HARIANRAKYATBALI.COM – Rasanya tak ada wisatawan yang pulang dari Bali tanpa selembar kaus Joger. Tak hanya kaus, berbagai souvenir dari Joger pun memiliki keunikannya masing-masing. Sehingga tak heran apabila nama Joger telah mendunia. Namun, siapa sosok dibalik berdirinya Pabrik Kata-Kata Joger?
Ia adalah Joseph Theodorus Wuliandi atau akrab dipanggil Mr. Joger. Joseph Theodorus Wuliandi lahir pada 5 September 1951, pada tahun 1970an ia menempuh di salah satu sekolah perhotelan di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat. Disana ia berkenalan dengan Gerhard Seeger, kemudian keduanya menjadi Kawan akrab yang sangat baik seperti saudara. Saking baiknya, saat Mr. jogger menikah dengan sang istrinya yaitu Ibu Ery Kusdarijati, Mr. Gerhard Seeger suka rela menghadiahkan uang tunai sebesar USD 20.000.
Jika dirupiahkan, nominal tersebut tentunya cukup banyak, akhirnya Mr. Joger memutuskan untuk menggunakan uang tersebur sebagai modal untuk mendirikan sebuah usaha. Pada awalnya ia tak terpikirkan apa nama dari usahanya tersebut, tapi karena mengingat kebaikan sang sahabat Mr. Joger menggunakan nama sahabatnya itu pada usahanya. Mr. Joger berinisiatif menggabungkan namanya dengan Mr. Gerhard menjadi satu. Jadilah nama Joger tersebut, jika dilihat dengan seksama nama tersebut merupakan gabungan Joseph dan Gerhard.
Jogger resmi didirikan pada tanggal 19 Januari 1981, bermula dari satu toko souvenir kecil di Jalan Sulawesi, Denpasar di depan Pasar Badung. Nama Joger ini melekat terus, hingga pada tahun 1986, atas hibah sebidang tanah dari ibunya,Mr. Jogger membuka satu toko souvenir besar di Jalan Raya Kuta, pada awalnya Bernama Joger Handicraft Center kemudian berubah menjadi Pabrik Kata-Kata Joger yang semakin ramai hingga saat ini.
Alasan perubahan nama tersebut, Mr. Joger beralasan bahwa dirinya senang membuat dan menyusun kata-kata unik. Jogger sebetulnya memiliki peluang besar dengan tingginya permintaan pasar akan produk-produknya di dalam maupun luar negeri, Jogger bisa saja melebarkan sayapnya ke berbagai kota maupun negara. Namun, Mr. Joger memliki sebuah prinsip bahwa usahanya bukanlah sebuah pohon yang harus bercabang-cabang dan juga bukan burung yang harus melebarkan sayap kesana kemari.
Pada juli 1987, Mr. jogger memutuskan untuk menutup dua toko lain dan fokus menggarap satu toko saja di Kuta. Mr. Joger dengan tegas melarang penjualan semua produk bermerek dagang, bercap atau bertanda tangan Joger oleh pihak lainnya. Meskipun dua tokonya di tutup, dengan manajemen dan pengelolaan yang baik, dalam waktu 1,5 tahun Joger bisa mearup omzet setara tiga toko.
Penutupan dua toko itu sebenarnya mempunyai alasan kuat dari sisi kehidupan keluarga Mr. Joger. Pada suatu malam sang putra, Armand Setiawan, yang pada saat itu berusia tujuh tahun menghampiri Mr. Joger sepulang kerja, rupanya sang buah hati itu menagih janji sang ayah kepadanya. Sebelumnya Mr. Joger pernah mengatakan kehidupan keluarga mereka akan jauh lebih baik lagi jika memliki tiga toko Joger sekaligus. Kemudian Mr. Joger bertanya kepada Armand tentang apa yang dirasakannya setelah semua itu terwujud.
Namun, jawaban sang putra ternyata mengejutkan dan menyentuh hati sang ayah, Armand berkata, “Hidup kita memang lebih enak, Pa. Tapi, tidak lebih baik,” jawabnya. Armand juga mengungkapkan, sebelumnya kedua orang tuanya selalu ada waktu untuk bermain dengannya setiap akhir pekan saat mereka masih mempunyai satu toko, namun semua itu berubah ketika Joger berkembang hingga memiliki tiga cabang.
Armand juga mengakui orang tuanya banyak memiliki mobil, namun ia selalu diantar sopir dan hanya ditemani sang nenek. Pribadi sang ayah pun perlahan berubah, Armand merasa pengelolaan toko sangat menyita waktu sang ayah, anak itu merasa ayahnya lebih mudah marah dan menjawab pertanyaannya secara singkat dan seadanya.
Keesokan paginya, Mr. Joger berdiskusi dengan sang istri tentang keluhan anaknya. Dengan perdebatan yang cukup Panjang, akhirnya keduanya sepatak untuk menutup dua toko di Denpasar dan hanya membuka satu toko di Kuta. Keputusan mereka ini sempat disayangkan oleh rekan kerja dan anggota keluarga lain, namun Mr. Joger tetap teguh pada keputusannya, ia berprinsip bahwa tidak ada gunanya ia menciptakan masa depan untuk anak-anaknya, sedangkan masa kini anaknya ia abaikan dan untuk apa mempunyai banyak uang tetapi tidak ada waktu sama sekali untuk menikmatinya.
Adik kandung dari seniman sekaligus pengusaha asal Semarang, Jaya Suprana, ini pun “bertobat” dan membatalkan niatnya menjadi konglomerat. Semenjak saat itu, Mr. Joger mengelola bisnisnya bukan untuk mengejar keuntungan semata, namun untuk mengejar kebahagiaan dirinya dan keluarganya.
Pada tahun 2006, Kawasan Wisata Bedugul nyaris dihapuskan dari daftar kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara. Selain lokasinya sangat jauh dari destinasi wisata umum di Bali, wisatawan pun kerap bosan karena taka da objek yang bisa disinggahi sepanjang Tanah Lot hingga Bedugul. Kemudian karena adanya permintaan masyarakat sekitar sana untuk ada sebuah objek pesinggahan di kawasan tersebut, Joger yang pada prinsipnya tak akan pernah membuka cabang, karena ada permintaan tersebut dan bisa menghidupkan kembali pariwisata disana, akhirnya didirikan Teman Joger yang berlokasi di Jalan Raya Denpasar-Bedugul KM 37,5, Baturiti, Tabanan. Akhirnya wisatawan pun punya alasan untuk datang kesana, selain untuk berwisata ke kawasan Bedugul sekalian untuk berwisata belanja, tanpa harus datang ke Pabrik Kata-Kata Joger di Kuta. Namun, Teman Joger bukan merupakan cabang dari Pabrik Kata-Kata Joger, melainkan sebatas TEMpat penyamanAN Joger (TEMAN JOGER).
Sumber:
- Republika.co.id – Joseph Theodorus Wulianadi (Pak Joger), Pendiri dan Pemilik Pabrik Kata-Kata Joger: Orientasi Bisnis Ala Joger
- id.wikipedia.org – Joseph Theodorus Wuliandi
- detik.com/detikBali – Kisah Mr. Joger, Sosok di Balik Pendiri Pabrik Kata-kata yang Mendunia
