Bangkit Dari Keterpurukan dan Sukses Membangun Berbagai Usaha

Bangkit Dari Keterpurukan dan Sukses Membangun Berbagai Usaha

Memulai usaha memang memberikan keuntungan yang besar bagi para pelakunya. Namun untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan upaya yang besar pula. Hal ini yang membuat orang-orang terkadang sudah mundur dahulu sebelum memulai usaha. Modal yang besar, perjuangan yang tidak mudah, hasil yang tidak menentu dan lain sebagainya menjadi penyebabnya.

Padahal seperti yang diketahui banyak orang, beberapa pemilik usaha yang sudah besar sekarang ini memulai usaha dari tempat yang kecil dengan modal seadanya. Bahkan sebagian besar memulai usaha dari nol. Memang ada beberapa risiko yang akan dihadapi di awal membangun bisnis. Akan tetapi dengan kerja keras, semuanya bisa terbayarkan dengan usaha yang berkembang dan keuntungan yang terus meningkat. Seperti seseorang pengusaha wanita asal tanah dewata bernama Ni Nyoman Kartini yang kini sukses dengan berbagai bisnisnya, diantaranya ada bisnis akomodasi bernama ‘Vista Hotel’ hingga sekarang melebarkan sayap bisnisnya pada sektor penyedia bahan bangunan yang bernama ‘UD. Srikanti’. Siapa sangka kesuksesan dan bisnis yang menggurita yang dimilikinya saat ini dimulainya dengan tertatih – tatih dan penuh jatuh bangun untuk menyusun anak tangga yang dapat menghantarkannya menuju puncak kesuksesan.

Terlahir dari keluarga pedagang yang hidup dengan sangat sederhana, bahkan jauh dari kata mewah, membuat hari – hari masa kecil Ni Nyoman Kartini diisi dengan aktivitas – aktivitas perdagangan yang dapat membantu orangtuanya untuk memutar roda perekonomian keluarganya, semua itu dilakukannya hanya untuk dapat membantu memenuhi hajat hidup keluarganya.

Baca Juga : Menemukan Passion Sekaligus Berdonasi Lewat Usaha

Bayangkan, sejak masih duduk di kelas 2 SD Ni Nyoman Kartini sudah mulai berdagang berjualan pisang goreng yang ia jajakan keliling dengan berjalan kaki, ia sudah melakukan aktivitas itu saat anak-anak seusianya sedang girang bermain dengan teman sejawat. Maka tak jarang, saat menjajakan dagangannya ia sering diolok-olok oleh teman-temannya, tapi semua itu ia terima dengan lapang dada tanpa sedikit pun menaruh dendam.

Kehidupannya yang sangat keras itu membuat mentalnya sedari kecil telah ditempa sekuat baja. Didikan orangtuanya memanglah keras, ia diajarkan sedari kecil untuk bisa hidup mandiri, meski sedari kecil terus dihadapkan dengan pekerjaaan yang berat, tak pernah sekalipun Ni Nyoman Kartini mengeluh dengan apa yang dijalaninya, terlebih pada tahun 1965 ia harus tabah karena kehilangan orangtua yang sangat ia cintai. Perjalan kehidupan Ni Nyoman Kartini pun dirasa semakin pelik. Namun baginya itu semua adalah salah satu lembaran kehidupan yang harus diselesaikan.

Alhasil siapa sangka, dari suri tauladan dan didikan keras orangtuanya itulah ia dapat tahu seluk beluk dunia perdagangan. Dan sebuah kehilangan orang terkasihnya menjadi titik terendah yang membakar gelora semangatnya untuk terus berusaha dengan gigih, di mana ada satu pesan orangtuanya yang selalu ia ingat “Bahwa dalam menjalankan sebuah bisnis sekecil apapun itu, meski sering dipandang sebelah mata, selagi itu halal dan dapat mencukupi, maka teruslah berusaha dan mensyukurinya.”

Hari demi hari dilaluinya dengan setapak demi setapak pasti, menyisihkan uang – uang kecil yang di tabung dari hasil berjualan. Hingga akhirnya Ni Nyoman Kartini menikah, dan dari pernikahan inilah lembaran baru hidupnya dimulai, yang tentu dengan rintangan yang berbeda lagi.

Meskipun sudah bersuami, hal itu tak lantas membuat sosok Ni Nyoman Kartini lantas berpangku tangan saja. Karena seumur hidupnya telah dihabiskan dengan aktivitas kerja keras dalam bisnis perdagangan, maka mental bisnisnya telah tajam diasah oleh pengalaman, sehingga hal itu membuatnya jeli melihat peluang-peluang bisnis di sekitar. Namun kali ini yang pasti Ni Nyoman Kartini merasa dirinya harus membuat lompatan yang besar untuk membuat bisnis yang tentunya lebih besar. Beruntung, dari relasi-relasi yang ia dapatkan selama merintis usaha dagang kecil-kecilan, ia pun di bantu dari salah satu relasinya yang mempercayakan sejumlah modal tambahan kepadanya untuk dikembangkan.

Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Ni Nyoman Kartini dan suami. Mereka pun langsung merancang perencanaan bisnis yang matang dengan memulai bisnis pengolahan dedak dan berjualan beras yang pada awalnya ia jajakan hasil produksinya secara door to door, karena sedari kecil sudah terbiasa dengan ritme pekerjaan seperti itu, maka sebagai pebisnis Ni Nyoman Kartini tidak pernah merasa minder atau pun malu saat lingkungan sosial kembali menyindir dan mengolok-ngoloknya dari belakang.

Baginya biarlah seperti pribahasa “Saat Anjing Mengonggong Khafilah Berlalu” Saat Ni Nyoman Kartini sedang habis – habisan bekerja keras membangun kerajaan bisnis nya, orang – orang masih sibuk membicarakannya, ironis memang. Tapi dari cerita ini mungkin kita dapat memetik satu hal yang bermakna, bahwa setiap orang mempunyai visi dan prinsip hidup masing – masing, maka saat ia sedang menjalankan semua itu dengan caranya, hendaklah kita sebagai insan manusia tak perlu untuk mengolok-olok, lebih lagi mengejek apa yang seseorang sedang kerjakan, apalagi yang ia kerjakan itu adalah pekerjaan halal yang seratus persen dari hasil keringat yang menetes tak terhitung jumlahnya. Maka, hal ini seharusnya bisa menjadi pelajaran dan tamparan keras kepada orang-orang yang penggosip, yang tak berkaca pada dirinya sendiri yang lebih banyak berkoar dari pada melakukan sesuatu yang penting untuk masa depannya.

Sukses dengan bisnis produksi dedak dan padinya, tak membuat Ni Nyoman Kartini cepat berpuas hati. Ia dan sang suami pun kembali melebarkan sayapnya dengan membangun sebuah bisnis penyedia bahan bangunan yang bernama ‘UD. Srikanti’. Yang juga ketika diingat-ingat dulu saat merintis bisnis ini ia menjual produk semen di tokonya dengan cara yang sama ’Door to Door’ dari toko ke toko, mungkin hal itu dulu sangat efektif dan relevan untuk dijalankan karena belum tersedianya dunia internet dan telekomunikasi seperti sekarang.

Maka dengan cara itu perlahan demi perlahan bisnisnya mulai menuai hasil dan mendapat pelanggan demi pelanggan dari mulut ke mulut. Hingga kerja keras Ni Nyoman Kartini kembali membuahkan hasil, yang kali ini ia ingin membagi kesuksesannya itu agar dapat bermanfaat bagi lingkungan sekitar dengan membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Salah satu pencapaian yang hingga saat ini tidak pernah terpikirkan oleh Ni Nyoman Kartini.

Baca Juga : Memotivasi Diri Untuk Terus Belajar dan Terbuka Pada Dunia Baru

Perjuangan Ni Nyoman Kartini dalam mengembangkan usahanya memang tidaklah mudah, penuh lika-liku dan asam pahit saat merintisnya. Tapi memang, dengan kesungguhan, tekad yang kuat dan kerja keras, maka hasil yang baik juga pasti akan mengikuti. Alhasil saat ini Ni Nyoman Kartini sudah bisa menuntaskan pendidikan ke tiga anaknya, lebih lagi sekarang ia dapat menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya untuk turut memulai bisnisnya sendiri untuk mandiri dan berdikari.

Jika diingat – ingat lagi, suri tauladan dari orangtuanya kini telah sukses ia wariskan kembali kepada anak-anaknya. Hingga saat ini rasa syukur akan pemberian Tuhan tak henti-hentinya ia panjatkan, karena Ni Nyoman Kartini sadar bagaimanapun atau sekeras apapun usaha manusia hanyalah 25% dari seluruh rangkaian proses terkabulnya suatu keinginan, atau dengan kata lain hanya ¼ bagian saja. Maka sudah barang tentu bahwa sisa ke 75% nya adalah berkat kekuatan sebuah doa seorang insan kepada Tuhannya.

Ni Nyoman Kartini pun berpesan kepada generasi muda “selagi diri masih sehat, hendaklah kita harus bekerja keras, demi keluarga dan orang – orang tercinta. Dan yang paling penting jangan pernah malu untuk memulai bisnis sekecil apapun itu, karena jika kita lakukan dengan sungguh – sungguh maka hasilnya akan kelihatan”.

Mengambil keputusan untuk memulai usaha memang mempunyai risiko yang cukup besar. Namun jika dari awal seseorang sudah merasa takut gagal, bisa jadi usaha kedepannya pun akan gagal. Seseorang harus bisa meyakinkan diri sendiri dan buang jauh – jauh segala ketakutan mengenai kegagalan.

Kegagalan memang bisa saja terjadi, namun seorang pebisnis sejati pasti akan mampu bangkit dan bisa belajar dari kegagalan tersebut. Hal terpenting adalah jangan mencoba untuk mundur ketika harapan tidak berjalan sesuai dengan rencana. Pahit memang, tapi dengan itu seorang pebisnis dapat memulai kembali dengan pengalaman baru yang tentunya akan lebih cermat ketika merencanakan sesuatu dan mencari peluang yang ada.

Dari perjalanan panjang Ni Nyoman Kartini mencapai puncak kesuksesannya, kita dapat memetik pelajaran bahwa usaha, doa dan kerja keras merupakan elemen-elemen yang tidak dapat dipisahkan bagi seorang insan di mana pun mereka berada dalam menapaki karir suksesnya. Dan semoga bagi pembaca yang sekarang masih belum bisa bergerak dari zona nyaman agar tergerak hatinya untuk membuat perencanaan dan langkah – langakh besar untuk memulai membangun sebuah impiannya masing – masing. Dan pada akhirnya, semoga kesehatan, kemudahan dan kelancaran seseorang dalam mencari rezeki yang halal dan berkah, akan mencapai titik di mana kebahagian akan menjadi teman dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.