Hadapi Tantangan Jenjang Berkarir Hingga Sukses Menduduki Kursi Direktur Utama

Hadapi Tantangan Jenjang Berkarir Hingga Sukses Menduduki Kursi Direktur Utama

Awalnya Ir. I Made Astawa bergabung dengan PT. BPR Bank Daerah Bangli (Perseroda) yang berdiri pada 21 Februari 1968 tersebut, dengan mengikuti recruitment untuk kebutuhan karyawan lulusan sarjana dalam perusahaan tersebut pada tahun 1991. Setelah penerimaan awal sebagai petugas yang banyak terjun ke lapangan untuk mencari nasabah. Kemudian jenjang karirnya meningkat ke bagian kredit. Hingga pimpinan saat itu, menganggap ia sukses dalam menjalankan pekerjaannya dan bersiap ke jenjang karir selanjutnya.

I Made Astawa mengaku, setelah ditempatkan di bagian kredit, ia belum memiliki kesiapan yang matang, apalagi setelah enam bulan menjalani, banyak kendala yang dihadapi, bahkan sempat stress hingga harus berkonsultasi dengan dokter. Ia disarankan untuk tidak terlalu cemas berlebihan, semua pekerjaan pasti ada tantangannya. Beradaptasi saja secara perlahan, dimulai mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan dan tak ragu untuk bertanya dengan yang lebih senior. Demikian nasehat yang ia dapatkan dari dokter, ia pun mencoba mengikuti pesan tersebut dan menjalankan sebaik mungkin, diimbangi dengan melakukan persembahyangan, yang mampu memberikan ide – ide dan sumber kekuatan baru.

Baca Juga : Meningkatkan Nilai dan Produktivitas Untuk Pemerataan Perekonomian Desa

Dalam perjalanan karir I Made Astawa dan setiap tantangan ditemuinya, tak lepas pentingnya support system dari keluarga dan rekan – rekan di perbankan. Seraya tersenyum, ia mengatakan “Kemungkinan dukungan didapat dari rekan-rekan di BPR Bank Daerah Bangli khususnya, karena jarang yang mau menerima posisi kredit di perusahaan, terlebih saat itu masih bekerja secara manual”, ucapnya. Tak hanya job desc yang membuat ‘kram otak’, waktu bersama keluarga pun menjadi berkurang, karena pulang larut malam. Syukurnya pimpinan mendampinginya seorang driver yang setia menemaninya bila ia tak sanggup berkendara sepulang kerja atau bisa saja ia bermalam di kantor.

Pembenahan awal dilakukan pada tahun 2001 bekerjasama dengan tim tentunya, untuk mulai mengarahkan pengoperasian absensi struktur organiasi, laporan, diskusi surat dengan program software atau online, agar lebih efektif dan efisien dalam manajemen.

Di tahun 2005, mulailah terlihat progress dari program yang digunakan, apa yang menjadi kekurangan dari perusahaan yang harus segera diperbaiki dengan menambah tim IT yang handal. Selanjutnya, fokus I Made Asatawa tertuju pada gedung operasional BPR Bank Daerah Bangli, agar nasabah nyaman dan aman dalam melakukan transaksi. Dari hanya menempati sebuah ruangan kecil diluar area pasar Bangli dan hanya memfokuskan melayani pedagang tradisional semata. Sejalan dengan kemajuan dalam melayani Kantor BPR Bank Daerah Bangli telah menempati gedung di Jalan Merdeka No. 27 Bangli. Intinya pembenahan demi pembenahan pasti ada dilakukan setiap tahunnya oleh I Made Astawa sebagai direktur utama, karena dari masyarakat pun menuntut adanya perubahan yang terus membawa angin segar dan positif. Namun untuk digitaliasi belum bisa diikuti sepenuhnya, karena lembaga keuangan sekelas BPR memiliki beberapa regulasi yang harus diikuti aturannya dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dari Ekonomi Sempat Terpuruk, Harus Mandiri Membiayai Sekolah
Lahir di Peninjoan, sebuah desa yang berada di Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, I Made Astawa dibesarkan oleh orangtua sebagai petani, sekaligus ayahnya juga menjabat selama 30 tahun sebagai kelian banjar. Di saat usia ayahnya yang sudah tak ideal lagi dalam memimpin, ia menyarankan agar beliau berhenti dari posisi tersebut dan digantikan oleh yang lebih muda.

Kembali ke masa kecilnya, I Made Astawa sempat merasakan dimanja oleh orangtua, namun kondisi tak berlangsung lama, semenjak sang ayah disibukkan oleh kegiatan pengabdian sebagai kelian banjar, lahan pertanian pun terbengkalai yang mengakibatkan banyak tanaman cengkeh mati terserang jamur, sehingga sangat berdampak pada perekonomian keluarga.

I Made Astawa pun harus memaksa dirinya untuk mengambil pekerjaan apapun yang menghasilkan, sedikit tidaknya bisa membantu memulihkan perekonomian keluarga, mulai dari berdagang hingga mengajar sebagai guru honorer di sekolah – sekolah, seperti SMP, SMA PGRI dan STM Pertanian Swasta, serta peran gotong royong dari keluarga besar akhirnya mampu memperbaiki keadaan dan I Made Astawa berhasil menyelesaikan kuliah sebagai insinyur pertanian.

Sang ayah yang selalu menjunjung tinggi nilai – nilai kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat pada akhirnya beliau begitu dicintai oleh masyarakat hingga 30 tahun lamanya mengabdi di desa sebagai kelian banjar, ayahnya pun selalu berpesan kepada Made Astawa untuk selalu menjunjung tinggi kejujuran dan saling membantu dengan sesama. Kesibukan beliau bisa dimaklumi keluarga, dikarenakan masih ada sosok ibu yang tak kalah bekerja kerasnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan berupaya memenuhi waktu bersama Made Astawa dan saudaranya yang turut serta membantu sang ibu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. I Made Astawa yang semasa SMP hingga SMA lebih dekat dengan sang kakek yang berpesan untuk menggantungkan mimpi setinggi – tingginya.

Baca Juga : One Stop Treatment Spa dan Free Konsultasi Oleh Tenaga Ahli Kesehatan Bersertifikasi

Beralih ke pendidikan, I Made Astawa memilih untuk melanjutkan sarjana untuk menjadi insinyur, adalah merupakan impian dari kakeknya. Sebagai wujud terimakasih, atas kebaikan orangtua khususnya, yang tak akan terbayarkan oleh apapun di dunia ini, ia memenuhi keinginan tersebut, dengan melanjutkan di Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi, Universitas Udayana. Ia fokus menempuh pendidikannya, sekaligus memperluas pergaulan dengan lingkungan teman – teman yang membawa pengaruh positif dalam perkembangan pola pikir.

Setelah lulus, I Made Astawa sempat cukup lama tak memperoleh pekerjaan, tekanan sosial pun sempat ia dapatkan. Ada yang mencemooh, seolah ia dijadikan ‘motivasi’ bagi orang – orang, bahwa tamatan sarjana, hanya menambah jumlah pengangguran saja. Dengan cemoohan seperti itu, ia tak mau membiarkan dirinya berkecil hati, namun menjadi dorongan untuknya tetap berusaha dan berdoa, memohon kepada Sang Pencipta agar segera dibukakan jalan terbaik, atas kondisinya saat itu.
Atas kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani tantangan tersebut, ia akhirnya diterima sebagai karyawan di BPR Bank Daerah Bangli. Tantangan pekerjaan selalu berupaya ia jalankan sebaik mungkin, hingga karirnya berjenjang ke tingkat yang lebih baik, sampai dipercaya sebagai Direktur utama. Pencapaian ini adalah tak lain juga berkat orangtua yang berhasil dalam mendidiknya, khususnya dari sosok ibu. “Ibu telah mendidik saya untuk sukses, kini giliran saya untuk mendidik anak – anak agar sukses, tak hanya sukses bermateri, tapi harus membantu sesama dan mengutamakan kejujuran, tak peduli di situasi apapun.

3 thoughts on “Hadapi Tantangan Jenjang Berkarir Hingga Sukses Menduduki Kursi Direktur Utama

Leave a Reply

Your email address will not be published.