Berwirausaha Sembari Menyelaraskan Diri Dengan Semesta Melalui “Ngayah”

Berwirausaha Sembari Menyelaraskan Diri Dengan Semesta Melalui “Ngayah”

Umat Hindu di Bali memiliki serangkaian kegiatan agama, yang wajib dilaksanakan, agar kehidupan di dunia berjalan secara seimbang baik sekala maupun niskala, meliputi upacara yang bertujuan penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa, leluhur, guru/orang suci, kesejahteraan sesama manusia dan persembahan suci yang ditujukan kepada bhuta kala atau kekuatan yang ada di alam yang bersifat negatif, yang perlu dilebur agar kembali kesifat positif.

Dalam mengadakan upacara ini, tentu juga perlu diadaptasikan dengan kebutuhan manusia untuk bekerja, agar lebih praktis khususnya dalam dekorasi, tak sedikit peluang ini kemudian dijadikan sebuah usaha, salah satunya I Wayan Rawa, ia mendirikan “Toko Rawa” yang menyediakan penyewaan atau pembelian dekorasi, sebagai solusi menjawab kehidupan individu yang semakin modern, namun tetap sakral dalam menyelenggarakan upacara agama.

Terkadang saat manusia memiliki keinginan sederhana, yakni cukup memiliki pekerjaan yang layak, namun Sang Pencipta berkehendak, bahwa manusia tersebut pantas untuk dianugerahkan sesuatu yang lebih daripada yang ia inginkan, entah apakah karena karma baik yang telah ditanam atau tak mengenal putus asa dalam bekerja. Wayan Rawa, pria kelahiran Lodtunduh ini, bisa dikatakan memiliki dua hal tersebut. Ia mengungkapkan hanya hobi dalam bekerja, tak ada maksud sebagai wirausaha dan juga diharapkan apa yang ia kerjakan, mampu mempersembahkan yang terbaik bagi masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Istimewanya ide untuk mendukung penyediaan dekorasi upacara, justru tak disangka akan mengalirkan rezeki untuk keluarga, yang seiring berjalannya waktu, melahirkan jiwa wirausaha dalam dirinya.

Baca Juga : Ramah Dalam Pelayanan dan Standarisasi Sistem Teknologi Informasi

Pilihannya untuk bergerak di usaha dekorasi upacara keagamaan, serta menyediakan pernak – pernik dan pakaian tari. Selain karena kebutuhan masyarakat Hindu Bali, ia juga memiliki kepuasan tersendiri, saat mampu menghasilkan suatu karya seni yang memiliki kualitas terbaik. Untuk harga, toko yang beralamat di Jalan Gunung Abang, Lodsema, Lodtunduh, Ubud, memiliki harga yang bervariatif dan masuk akal dengan bahan yang digunakan. Toko Rawa selain membuka secara offline setiap hari dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, juga tersedia di marketplace, jadi akan semakin memudahkan masyarakat Hindu di mana saja berada, untuk memenuhi kebutuhan dekorasi, maupun pernak-pernik yang berhubungan dengan upakara.

Saat di awal merintis Toko Rawa, Wayan Rawa beranggapan kendala yang muncul sebagai tantangan baru baginya yang harus dipelajari agar membawa usaha terus ber-progress dan maju. Dari mempelajari produk-produk yang masuk list display tokonya dan melayani customer dengan kejujuran dan ketulusan bersama para karyawan yang ia percaya untuk mendampinginya dalam mengelola Toko Rawa

Mengejar Kreatifitas ke Kota Sejak SD
Orangtua Wayan Rawa bekerja sebagai petani dan pedagang kaki lima. Karena ibu yang tak kuasa menahan lelah berjalan berjualan, kemudian beliau tinggal di Puaya, Sukawati agar dekat dengan lokasi tujuan berdagang. Ia sendiri sudah mulai beternak bebek dan berkebun singkong, agar mulai belajar bertanggungjawab dengan memiliki pekerjaan.

Saat SD, Wayan Rawa diputuskan untuk pindah dari desa Lodtunduh, ke kota demi melanjutkan sekolah dan mengembangkan kreatifitas, kondisi tersebut atas dorongan dari ibu, yang mampu melepaskan egonya sebagai orangtua, demi masa depan sang anak. Beliau ingin putranya tersebut, memiliki wawasan yang lebih luas, demi menggapai masa depan yang lebih cerah nantinya, dibandingkan kedua orangtuanya. Di kota, ia pun dititipkan dengan paman, untuk melanjutkan pendidikan dan ikut membantu usaha pamannya, di bidang pakaian tari dan pengerajin kulit barong. Hingga ia terampil dalam mengatur dan dipercaya mengelola usaha tersebut sepenuhnya.

Baca Juga : Menjadi Entrepreneur Sukses Dengan Passion dan Kreatifitas

Meski tak serumah, Wayan Rawa di sela-sela waktunya tetap mengantarkan ibunya bekerja di pasar, sampai duduk di bangku SMA. Setelah lulus, ia bertekad harus lebih fokus bekerja dan mencari perkembangan pasar yang bisa ia ambil, sembari masih melanjutkan pekerjaannya dengan sang paman. Akhirnya diputuskan agar lebih dekat dengan keluarga, ia memilih membangun usaha di daerah tempat tinggal, meski pasa masanya, jalur didirikannya Toko Rawa masih sepi dan masyarakat lebih banyak pergi ke Pasar Sukawati. Kondisi itu wajar adanya, namun Wayan Rawa tak berputus asa untuk mengambil hati masyarakat, ia pun tak takut bila ia merugi nantinya, toh ia masih ada pekerjaan tetap dan relasi dari borongan yang mungkin nanti bisa membawa perkembangan usahanya, meski dalam proses yang tidak instan.
Menikah pada tahun 2001, Wayan Rawa harus semakin giat menciptakan pasarnya sendiri, dari masih meminjam barang untuk dijual, namun juga tak kunjung mendapat respon positif dari masyarakat. Saat mulai memiliki modal lebih dari mengumpulkan penghasilannya di usaha paman, ia memberanikan diri membeli bahan kain sendiri yang kemudian ia kreasikan sendiri, ia juga mendidik pemuda – pemuda di area tempat tinggal, menjadi pekerja di tokonya.

Memiliki relasi yang luas dari pengalaman bekerja sebelumnya baik itu dari sesama pekerja maupun tokoh seni di Ubud, Wayan Rawa memiliki kesempatan untuk mendapatkan barang dengan berbagai pilihan dan harga terjangkau, terlebih saat customer yang sengaja memesan kepadanya. Proyek – proyek seni berskala internasional pun mulai dipercayakan padanya diantaranya teater seni, Festival Nusa Dua dan Peringatan Bom Bali. Kreatifitasnya pun semakin teruji, sehingga bisa dilihat memiliki perbedaan kualitas dan model dari desain. Inovasi inilah yang kemudian mulai dilirik pasar, berkat keberanian mengambil kesempatan untuk tampil beda daripada toko dekorasi lainnya di daerah Bali.

Wayan Rawa mengaku sangat senang, selain berwirausaha, ia juga berkesempatan untuk ngayah untuk desa, bahkan ia juga tergabung dalam sebuah sanggar seni di Ubud yang bekerjasama dengan teater di Denmark. Bertandang ke luar negeri pun menjadi pengalaman luar biasa baginya, meski tidak fasih dalam bahasa Inggris, namun ia sangat bersyukur bisa diterima dalam pargelaran seni. Besar harapannya, semoga saja hubungan baik ini dapat terus terjalin dan mampu membawa seni Bali semakin sakral di mata dunia. Tak ketinggalan Toko Rawa juga dapat terus eksis, meski di Bali masih berselimut pandemi, berharap akan berangsur – angsur pulih dengan energi positif yang kita bagi kepada sesama dan semesta.

2 thoughts on “Berwirausaha Sembari Menyelaraskan Diri Dengan Semesta Melalui “Ngayah”

Leave a Reply

Your email address will not be published.