Berproses dari Kesulitan Untuk Menjadi Pemimpin Masa Depan

Berproses dari Kesulitan Untuk Menjadi Pemimpin Masa Depan

Ir. Made Durya yang lahir dari desa, tepatnya Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung ini, ternyata memiliki latar belakang yang bertolak jauh dari posisinya saat ini. Ia merupakan lulusan tahun 1986 dari jurusan budidaya pertanian, yang tak kunjung memperoleh pekerjaan, padahal sudah hampir banyak instansi yang berhubungan dengan pertanian ia lamar. Situasi yang sudah sulit pun semakin sulit dengan kondisinya sebagai pengangguran. Akhirnya tanpa pikir panjang, di mana ada lowongan pekerjaan terbuka, ia masukan perlengkapan surat lamarannya, hingga ia ‘terjerumus’ di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan.

Di sebuah perusahaan asuransi, Made Durya memasuki dunia kerja untuk pertama kalinya. Ia ditantang untuk menawarkan produk asuransi, di mana saat itu jasa ini masih belum sepopuler seperti sekarang. Ia pun mulai bergerak menawarkan kepada orang – orang terdekat, sehingga singkat cerita, perusahaan yang melihat kinerjanya sanggup memenuhi target, ia diperkenankan untuk menaikan jabatannya sebagai pimpinan salah satu anak perusahaan yang ditawarkan. Sepertinya karena sudah terlanjur nyaman dan cinta dengan bidang keuangan, ia memilih berkarir di BPR.

Lokasi bank yang dimaksud perusahaan, justru tidak berada di Bali, melainkan di kota Makassar. Berangkatlah Made Durya pada tahun 1988, memenuhi tanggung jawab atas pilihannya tersebut. Tanpa modal pengetahuan dan pengalaman, sebagai fresh graduate, ia sempat kaget karena gedung bank tersebut masih berupa ruko yang kosong. Jadi benar-benar memulai dari nol, terlebih di daerah yang masih belum mengenal relasi sama sekali. Ia harus mulai merekrut karyawan dan memberikan pelatihan, hingga resmi beroperasi dengan pembentukan manajemen yang awalnya masih seadanya, kemudian kian memiliki terbagi beberapa posisi di masing-masing divisi.

Baca Juga : Menepis Keraguan Untuk Menyongsong Masa Depan yang Gemilang

Tahun 1989, Made Durya berpeluang untuk menaikan karirnya yang sebelumnya pada posisi kepala kantor pelayanan untuk kemudian dipromosikan menjadi kepala bagian pada tahun 1989-1990. Hanya selama satu tahun menjabat, ia dipercaya sebagai wakil pada tahun 1990-1996. Pada Tahun 1990 BPR tempat ia bekerja dinaikan level izin kelasnya sebagai bank umum bernama Bank Aken, kemudian di tahun 1996 Made Durya berangkat dari Makassar ke Surabaya untuk dipromosikan menjadi kepala cabang disana. Namun peristiwa mencengangkan krisis moneter pada tahun 1998, membuat Bank Aken terpaksa ditutup. Made Durya pun kebingungan apa yang bisa ia lakukan selanjutnya saat itu. Di sela-sela peristiwa tersebut, ia sempat mengabdi disebuah jasa keuangan milik negara, yang sekarang berevolusi sebagai OJK, untuk membereskan aset – aset Bank Aken selama tiga tahun.

Lepas dari posisi yang sudah memberikan kenyaman dari segi finansial, Made Durya harus ikhlas menghadapi karirnya runtuh begitu saja, ia kemudian mencoba bangkit kembali dengan berjualan pakaian di Surabaya, termasuk pakaian muslim, namun hanya bertahan selama tiga tahun. Kebingungan semakin merajai pikirannya dan berkali – kali harus pulang pergi Surabaya-Bali, berharap menemukan pencerahan berupa peluang pekerjaan untuk menafkahi istri dan anak yang masih berusia empat tahun. Akhirnya, karena tidak kuasa melihat suami bolak balik mencari rezeki, diputuskan untuk pulang ke Bali oleh istri. Sesampai di Bali, belum sempat mengeluarkan barang – barang yang dibawa dari Surabaya, Made Durya dihubungi oleh mantan seniornya ditawari pekerjaan di multifinance, padahal ia dan istri memiliki rencana untuk membuka usaha warung. Langsung saja ia menerima tawaran tersebut, tanpa ragu sejak tahun 2004-2018.

Sebagai perusahaan yang memperoleh sumber dana dari bank, perusahaan multifinance yang dikelolanya belum memenuhi syarat yang telah dibuat oleh bank, untuk wajib dipenuhi. Pemilik perusahaan multifinance berusaha untuk mencari investor untuk mencukupi kebutuhan modal, sempat ada investor yang menaruh modalnya di perusahaan multifinance-nya, namun tidak bertahan lama modalnya ditarik kembali. Kemudian beberapa kantor cabang ditutup tidak terkecuali kantor cabang yang dipimpin oleh Made Durya. Karena kebingunan pekerjaan apa yang harus dikerjakan, Made Durya dengan rekannya Dewa Anom Tagel, S.H memutuskan untuk mendirikan sebuah koperasi.

Dari masih bertempat di garasi, tiga tahun kemudian karena ruangan sudah tidak lagi mencukupi untuk beraktifitas, koperasi kemudian pindah dan membuka kantor di lokasi yang lebih memadai, di Jl. Nangka Selatan No.133, Dangin Puri Kaja, Kec. Denpasar Utara, pada tahun 2016. Menemui masa pandemi, bersama 34 orang karyawan yang ditempatkan di empat kantor, meliputi Kerobokan, Nusa Dua dan dua kantor di Denpasar berupaya saling memberi semangat dan merangkul antara satu sama lain, “Koperasi Mapan” masih bertumbuh sampai saat ini.

Baca Juga : Pendidikan dan Tindakan yang Berbuah Kesuksesan

Sama-Sama Harus Merasakan Susah
Lahir pada 23 Desember 1961, Made Durya dibesarkan oleh orangtua sebagai petani yang pekerja keras, namun tak memperlihatkan hasil yang signifikan dalam menghidupkan ekonomi keluarga. Karena sibuknya orangtua bekerja, ia jarang menikmati yang namanya berkumpul bersama. Namun suatu hari ia ingat sekali petuah dari orangtuanya, yang bisa dikatakan pengalaman pertama sekaligus terakhir orangtua berpesan. Ia diminta untuk giat belajar, “Bila sudah tamat dengan ijazah yang lebih tinggi, namun tidak mendapat pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan terakhirnya, jangan gengsi bisa menggunakan ijazah pendidikan sebelumnya, yang penting bisa bekerja” ucap beliau. Dari hanya berbekal dukungan moril tersebut, Made Durya tumbuh menjadi pribadi yang sangat menghargai proses kehidupan, terutama dalam hal karir. Terpenting jalani prosesnya dengan tekun, di dalam proses tersebutlah kita ditempa dan banyak belajar agar menjadi pribadi yang lebih berkembang.

Tak berbeda jauh dengan rekan kerjanya Bapak Dewa Anom Tagel, ia pun adalah perantau dari Bangli ke Denpasar, demi mengubah nasib yang juga tak jauh dari kata sulit, di mana ayahnya menafkahi keluarga dengan bertani sekaligus tukang dan ibu, bekerja sebagai pedagang kecil. Tamat SMA, ia bekerja di sebuah perusahaan kelontong sebagai salesman, sambil melanjutkan kuliah di jurusan hukum. Sampai akhirnya naik jabatan pada posisi manager, ia ditawarkan untuk dipindahkan ke Kalimantan. Namun karena sudah berkeluarga, istri juga sudah memiliki pekerjaan tetap, diputuskan untuk mundur dari perusahaan pada tahun 2000.

Sebelum perkenalannya dengan Made Durya, Dewa Anom Tagel sempat digadang – gadangkan oleh temannya untuk maju sebagai anggota DPR dari Partai PKP (Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia), namun gagal, padahal ia sudah menjual aset rumah dan mobil. Sampai ia bertemu dengan Made Durya, yang posisinya sebagai kepala cabang multifinance saat itu dan ia harus merintis karirnya kembali, sebagai marketing. Singkat cerita, multifinance yang tak mengalami progress yang nyata, keduanya kemudian setuju untuk mendirikan koperasi dan Dewa Anom Tagel sebagai manager di Koperasi Mapan yang beralamat di Jalan Nangka Selatan.

Kepercayaan masyarakat dalam mengelola keuangan mereka di koperasi yang beranggotakan 2.200 orang ini, masih dirasakan antusiasnya sampai kondisi pandemi ini, meski tak seramai situasi normal. Bahkan diakui Dewa Anom Tagel, koperasi sempat menurunkan bunga sementara, bagi anggota yang ingin membuka deposito hingga miliaran rupiah, karena ekonomi yang belum stabil. Berkat besarnya kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada Koperasi Mapan, produk – produk terbaik pun semakin dikembangkan oleh kinerja sumber daya manusia yang sangat berpengalaman di dunia jasa keuangan, untuk berpartisipasi membangun sektor ekonomi kerakyatan, usaha kecil, sektor perdagangan, membuka lapangan kerja, mensejahtrakan anggota Koperasi Mapan dan mencetak calon-calon pemimpin Koperasi Mapan selanjutnya yang berintegritas untuk membawa koperasi lebih maju di era yang semakin maju akan teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.