Dari Sopir Kini Sukses Jadi Pengusaha

Dari Sopir Kini Sukses Jadi Pengusaha

Sederet kisah inspirasi yang muncul di layar televisi atau media massa dari orang – orang biasa yang kini sukses, kerap menjadi sorotan publik. Namun ada juga yang hadir di tengah lingkungan sekitar kita. Salah satunya sosok I Ketut Sukarya, salah satu figur yang memang belum cukup di kenal khalayak, namun menyimpan banyak kesan positif jika menyelami kisah dan perjalanan hidupnya. Seperti apa ceritanya?

Pria paruh baya ini masih tetap terlihat bersemangat untuk bekerja, saat ditemui di sela kesibukan dan rutinitas di tempat usaha miliknya, UD. Sri Gede yang beralamat di jalan Kalanganyar Sudimara, Sudimara, Kec. Tabanan, Kabupaten Tabanan. Berperawakan kecil dengan tubuh sigap dan pemurah senyum ini tampak terlihat memancarkan kesan kesederhanaan hidup. Saat itu, tidak dengan penampilan yang necis dan rapih, I Ketut Sukarya hanya cukup mengenakan baju kaos berkerah warna merah dengan mengenakan topi hitam. Penampilan yang menambah kesan santai dan telah menggambarkan karakternya yang ramah. “Keadaan tentu sehat-sehat saja. Seperti sekarang ini, kalau nggak sehat tentu nggak kesini,” jawabnya dengan tersenyum.

Pria yang masa mudanya lebih akrab disapa Ketut ini tergolong pengusaha sukses yang tengah mengembang bisnis UD. Sri Gede, salah satu supplier kebutuhan rumah tangga atau kebutuhan sehari – hari dari masyarakat. Tak hanya itu, usaha yang berlokasi di wilayah Kalanganyar, Tabanan ini menyediakan beragam jenis buah – buahan terlengkap yang diambil dari petaninya langsung. Sirkulasi pemasaran dan relasi bisnis UD. Sri Gede ini pun semakin luas dan beberapa dagangan lainnya bisa ditemukan di kawasan Pasar Tabanan. Namun untuk bisa meraih pencapaian yang luar biasa serta bisa merasakan manis dari hasil usahanya itu, Ketut perlu berkawan dengan kegigihan dan ia pun telah membayar segalanya lewat perjuangan dan kerja keras.

Baca Juga : Giat Berusaha dan Bekerja Keras, Kunci Sukses Mengembangkan Bisnis

Nasib orang siapa yang tahu. Kalimat itu pun menggambarkan kisah Ketut selama menapaki satu per satu anak tangga kehidupan. Bagaimana tidak, pria asal Tabanan itu mengawali karir dengan menjalankan pekerjaan sebagai sopir angkutan umum. Salah satu profesi yang kerap dianggap tak memiliki masa depan. Namun di masa mudanya kala itu, Ketut meyakini bahwa masih akan ada banyak waktu dan peluang untuk mendapatkan kesempatan hidup baik jika menjalankan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Sehingga kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat dirinya tumbuh menjadi pribadi yang tidak neko-neko. Ia berprinsip untuk terus bekerja dan bisa menghasilkan keuntungan untuk dijadikan sebagai modal dan kebutuhan sehari-hari.

“Jujur saja, dulu saya dari awal sebagai seorang sopir antar kota. Sopir dari Denpasar ke Gilimatuk, Tabanan ke Badung. Waktu itu sopir mikrolet dan mini bus engkel dan saya menggeluti profesi sebagai sopir kurang lebih selama 5 tahun,” jelas Ketut. Menurutnya, pilihan untuk menjalankan profesi sebagai sopir memang karena latar belakang pendidikannya yang hanya menamatkan pendidikan terakhir di tingkat Sekolah Dasar (SD). Hingga akhirnya, satu – satunya pekerjaan yang bisa menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhan sehari – hari adalah dengan mengambil peran sebagai seorang sopir. “Memang kalau dulu, penghasilan dari sopir sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup ya. Karena memang juga media transportasi masih sangat sedikit. Sehingga penghasilannya cukup banyak. Tetapi di zaman sekarang memang sangat berbeda. Apalagi dengan kebutuhan dan tuntutan mengharuskan kita untuk bisa menghasilkan uang lebih banyak,” aku Ketut.

Seiring berjalannya waktu, Ketut pun dipertemukan dengan salah satu sosok yang memikat hatinya. Ia adalah Ni Wayan Sri Arni, yang sampai saat ini masih setia mendampingi Ketut sebagai seorang Istri. Dan siapa sangka, tak hanya merubah status lajang dari masa mudanya, namun juga pertemuan antar keduanya mampu merubah kehidupan ke arah yang lebih baik. termasuk sejumlah peluang usaha dan juga semangat kerja Ketut untuk siap lebih bekerja keras agar bisa bertanggung jawab menafkahi keluarga kecilnya. Saat itu, keputusan untuk berhenti menjadi sopir angkutan umum adalah pilihannya. Dengan modal yang cukup, Ketut pelan-pelan membantu bisnis yang sudah cukup lama dilakoni oleh istrinya sebagai pedagang buah dan jajanan atau beragam makanan ringan di pasar. “Sejak saat saya bertemu dengan Istri, niat untuk beralih profesi sudah mulai tumbuh ya. Karena kebetulan istri saya sebelumnya sudah cukup lama berjualan di pasar, akhirnya saya memutuskan untuk ikut berdagang,” aku Ketut.

Sejak tahun 2000, Ketut bersama istrinya sudah mulai fokus dan kembali menata usaha dengan berdagang. Awalnya pria kelahiran Denpasar 1958 itu mengaku dalam skala yang kecil, karena masih menyesuaikan dengan modal yang pas-pasan. Namun berlahan, mereka mampu memiliki modal yang cukup untuk mengembangkan bisnis. Hingga akhirnya, dengan sabar dan kerja keras, keduanya mampu membangun sebuah toko penjualan dengan nama UD. Sri Gede. Yang tadinya hanya sekadar menjual beragam jenis buah-buahan dan jajanan, kini kian lengkap dengan barang-barang jualan kebutuhan primer masyarakat. “Sampai saat ini, selain kita berjualan di toko, Istri saya masih menjalankan usaha dagang di pasar Tabanan. Astungkara, di tengah situasi pandemi saat Sekarang ini, ya masih kami jalankan dan hasilnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ungkap Ketut.

Baca Juga : Restu Orangtua Sebagai Gerbang Pembuka Kesuksesan Saya

Selain pengalaman kerja yang menjadi pelajarannya, Ketut tidak mengelak jika ada tempaan atau didikan orang tua yang menjadi bekalnya dalam menjalani kehidupan yang baik. situasi ekonomi keluarga yang serba berkecukupan, mengajarkan Ketut untuk hidup sederhana. Kedua orang tua ketut yaitu almarhum I Ketut Karma dan almarhumah Sumerek, mendidik dengan cara yang sederhana yaitu lewat setiap tindakan serta sikap. Hampir setiap saat, Ketut mendapat pelajaran yang bermanfaat. Ketut pun merasa beruntung bisa hidup dan tumbuh di tengah keluarga yang harmonis. “Kedekatan saya dengan kedua orang tua ya. Sosok mereka seperti teman ya. Ada banyak diskusi dan rencana yang selalu saya ceritakan dengan mereka,” kenang pria yang kini menginjak usia 63 tahun itu.

Ketika ditanya terkait seperti apa bekal dedikasi orang tua sehingga bisa menjadikan pelajaran tersebut sebagai bekal kesuksesannya dalam menjalankan usaha? Dengan sedikit tersenyum ia mengaku bahwa kedua orang tua hanya terus mengingatkan tentang sebuah kehidupan yang harmonis dalam berkeluarga. Menurutnya, keluarga adalah sumber penyemangat dalam hidup apabila hubungan antar suami, istri dan anak-anak bisa harmonis. “Orang tua mendidik saya ya sederhana saja. Jadi jika ingin tetap kuat dalam bekerja satu saja kuncinya yaitu harus rukun dalam keluarga. Kalau sudah rukun, tentu rejeki, peluang, dan rencana akan mendapatkan jalannya,” aku Ketut.

Ia juga melanjutkan, hal yang turut menjadi bagian penting selama menjalani usaha adalah tetap memperhatikan kesehatan. “Karena seberapa banyak dan sedikitnya penghasilan, kan itu rejeki masing-masing orang ya. Sehingga bagi saya rukun dan menjaga kesehatan yang di utamakan dulu. Sehingga proses untuk menikmati hasilnya adalah poin yang kesekian,” pungkas Ketut. Tidak heran, apa yang kini di capai olehnya adalah buah manis dari segala jerih payah demi menjalankan amanah kedua orang tua. Selain itu juga, dari kondisi serta pengalaman hidup yang pernah ia alami menjadi pemantik semangatnya untuk mulai berbenah. Hasilnya tak hanya sekadar profit dari bisnis yang tengah ia geluti saja, namun juga Ketut bersama Istriya mampu menyekolahkan kedua buah hatinya ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurutnya, pendidikan sangat lah berarti di tengah geliat perkembangan zaman saat ini, sehingga fokus dan tanggung jawab mereka adalah untuk tetap mengarahkan anak – anaknya untuk menempuh pendidikan. Sebentar lagi, tutur Ketut, anak saya sudah mendapat gelar sarjana ekonomi dan juga seorang dokter. “Saya yakin ada campur tangan Tuhan di setiap usaha kami serta doa orang tua, sehingga saya memiliki keyakinan untuk bekerja hingga sampai titik ini. Pastinya saya memiliki semangat yang tak pernah pudar ya. Dan harapan kedepan, anak – anak bisa seperti saya. Bisa menjaga dan mengembangkan usaha ini. Karena untuk memulai memang cukup sulit dan lebih sulit lagi untuk bisa menjaganya. Sehingga pesan saya untuk mereka juga dari beragam pengalaman hidup saya adalah hal pertama yang mesti dimiliki adalah sebuah tujuan hidup. Kemudian pengendalian diri. Saya yakin, apa pun bisa tercapai. Kalau tidak ada pengendalian diri, tidak akan bisa menempuh tujuan,” tutup pria yang hanya menamatkan pendidikan terakhir SD di Tabanan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *