Digagas Oleh Pasemetonan Berorientasi Melayani Anggota dari Berbagai Latar Belakang

Digagas Oleh Pasemetonan Berorientasi Melayani Anggota dari Berbagai Latar Belakang

Terbentuknya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sri Tumpuk merupakan implikasi dari wacana pasemetonan “Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori” yang bertujuan meningkatkan taraf kesejahteraan para semeton khususnya. Setelah dilakukan pertemuan demi pertemuan dalam membicarakan gagasan ini, mengerucutlah pada satu visi misi yang sama, sehingga resmi didirikan Koperasi Sri Tumpuk yang beralamat di Gg. Mandala No.1a, Kerobokan, Kec. Kuta Utara.

Koperasi yang mengangkat nama dari salah satu upakara di Bali ini, menghargai proses yang berjalan, dengan menanti diterbitkannya Surat Keputusan (SK) dari lembaga hukum yang berwenang, agar KSP Sri Tumpuk berdiri secara legal. Masih berbentuk “Pra Koperasi”, Dr. Drs. I Wayan Swandi, M.Si dan rekan-rekannya dalam masa setahun tersebut, memantapkan badan usaha ini dengan pemetaan kepengurusan sesuai dengan peraturan yang berlaku di Pemerintahan Kabupaten Badung.

Baca Juga : ROM Physiotherapy Siap Mendorong Masyarakat Menyongsong Masa Depan dengan Aktivitas Hidup Sehat

Dalam rangkaian kepemilihan kepengurusan KSP Sri Tumpuk, Swandi yang sekaligus berprofesi sebagai dosen kajian budaya di Universitas Udayana ini, diamanahkan untuk menjabat sebagai ketua koperasi. Merespon tawaran tersebut, ia mengungkapkan tak ada pengalaman sama sekali menjadi seorang ketua, apalagi di bidang ekonomi. Namun karena dukungan dan interaktif dari pasemetonan mengalir terus kepada dirinya, hati Swandi pun luluh dan menyanggupi permintaan tersebut.

Dengan dana 20 juta dan jumlah anggota 20 orang, KSP Sri Tumpuk mengklaim sudah siap melayani para anggota. Seiring waktu, dengan menjadikan kepercayaan masyarakat sebagai fokus utama dalam pengelolaan koperasi ini, jumlah anggota kini sudah dimiliki sebanyak 212 anggota. Ia pun menggarisbawahi, meski digagas oleh pasemetonan “Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori”, perekrutan anggota koperasi bersifat fleksibel, boleh berasal dari berbagai kalangan. Antusiasme masyarakat pun senada dengan iuran wajib yang dikenakan, untuk dana koperasi sebesar Rp. 25.000 bagi masing – masing anggota.

Meski bukan membangun usaha ‘kelas wahid’, Swandi sadar akan wajib berintegritas dalam mengelola koperasi, karena sudah sepercaya itu para anggota KSP Sri Tumpuk kepadanya. “Kalau sudah sekali saja mengecewakan, sulit masyarakat kita untuk melupakan, bahkan saya bisa membawa beban moral untuk pasemetonan sendiri dan keluarga” ucapnya. Terlebih di kondisi pandemi yang terelakan berdampak pada krisis ekonomi para anggota. Sehingga diakui oleh Swandi, koperasi sempat mengalami kondisi minus. Bersyukurnya, sampai saat ini KSP Sri Tumpuk masih eksis, terutama masih diberi kesempatan mengambil peran pengelolaan finansial.

‘Semangat’ Jalani Pendidikan Sarjana Sampai Sembilan Tahun.
Pencapaian pria asal Banjar Taman, Kerobokan Kelod, sebagai tenaga pengajar atau dosen dan Ketua KSP Sri Tumpuk, tak bisa lepas dari kemelekatan didikan orangtua. Secara terang – terangan ia menceritakan, ayah dan ibunya merupakan kuli di sawah. Tak terbelenggu dengan pekerjaan yang itu – itu saja, mereka memperdalam pengalaman dengan juga mempelajari seni mengukir bangunan. Upaya perubahan yang dilakukan pun mulai memberikan angin segar dalam perekonomian keluarga.

Baca Juga : Memaknai Kesederhanaan Dari Sosok Bersahaja Direktur PT. Angkasa Jaya

Swandi dan sembilan orang saudaranya, bisa dikatakan memiliki karma yang baik, mereka bisa melanjutkan sekolah sebagaimana seharusnya, bahkan dirinya mencapai level pendidikan hingga S3. Soal biaya, ia, kakak dan adik – adiknya tak bisa mengandalkan dari penghasilan orangtua. Yang dilakukan kemudian, harus membagi waktu antara belajar dan bekerja. Seperti yang dilakukan oleh kakaknya, pernah bekerja sebagai sopir.

Dr. Drs. I Wayan Swandi, M.Si sendiri, ia mulai bekerja semasa masih Sekolah Menengah Seni Rupa yang masih berhubungan dengan jurusan yang ia pilih, “Sains Komunikasi Visual”, ia dipercaya oleh pemilik toko di Seminyak dan Kuta, untuk melakukan pekerjaan sablon dan mendesain. Darisana, dana ia dapatkan dan kumpulkan untuk biaya pendidikan. Meski tak mudah, bahkan sampai menghabiskan waktu sampai sembilan tahun lamanya di program sarjana, tak meredakan semangatnya, sampai pada akhirnya di jenjang S3 Kajian Budaya di Universitas Udayana. Ia berharap bekal pendidikan yang ia miliki, tak hanya dari segi disiplin ilmu, lebih baik lagi, mampu menempatkan diri dalam bermasyarakat dan menjadi ketua koperasi yang berkiblat kepada kesejahteraan para anggotanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.