Pentingnya Kesadaran Diri Melandasi Kejujuran Dalam Mengabdi di Desa Adat

Pentingnya Kesadaran Diri Melandasi Kejujuran Dalam Mengabdi di Desa Adat

Bertepatan hari lahirnya Pancasila, pada tanggal 1 Juni 2009, Anak Agung Ngurah Pastika resmi menduduki kursi pimpinan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Angantaka yang beralamat di Jl. Taman Magendra Angantaka, Angantaka, Abiansemal, Badung. Kondisi LPD saat itu kurang sehat, jadi di awal-awal jabatannya berbeda dengan perusahaan pada umumnya yang harus melalui masa training, ia langsung terjun ke lapangan dan membenahi LPD Angantaka sampai ke akar-akarnya.

Diawali dari pembenahan kepengurusan LPD Desa Adat Angantaka, pentingnya penanaman bekerja secara profesional dengan mengutamakan kejujuran. Dalam upaya ini, pembaharuan lima orang staff yang dipekerjakan pun dilakukan, yang sudah berpengalaman dalam hal pengelolaan keuangan seperti koperasi. Selanjutnya turun ke banjar-banjar, kembali menarik simpati masyarakat untuk bergabung dengan LPD Desa Adat Angantaka. Pria kelahiran Angantaka, 29 Desember 1954 ini pun tak sendiri, bersama prajuru desa adat dan staf LPD Desa Adat Angantaka, bahu-membahu memberikan edukasi dan informasi, yang intinya bahwa lembaga keuangan di desa adat ini tak akan sukses, tanpa kepercayaan masyarakat sebagai pemilik dari LPD itu sendiri.

Baca Juga : Professional Membangun Usaha Atas Restu Orangtua

Diakui oleh A.A. Ngurah Pastika juga sempat melakukan pendekatan secara personal, kepada masyarakat yang memiliki dana lebih, agar mendukung LPD Desa Adat Angantaka, entah dengan menabung atau deposito. Alih – alih bila ada masyarakat yang membutuhkan kredit, ada dana yang bisa disalurkan. Dalam sistem administrasi juga tak ketinggalan, karena dulunya masih belum menggunakan komputer, kini sudah dilengkapi dengan program IT yang membuat pekerjaan lebih efisien dan mudah yang dirancang oleh sekretaris LPD Desa Adat Angantaka, yakni Ibu Ratna yang sebelumnya sempat mengikuti kursus programming.

Seiring berjalannnya waktu, yang menjadi saksi kerja extra yang dilakukan A.A. Ngurah Pastika bersama seluruh pendukung LPD Desa Adat Angantaka, akhirnya mulai menampakan pencerahan. Terbukti pada penampakan bangunan fisik LPD Desa Adat Angantaka yang telah terbangun secara singkat, berselang tiga tahun setelah A.A. Ngurah Pastika menjabat. Tepatnya pada tahun 2012, di atas tanah yang dibeli oleh LPD Desa Adat Angantaka seharga Rp. 440 juta, berkat laba yang didapat telah melampaui target, sehingga bisa menyisihkan dana untuk pembangunan. Dalam waktu enam bulan, bangunan operasional pun rampung yang jauh lebih tertata dalam menjalankan operasional dan melayani nasabah. Kemudian atas apresiasi kepercayaan masyarakat, LPD Desa Adat Angantaka memberikan kontribusi kepada masyarakat maupun desa adat, diantaranya memberikan dana punia setiap piodalan di Pura Kahyangan Tiga yang mencapai Rp. 8 juta – Rp. 10 juta, dana ngaben masal Rp. 100 juta, dana personal untuk masyarakat yang meninggal, sebesar Rp. 150 ribu – Rp. 200 ribu dan setiap setahun sekali menjelang hari raya Nyepi, masyarakat mendapat uang saku dari LPD Desa Adat Angantaka.

Dari 34 LPD yang ada di Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, LPD Angantaka patut berbangga karena telah mencapai peringkat ke-2, sebagai LPD yang masuk kategori sehat. Dalam hal ini tentunya puji syukur diungkapkan A.A. Ngurah Pastika, mampu melalui masa sulit saat di awal memimpin, kemudian menemui situasi tak terduga pandemi Covid-19, yang berimbas pada kondisi krisis ekonomi, namun masih mencatatkan kinerja positif. Tentunya semua ini berkat dukungan dan juga kepercayaan masyarakat Angantaka pada LPD. Bagi nasabah yang ekonominya terkena imbas langsung Covid-19 atau pendapatannya berkurang, pihak LPD Desa Adat Angantaka memberikan relaksasi berupa keringanan kredit, tanpa penalti hanya membayar bunga saja. Kebijakan ini juga bisa menjadi kontribusi yang bersifat tak terduga, kepada para nasabah atau krama yang telah mempercayakan pengelolaan keuangan maupun dananya di LPD.

Utamakan Kejujuran
Lahir di desa Angantaka, di mana ayah dari A.A. Ngurah Pastika bertindak sebagai Kelian Banjar kurang lebih selama 30 tahun lebih, sampai beliau ada keinginan untuk berhenti. Tak berbeda jauh darinya, loyalitasnya dalam bekerja pun mengalir dalam pria lulusan D3 Pariwisata ini, selama 30 tahun bekerja di salah satu bank milik pemerintah, sejak tahun 1979 hingga 2009. Kemudian tanpa isyarat sebelumnya dari pihak Prajuru Desa, khususnya Bendesa Adat, ia tak menyangka akan dipercaya untuk mengabdi di LPD Desa Adat Angantaka.

Baca Juga : Darah Sang Pendidik yang Sentuh Dunia Pariwisata hingga Kesehatan

Sejak SMP, A.A. Ngurah Pastika sudah ditinggal oleh ibu tercinta, tinggalah ia hanya mendapat didikan dari ayah yang juga sosok yang paling dekat dengannya. Beliau selalu memberi dukungan untuk semangat belajar saat ia masih mengenyam pendidikan, agar memiliki nasib yang lebih baik dari beliau dan mengangkat nama keluarga. Memasuki ranah pekerjaan, ia pun dibekali untuk bertanggung jawab dengan posisi yang dipercayakan perusahaan kepadanya dan utamakan kejujuran. Karena hanya dengan kejujuranlah, bisa membangun modal kepercayaan dalam berinteraksi dengan sesama rekan kerja maupun terun ke masyarakat.

Daya juang A.A. Ngurah Pastika dalam merintis kepercayaan masyarakat sangatlah tidak mudah, membutuhkan banyak dukungan dari berbagai pihak yang berperan dalam berdirinya LPD Desa Adat Angantaka. Perlahan tapi pasti, LPD Desa Adat Angantaka mulai bangkit hingga memiliki gedung sendiri, tak dipungkiri menjadi kebanggaan bagi A.A. Ngurah Pastika sebagai pimpinan.

A.A. Ngurah Pastika berupaya tampil menjadi pimpinan yang adil dan jujur kepada seluruh staf di LPD Desa Adat Angantaka. Secara tidak langsung, ia pun mengharapkan timbal balik yang timbul dari kinerja positif mereka dan menanamkannya di kesadaran diri masing-masing. Yang tak kalah krusial, sebagai lembaga yang hidup di lingkungan desa adat yang masih kental dengan kegiatan upacara, A.A. Ngurah Pastika pastikan untuk rutin mengucapkan syukur dan mendekatkan diri secara spiritual kepada Sang Pencipta dan Leluhur. Dengan kita semakin mengenal Sang Pencipta, astungkara kita semakin mencintai diri sendiri dan terhindar dari hal – hal negatif, baik dalam mengemban tanggung jawab pekerjaan, maupun bersosialisasi di masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.