Restu Orangtua Sebagai Gerbang Pembuka Kesuksesan Saya

Restu Orangtua Sebagai Gerbang Pembuka Kesuksesan Saya

Sempat bekerja cukup lama dengan suatu perusahaan, yakni selama sepuluh tahun sebagai sales pada tahun 1990, Haji Umar Sayid akhirnya mampu mengumpulkan tabungan untuk mencicil mobil box untuk berjualan keliling ke seluruh Bali, bahkan Lombok. Meski awalnya masih seorang diri ia merintis usahanya, ia berbekal keyakinan, bahwa sebuah perubahan akan berhasil bila ada tindakan nyata dan kesungguhan dari hati pelaku itu sendiri.

Rezeki pada usaha Haji Umar Sayid pun seiring dengan relasi yang terus bertambah, semakin berkembang dan dipercayakan untuk memegang produk dari beberapa perusahaan, salah satunya distributor di Surabaya. Hingga di tahun 2000, saat kondisi krisis moneter, ia memberanikan diri berhenti berjualan keliling dan menetap di sebuah lokasi.

Sejak di tahun 1998 berjualan berkeliling, Haji Umar Sayid kemudian memiliki modal lebih untuk menyewa tempat usahanya pada tahun 2001. Berlokasi di Jalan Pulau Biak I, Dauh Puri, Kec. Denpasar Barat, CV. Sayid Putra Eshan sebuah usaha bergerak di toko grosir kebutuhan rumah tangga pun sukses ia wujudkan yang beroperasi paling senior dan cabang kedua di Jalan Kusuma Bangsa.

Tak berjalan mulus begitu saja, Haji Umar Sayid harus menelan pil pahit, gudang pada usahanya mengalami kebanjiran pada tahun 2004. Ia menyaksikan barang – barangnya hanyut terbawa arus. Melihat bencana yang dihadapi olehnya, di saat itulah dukungan Sang Ibu yang menjadi penyemangatnya saat itu, meski diakui olehnya ia sempat depresi karena kerugian yang harus ia tanggung.

Baca Juga : Temukan Pencerahan Dengan Pola Pikir Seimbang di Masa Pandemi

Benar saja apa yang dikatakan Sang Ibu, hanya waktu yang mampu menjawab permasalahannya secara perlahan. Dalam kondisi yang sudah lebih tenang, barulah ia mengingat bahwa solusi tersebut sebenarnya sudah ada, yakni asuransi yang telah ia ikuti sebelumnya. Karena sudah terlalu emotional, ia tak mampu berpikir dengan jernih, baru keesokan harinyalah diingatkan Sang Ibu.

Dalam kondisi pandemi, cara Haji Umar Sayid dalam mempertahankan usahanya, salah satunya memangkas pengeluaran yang tidak perlu. Kemudian mencari harga barang yang terjangkau, agar bisa menjual kembali dengan harga yang murah. Pelanggan tidak hilang, penjualan produk pun tetap berjalan, demi memberikan pelayanan yang terbaik yang secara konsisten dilakukan.

Kesuksesan Haji Umar Sayid mengubah nasibnya dari segi ekonomi, tentu tak ia dapatkan secara instan. Dari didikan orangtua sebagai petani yang memiliki lahan di daerah Banyuwangi, Jawa Timur, ia sudah terbiasa bekerja membantu orangtua di sawah, kadang pula ikut orangtua yang juga mengambil pekerjaan sebagai pedagang.

Pada tahun 1988, setelah lulus masa SMA, Haji Umar Sayid kemudian memutuskan untuk mengikuti teman-nya merantau ke Bali, berharap ada asa yang lebih positif ia temukan di pulau dewata. Sesampainya di Bali, ia masih mengikuti jejak temannya di sebuah perusahaan, karena menyaksikan pengalaman pekerjaannya tersebut cukup menyenangkan.

Di perusahaan tersebutlah, impian Haji Umar Sayid dipupuk agar suatu saat ia pun memiliki usaha secara mandiri. Dengan kerja keras dan konsisten menyisihkan penghasilan demi memiliki kendaraan, sebagai langkah awal wirausahanya, akhirnya ia bisa membuktikan perjuangan tak akan pernah mengkhianati sebuah hasil suatu saat nanti.

Baca Juga : Pertahankan Karya Tradisi Kian Eksis dengan Bisnis Tekstil Tenun Songket & Endek Bali

Landasan Pendidikan Agama Sejak Dini
Meski semasa kecil Haji Umar Sayid bandel, bahkan pernah mencuri uang orangtua, namun berbicara soal didikan dan memohon doa restu dari orangtua pun tak pernah diabaikan Haji Umar Sayid, terlebih saat telah menemukan posisi keseriusannya dalam merintis usaha. Baginya hal itu mutlak dilakukan dan sangat manjur untuk menghadapi apapun tantangannya dalam perjalanan usahanya, agar mampu ia lewati dengan meninggalkan pembelajaran yang membuatnya lebih bijak dan memperbaiki diri, menjadi wirausahawan yang lebih berjaya.

Prinsip tersebut masih dipegang oleh Haji Umar Sayid sampai saat ini, karena pendidikan agama sudah menjadi landasan yang kuat dalam keluarganya yang harus ditanamkan pada saudara – saudaranya semasa kecil. Namun yang ia tidak bisa menampik ada rasa sesal dalam dirinya, karena kesuksesannya saat ini, belum sempat dinikmati oleh almarhum orangtua. Padahal semasa dulu, orangtuanya yang sering memberikan motivasi kepadanya melalui ucapan – ucapan yang membangun, seperti mengatakan bahwa suatu saat nanti ia pasti akan berhasil dengan bidang pekerjaan yang ia pilih.

Afirmasi orangtua melalui kata-kata yang diucapkan tersebut membuahkan hasil yang nyata kepadanya, ia menjadi lebih berani dan percaya diri mengambil resiko dari setiap langkah yang diambil. Ia pun tak mau afirmasi dari orangtua ia patahkan begitu saja, ia pun harus senantiasa menjaga pola pikir yang positif dan harmonis dengan langkah nyata.

Sampai pada titik ini, Haji Umar Sayid tak mau selalu mendongakan kepala, ia wajib mensyukuri apa yang telah ia dapatkan, apalagi ia merasa belum sempat membalas budi kebaikan orangtua. Perasaan ini pun semakin mendorong rasa bersalahnya saat ia telah menjadi orangtua, yang kenyataannya tidak semudah yang ia bayangkan. Untuk mengobati perasaan tersebut, ia berupaya menerapkan menjadi orangtua yang baik untuk anak-anaknya.

Dalam agama apapun, pasti mengajarkan ajaran – ajaran yang baik, hanya penyebutannya saja yang berbeda. Begitu pula ia sebagai muslim, keyakinannya dalam ‘mendewakan’ orangtua, spesialnya pada ibu adalah gerbang menuju kesuksesannya. Tak hanya itu, ia pun tanpa rasa ragu mulai berbagi rezeki kepada sesama, karena ia meyakini setengah dari rezekinya adalah hak daripada fakir miskin. Hal ini pula dapat memperlancar bahkan melipatgandakan rezekinya. Upaya tersebut dilakukan setiap hari oleh Haji Umar Sayid dan telah memiliki pembagiannya masing – masing bagi mereka yang membutuhkan. Ia pun berharap konsistensi ini dapat terus dijalankan dan menyentuh hati berbagai lapisan masyarakat untuk tidak berhenti berbagi, ucap pria kelahiran 10 Mei 1969 ini.

One thought on “Restu Orangtua Sebagai Gerbang Pembuka Kesuksesan Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *