdir harus membawa ayahnya pergi untuk selamanya, jelas peristiwa tersebut membuat Made Suastika dan keluarga merasa terpuruk. Namun bagaimana pun hidup harus berlanjut, terlebih mewujudkan harapan Sang Ayah, agar anak – anaknya tetap menempuh pendidikan.

Nasib baik Made Suastika untuk melanjutkan kuliah di UNWAR (Universitas Warmadewa) kemudian di-support biaya pendidikan oleh kakaknya yang telah lebih dulu bekerja. Dilanjutkan dengan sebagai karyawan di sebuah hotel, yang banyak mengangkat inspirasi dari ayah yang begitu disiplin beliau dalam bekerja. Secara tidak langsung, ia pun meniru kebiasaan baik tersebut dalam pekerjaannya di hotel dan hanya dalam kurun waktu enam bulan bekerja, ia sudah mampu menarik perhatian manajemen hotel, sebagai karyawan teladan.

Sebagai ketua guide dalam sebuah travel agent yaitu PT. JTB Indonesia, Made Suastika tak jarang berbagi pengalamannya selama bekerja di dunia pariwisata. Ia telah merasakan masa – masa keemasan pariwisata dan peristiwa yang menyebabkan pariwisata Bali mengalami kemerosotan. Dari kejadian tersebut, ia banyak belajar bahwa sebagai pekerja pariwisata, jangan mudah terlena saat kita berada di masa kejayaan. Dari penghasilan yang didapat mulailah disisihkan untuk mengembangkan sumber penghasilan selain di pariwisata.

Karena kita tidak pernah tahu, tantangan seperti apa yang akan kita temui kedepannya. Seperti di kondisi pandemi saat ini, bagi yang tidak mempersiapkan diri, tentu akan merasakan tantangan yang luar biasa, dalam hal ini, satu – satunya pilihan ialah jangan berhenti berjuang dan bangkit kembali. Seperti pepatah mengatakan “Hidup itu adalah perjuangan”, selama kita masih hidup di dunia, selama itu pula kita sebagai manusia akan terus menemukan tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi dengan hati yang lapang dan keikhlasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *