Badung.harianrakyatbali.com || Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan mulai membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga, pengusaha, hingga investor guna memperkuat pengembangan program ketahanan pangan di lingkungan lapas.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya awal untuk membangun program pemberdayaan warga binaan yang lebih efektif, produktif, dan berkelanjutan.
Pada tahap awal, program yang disiapkan mencakup pengembangan budidaya ayam petelur serta peningkatan kapasitas ternak lele. Budidaya lele sebenarnya telah berjalan di lingkungan Lapas Kerobokan, namun pengembangannya masih terkendala keterbatasan anggaran, terlebih di tengah kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah pusat.
Melalui sinergi bersama investor maupun pihak ketiga, pengelola lapas berharap kapasitas peternakan ayam petelur dan budidaya lele dapat ditingkatkan sehingga mampu mendukung kebutuhan pangan secara mandiri di dalam lapas.
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan internal, program tersebut juga diarahkan sebagai sarana pembinaan produktif yang mendorong terciptanya kemandirian bagi warga binaan. Dalam pelaksanaannya, pengelolaan peternakan akan melibatkan warga binaan secara langsung, mulai dari proses pemeliharaan hingga pengelolaan hasil usaha.




Baca Juga : Dua Tahun Sanga Sanga: Menjaga Racikan, Membangun Kepercayaan, Menembus Pasar Eropa
Kepala Lapas Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, menyatakan pihaknya menyambut positif kehadiran investor maupun mitra usaha yang ingin berkolaborasi dalam pengembangan berbagai program pemberdayaan di lingkungan lapas.
Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi elemen penting dalam membangun ekosistem kemandirian sumber daya yang mampu menopang program pembinaan warga binaan secara berkesinambungan.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat program pemberdayaan warga binaan, membangun kemandirian sumber daya di dalam lapas, sekaligus menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan saat kembali ke tengah masyarakat,” ujar Hudi Ismono.
Program ketahanan pangan ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi atas tantangan keterbatasan anggaran, tetapi juga menjadi ruang pembinaan yang memberi pengalaman, keterampilan, serta peluang baru bagi warga binaan dalam menata masa depan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana mereka. (res)
