Koster Mulai Restorasi Parahyangan Besakih 2026, Fokus Kembalikan Arsitektur Asli

Karangasem — Pemerintah Provinsi Bali memulai tahapan lanjutan penataan kawasan suci Pura Agung Besakih pada tahun 2026. Fokus pekerjaan kali ini diarahkan pada pemulihan parahyangan, meliputi pelinggih serta bangunan di 26 pura yang berada di kawasan tersebut.

Sebagai penanda dimulainya proyek, digelar upacara Ngeruwak dan Mulang Dasar pada Jumat (1/5/2026) yang dipimpin langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Dalam sambutannya, Koster mengungkapkan bahwa penataan Besakih merupakan cita-cita yang telah lama ia simpan, bahkan jauh sebelum menjabat sebagai gubernur.

Ia pun mengenang pengalaman masa mudanya saat mengikuti upacara Karya Eka Dasa Rudra di Besakih pada 1979. Kala itu, dirinya masih berstatus pelajar di SMA Negeri Singaraja dan kerap datang untuk bersembahyang.

Baca Juga : Penanganan Perkara Dinilai Profesional, Tim Hukum Subur Jaya & Partner Puji Kinerja Polres Tabanan

“Saya masih ingat betul, waktu itu datang bersama teman-teman naik bus. Setelah sembahyang, saya memperhatikan detail bangunan pura,” ujarnya.

Dari pengamatannya saat itu, Koster melihat adanya perbedaan material dan corak pada pelinggih di Besakih, seperti penggunaan batu dan bata merah dengan warna serta motif yang tidak seragam. Hal tersebut menjadi salah satu dasar keinginannya untuk menata kembali kawasan suci tersebut agar lebih tertata dan sesuai dengan pakem aslinya.

Penataan tahap pertama sebelumnya telah mencakup pengembangan area parkir serta fasilitas pendukung dengan nilai anggaran sekitar Rp911 miliar. Kini, tahap kedua berlanjut pada restorasi parahyangan dengan alokasi dana sekitar Rp203 miliar yang bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kabupaten Badung.

Koster menegaskan, dalam proses restorasi nanti seluruh bangunan pura harus dikembalikan ke bentuk aslinya, termasuk penggunaan material dan detail ornamen.

“Kalau menggunakan kayu, maka penggantinya harus jenis yang sama. Begitu juga dengan ukiran dan motif, harus mengikuti bentuk awalnya,” tegasnya.

Sementara itu, Bendesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiartha, menyampaikan bahwa dari total 26 pura di kawasan Besakih, tiga di antaranya telah lebih dulu mendapatkan penanganan. Artinya, sebanyak 23 pura akan direstorasi dalam tahap kedua ini.

Beberapa pura yang masuk dalam rencana penataan antara lain kelompok Pura Catur Loka Pala, Pura Catur Eswarya, Pura Catur Lawa, serta jajaran Pura Kahyangan Jagat dan Huluning Pura yang tersebar di kawasan Besakih.

Ia menambahkan, proses perbaikan tidak dilakukan secara menyeluruh, melainkan difokuskan pada bagian-bagian yang memerlukan perbaikan, seperti pelinggih dan penyengker.

“Tujuannya bukan mengganti semuanya, tetapi memperbaiki yang perlu saja, agar kesakralan tetap terjaga dan keaslian bangunan tidak hilang,” jelasnya. (res)

Sumber : Tribunbali.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *