Memahami Kondisi Kurang Beruntung Taklukan Diri Dengan Belajar dan Bekerja

Memahami Kondisi Kurang Beruntung Taklukan Diri Dengan Belajar dan Bekerja

Setelah sepeninggal ayah, pada tahun 1976 I Gusti Ngurah Dibia belajar keras untuk menjadi seorang pelukis demi menghidupi empat adiknya, terutama dalam biaya pendidikan. Ia sendiri rela mengorbankan pendidikannya hanya sampai kelas I SMP dan memaksa diri untuk belajar melukis, padahal tak memiliki basic sama sekali.

Masa muda Gusti Ngurah Dibia banyak dihabiskan untuk fokus bekerja agar adik – adiknya tetap bisa bersekolah. Ia kemudian memutuskan belajar melukis di Taman Kerta Gosa atau di Pura – Pura, kemudian mencoba mengingat hasil pengamatannya dan bersyukur mampu laku terjual. Ilmu melukisnya pun semakin terasah, hingga ia juga bisa menghasilkan sketsa gambar yang juga sempat mendapat tawaran dari pembeli, idealis Ngurah Dibia pun mulai diuji. Namun karena kenyataannya ia membutuhkan uang, sketsa tersebut akhirnya ia jual.

Dari penjualan sketsa tersebut, mulai memancing penawaran – penawaran baru yang datang menghampirinya. Jujur ada kegundahan tersendiri karena idealisnya sebagai pelukis, seolah dihargai hanya sebatas sketsa. Ia akhirnya memutuskan berhenti melanjutkan aktifitas tersebut dan memilih menyelesaikan lukisannya, layaknya seorang pelukis profesional. Pada tahun 1985, hasil karyanya pun semakin eksis dilirik dan mendapat pesanan oleh wisatawan mancanegara.

Baca Juga : Membentengi Pertahanan Usaha dari Tantangan Zaman dengan Komitmen Menampilkan Kualitas Produk Terbaik

Tahun 1991, sedang asyiknya sebagai pelukis, datang tawaran dari rekannya untuk berbisnis pembuatan batako. Tentunya ia berpikir apakah seorang pelukis bisa menghasilkan karya, sambil mengelola sebuah bisnis. Akhirnya ia coba saja peluang tersebut pada tahun 1998 dengan mempekerjakan satu orang tenaga yang merangkap sebagai pembuat batako dan pengiriman. Tak terasa berjalannya waktu, ternyata sudah selama 10 tahun, kesetiaan karyawannya tersebut bekerja pada usahanya. Setelah rentang waktu sekian, barulah ia mulai menyesuaikan diri dengan bertambahnya customer dengan merekrut beberapa karyawan.

Tak sedikit customer yang menanyakan, mengapa ia hanya menjual satu material bangunan saja. Ia pun disarankan untuk menambah beberapa item material lagi, namun ia merasa belum berani melangkah sejauh itu, apalagi harus berurusan transaksi dengan produk-produk yang harus didapatkan dari toko lainnya. Secara perlahan, dengan penuh kematangan, ia baru bisa menambah penjualan bambu dan item lainnya sedikit demi sedikit.

Merasakan peluangnya menarik customer yang semakin tinggi, Gusti Ngurah Dibia memilih fokus mengembangkan toko bangunan yang diberi nama “TB. Eka Lawiya” agar lebih maju lagi. Bersyukurnya di tengah kondisi pandemi, ia tak menemukan kendala yang berarti justru pesanan yang masuk bertambah dari situasi normal, sehingga ia pun harus menambah dua tenaga lagi demi semakin agresif lagi melayani customer.

Semakin membeludaknya material bangunan yang ditawarkan, toko bangunan yang beralamat di Jalan Watu Renggong, Kamasan, Kabupaten Klungkung ini, mulai memindahkan pembuatan batako ke area lain, namun tetap eksis berjalan. Tak hanya customer individual, beberapa kontraktor sempat menawarkan kerjasama TB. Eka Lawiya, namun karena sudah terlanjur dikecewakan dari pengalaman dengan sebuah kontraktor yang berkedok sebagai pemborong, ia memilih mendahulukan pada penjualan.

Baca Juga : Rahasia Hidup Sukses dengan Melayani dan Membantu Orang Lain

Lahir pada tahun 1956, dari orangtua sebagai petani penandu yang ulet. Bagaimana tidak semasa kecil Gusti Ngurah Dibia, ia menyaksikan mereka bekerja sejak pagi hingga jam 8 malam. Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, namun diungkapkan olehnya masa kecilnya cukup menyenangkan, mengingat saat itu sarana permainan tradisional masih diminati, ditambah dengan keindahan alami lingkungan tempat tinggalnya, menjadi sebuah kenyamanan menghabiskan masa bermain anak – anak.

Ayah yang mulai sakit – sakitan, memaksa Gusti Ngurah Dibia memahami keadaan bahwa ia harus mulai ikut bekerja. Ia mulai dengan berjualan jagung dan hasil kebun lainnya. Hasil yang ia dapatkan, tak lain demi adik – adiknya yang hampir putus asa tak bisa melanjutkan sekolah. Bersama ibunya, ia bahu membahu dan mengakali hasil kebun agar terus menghasilkan, hingga adik – adiknya dapat terus bersekolah. Kerja kerasnya bersama keluarga pun membuahkan hasil, tak bisa dipungkiri ia bangga pada diri sendiri bisa menyekolahkan adik-adiknya saat ia masih remaja. Sang Pencipta pun tak pernah menutup mataNYA, Beliau mengetahui betapa ketulusan hati yang dimiliki Gusti Ngurah Dibia kepada keluarga, patut dibalas dengan anugerah yang berkali – kali lipat. Bisa jadi TB. Eka Lawiya adalah salah satu bukti hasil karma baik yang telah ia tanam tanpa sengaja dalam dirinya. Kesuksesan pun kini tak hanya dimiliki kerabatnya yang memiliki pendidikan lebih tinggi dibandingkan dengannya, tapi juga ia sendiri merasakan jawaban doa dan diiringi kerja keras tak akan mengkhianati kepada siapa sang penerimanya. Dan di posisi yang bisa dikatakan sudah berada pada posisi stabil, ia berupaya senantiasa bersyukur dan menjaga sebaik mungkin rezeki yang dititipkan kepadanya, dengan tetap berbagi kepada sesama. Tidak lupa, ia pun mendoakan almarhum ayah yang tak sempat menyaksikan kesuksesannya agar selalu diberikan ketenangan dan ditempatkan ada peristirahatan terakhir yang terbaik

Leave a Reply

Your email address will not be published.