Rejang Ayunan Simbol Penghormatan Terhadap Generasi Beranjak Dewasa

Rejang Ayunan Simbol Penghormatan Terhadap Generasi Beranjak Dewasa

Pada umumnya umat Hindu mengenal Rejang Dewa yang wajib ditarikan saat pelaksanaan Upacara Dewa Yadnya. Namun siapa sangka di Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, Tabanan, memiliki tradisi turun temurun yang disebut Rejang Ayunan.

Sesuai dengan namanya, para penari Rejang akan berayun di bawah Pohon Beringin besar yang ada di Pura Puseh lan Bale Agung, Desa Pekraman Bantiran, Desa Bantiran, Pupuan, Tabanan.

Tari Rejang Ayunan hanya akan ditarikan ketika Pujawali Ageng di Pura Puseh lan Bale Agung Desa Pekraman Bantiran atau satu tahun sekali tepatnya setiap Purnama Kalima, terkecuali Desa Pekraman mengalami cuntaka dan ada pembangunan yang sedang berlangsung.

Baca Juga : Kembali Bangkit dan Bersinar Dengan Sinergi dan Kolaborasi

Rejang Ayunan atau yang biasa disebut Renteng oleh warga setempat ditarikan oleh para pemuda dan pemudi di Desa Pekraman Bantiran, yang tergabung dalam Sekaa Teruna Teruni setempat, ada Renteng Lanang (laki-laki) dan Renteng Istri (perempuan).

Jumlah para pemudi yang menarikan Rejang Ayunan tidak ada patokannya, yang jelas harus ada empat orang Rejang paling depan, yang masing-masing membawa Pasepan, Pemendak Canang, Pekampuhan, dan Benang. Selanjutnya diikuti penari Rejang yang membawa tombak. Pakaian para Rejang juga terbilang cukup sederhana, hanya menggunakan kain putih – kuning serta pakaian yang menyerupai kostum Tari Baris, namun hal itu tak mengurangi kesan sakral dalam tarian tersebut.

Pada setiap Pujawali Ageng maka Rejang Ayunan akan masolah beberapa kali, sampai nanti pada puncak Pujawali barulah ditarikan Rejang Ayunan, yang diakhiri dengan berayun pada Pohon Beringin. Para penari Rejang akan naik pada tali yang telah diikat pada Pohon Beringin, kemudian berayun – ayun diiringi dengan tetabuhan khusus untuk Rejang Ayunan. Sebelum berayun di Pohon Beringin, para penari Rejang terlebih dahulu berkeliling sebanyak 3 kali di areal utama mandala, dimana pemedek tidak boleh memotong barisan para penari.

Dan ketika Rejang sedang berlangsung, pemedek yang berada di luar utama mandala juga tidak bisa sembarangan masuk ke utama mandala, dan akan ada Penyarikan yang menjaga pintu masuk. Yang biasanya ditandai dengan bunyi Kulkul. “Kulkul pertama Penganteban Banten, Kulkul kedua pemedek bisa masuk ke utama mandala, dan Kulkul ketiga berarti Rejang sudah berlangsung.

Baca Juga : Sehat, Sejahtera, Mandiri dan Kuat Bersama KUD Timpag

Setelah mengelilingi areal utama mandala, maka para Rejang langsung menuju Pohon Beringin di jaba Pura Puseh lan Bale Agung. Pada Pohon Beringin tersebut sudah diikatkan seutas tali tambang yang nantinya akan dinaiki para penari Rejang. Namun terlebih dahulu akan dites oleh ‘Cecalang Sakti’ atau empat orang terpilih di Desa Pekraman Bantiran. Setelah dirasa aman, maka penari Rejang akan berebut menaiki tali pertama kali. Penari yang berhasil naik pertama, kemudian akan mengambil sesajen (Banten) berupa Banten Tipat Kelanan (enam buah ketupat), Daksina serta satu ekor ayam panggang. Setelah dinikmati, sesajen selanjutnya dibagikan kepada masyarakat dan penari yang ada dibawah.

Disamping itu, pelaksanaan Rejang Ayunan juga merupakan wujud menyampaikan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugrah yang telah diberikan kepada warga Desa Pekraman Bantiran, serta senantiasa memohon kemakmuran, kesejahteraan, dan ungkapan bahagia dari para generasi muda.

Rejang Ayunan sendiri terakhir digelar tahun 2015 lalu serangkaian dengan Ngusaba Gede di Pura Puseh lan Bale Agung Desa Pekraman Bantiran. Sedangkan di tahun 2016 tidak bisa dilaksanakan, karena ada pembangunan pura di wilayah Desa Pekraman Bantiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published.