Harianrakyatbali.com || Seorang pimpinan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga memikul tanggung jawab besar dalam membina manusia. Di balik tembok tinggi dan sistem yang ketat, sosok pemimpin menjadi kunci dalam menghadirkan pendekatan yang adil, humanis, serta berorientasi pada perubahan perilaku warga binaan.
Kepemimpinan di lembaga pemasyarakatan menuntut visi yang kuat, empati, serta kemampuan membaca dinamika internal agar mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menginspirasi jajaran petugas, tetapi juga membuka jalan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri dan kembali diterima di tengah masyarakat.
Pola kepemimpinan seperti itulah yang kini hadir di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kerobokan, Bali. Tongkat estafet kepemimpinan lembaga tersebut kini diemban oleh Hudi Ismono, A.Md.IP., S.H., M.H., yang resmi menjabat sejak Februari 2025.
Tumbuh dari Kesederhanaan
Jiwa kepemimpinan Hudi Ismono tidak lahir secara instan. Semua terbentuk melalui proses panjang yang penuh tantangan dan pengalaman hidup.
Sejak kecil, Hudi dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana. Masa kecilnya dihabiskan di Nusa Kambangan. Saat duduk di bangku SMP, ia harus bangun pagi demi menempuh perjalanan menuju sekolah di Cilacap. Jarak yang cukup jauh bahkan mengharuskannya menyeberangi lautan setiap hari demi memperoleh pendidikan.
Di balik perjalanan hidupnya, sosok ibu memiliki tempat yang sangat istimewa bagi Hudi Ismono. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan sang ibu. Menurutnya, doa seorang ibu adalah kekuatan besar yang mampu mengantarkannya hingga berada di titik saat ini.
Meski sang ayah telah berpulang, hubungan Hudi dengan ibunya tetap terjalin erat. Dalam setiap aktivitas maupun pekerjaan, ia selalu menyempatkan diri meminta doa restu dan mengabarkan kondisinya kepada sang ibu.
Hudi meyakini bahwa bakti kepada orang tua tidak selalu diwujudkan dalam bentuk materi. Hal sederhana seperti memberi kabar, menanyakan keadaan, dan menunjukkan perhatian juga merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua. Ia percaya bahwa setiap perlakuan baik akan kembali kepada diri sendiri sebagaimana hukum karma kehidupan.
Baca Juga : Kalapas Kerobokan Kedepankan Integritas sebagai Pilar Kepemimpinan
Kepada generasi muda, Hudi berpesan agar tidak menyakiti hati seorang ibu. Menurutnya, seorang anak seharusnya mampu membuat ibunya menangis karena rasa bangga dan bahagia, bukan karena kesedihan. Ia pun percaya bahwa seluruh pencapaian dalam hidupnya tidak terlepas dari doa dan didikan kedua orang tuanya, khususnya sang ibu tercinta.
Memimpin Lapas Kelas IIA Kerobokan
Pada Februari 2025, Hudi Ismono resmi ditunjuk sebagai Kepala Lapas Kelas IIA Kerobokan, melanjutkan kepemimpinan sebelumnya di tengah proses revitalisasi kawasan lapas.
Di awal masa kepemimpinannya, Hudi tidak hanya fokus pada aspek keamanan warga binaan, tetapi juga menaruh perhatian besar pada program ketahanan pangan dan pemberdayaan narapidana. Meski dihadapkan pada keterbatasan lahan, ia tetap berupaya agar program-program pembinaan dapat berjalan optimal.
Berbagai program kini mulai menunjukkan hasil nyata, mulai dari kegiatan berkebun, peternakan ayam petelur dan bebek, hingga pengembangan usaha skala UMKM. Salah satu produk yang cukup dikenal adalah pie susu dan donat bermerek “Jeker”, singkatan dari Jeruji Kerobokan.
Selain itu, terdapat pula program di bidang kesenian dan berbagai bentuk pelatihan lainnya yang melibatkan warga binaan secara langsung. Menariknya, hasil penjualan dari seluruh program tersebut dikembalikan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan warga binaan.
Bagi Hudi, sebuah lembaga tidak akan pernah terlepas dari berbagai persoalan. Namun yang terpenting adalah bagaimana seorang pemimpin mampu merespons dan mencari solusi atas setiap tantangan yang muncul.
Salah satu kendala yang dihadapinya saat ini adalah keterbatasan lahan untuk pengembangan program pembinaan. Meski demikian, Hudi terus berupaya memaksimalkan fasilitas yang ada, termasuk menjajaki kerja sama dengan pihak ketiga guna memperluas program pemberdayaan warga binaan.
Ia juga menilai keberhasilan program di dalam lapas tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi dari seluruh elemen, mulai dari petugas lapas, warga binaan, hingga para pemangku kepentingan di pemerintahan.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, Hudi menegaskan pentingnya mengoptimalkan sumber daya yang tersedia demi menjaga ekosistem lapas tetap berjalan baik serta mendukung proses pembinaan warga binaan.
Harapan untuk Masa Depan
Hudi Ismono berharap seluruh program yang telah dibangun selama masa kepemimpinannya dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan oleh kepemimpinan berikutnya.
Ia juga berharap warga binaan yang telah mengikuti berbagai program pembinaan mampu memiliki semangat baru, keterampilan, serta kemampuan untuk bersaing di dunia kerja ketika kembali ke tengah masyarakat.
Menurutnya, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, terlepas dari kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk kembali menerima para mantan warga binaan tanpa stigma negatif.
Di akhir pesannya, Hudi Ismono juga mengingatkan generasi muda agar tidak terjerumus dalam tindakan melanggar hukum, terutama penyalahgunaan narkoba. Ia menilai perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas ilmu pengetahuan dan mengasah kemampuan yang bermanfaat bagi masa depan.
Peran orang tua pun dinilai sangat penting dalam mengawasi perkembangan anak-anak, khususnya pada masa pencarian jati diri. Menurutnya, pengawasan dan perhatian keluarga menjadi fondasi utama agar generasi muda tidak salah melangkah dalam kehidupan.
