JEMBRANA – Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Jembrana. Melalui Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerperin), pemerintah daerah melakukan pemantauan intensif terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jembrana yang bekerja di wilayah tersebut.
Kepala Disnakerperin Jembrana, Kadek Mirah Ananta Sukma Dewi, saat dikonfirmasi Rabu (4/3) menjelaskan, berdasarkan data Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), saat ini tercatat sebanyak 187 PMI asal Bali bekerja di kawasan Timur Tengah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 orang merupakan PMI yang berasal dari Kabupaten Jembrana. Angka itu menurun cukup signifikan dibandingkan tahun 2025 lalu yang mencapai 254 orang dari daerah yang sama.
“Kami berkoordinasi secara intens dengan BP3MI serta Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di negara setempat. Para PMI diimbau membatasi aktivitas di luar tempat tinggal dan tempat kerja serta disiplin mengikuti arahan resmi dari perwakilan pemerintah RI,” ujar Mirah.
Baca Juga : TPA Suwung Batal Ditutup, Forum Swakelola Sampah Bali Urungkan Aksi Demo Besar-besaran
Menurutnya, BP3MI juga terus menjalin komunikasi dengan perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, termasuk KJRI di negara-negara yang berdekatan dengan wilayah konflik seperti Uni Emirat Arab dan Turki.
Sebagai langkah antisipasi, Disnakerperin Jembrana turut melakukan pendataan ulang terhadap PMI asal Jembrana guna memastikan jumlah serta lokasi persebaran mereka di kawasan tersebut.
Mirah menegaskan, pendataan tersebut menjadi dasar penting apabila sewaktu-waktu diperlukan langkah evakuasi maupun pemulangan PMI jika situasi keamanan memburuk.“Pendataan ini menjadi dasar jika situasi memburuk dan diperlukan langkah cepat. Kami ingin seluruh PMI asal Jembrana tetap terpantau dengan baik,” tegasnya.
Selain itu, Disnakerperin bersama BP3MI juga memperketat pengawasan terhadap rencana penempatan tenaga kerja baru ke wilayah yang dinilai rawan konflik. Masyarakat yang berencana bekerja di kawasan terdampak konflik juga diimbau untuk menunda keberangkatan hingga kondisi dinyatakan aman. (prp)
Sumber : nusabali.com | Dampak Konflik Timur Tengah, 17 PMI asal Jembrana dalam Pantauan Intensif
