Nekad Membangun Toko Bangunan Meski Tak Ada Ilmu dan Pengalaman

Nekad Membangun Toko Bangunan Meski Tak Ada Ilmu dan Pengalaman

Dayu Alit Mardini – UD. Taman Sari

Ayah mertua dari Dayu Alit Mardini yang bekerja di bidang kontraktor, kemudian mencoba peluang usaha dengan mendirikan usaha toko bangunan yang tidak jauh dari latar belakang profesi beliau. Dayu Alit Mardini sebagai menantu, tak banyak ambil bagian dari usaha tersebut, ia lebih fokus dalam kegiatan sosial masyarakat dan mengurus anak. Namun sepertinya kerja keras mertua mengurus usaha, tertular pada Dayu Alit Mardini, ia pun melakukan hal yang sama, dengan mendirikan sebuah toko bangunan kecil pada tahun 1985.

Meski masih berupa toko sederhana kala itu, toko yang ia beri nama “UD. Taman Sari” tersebut, sudah mengundang kedatangan para distributor dari Jakarta dan Surabaya tertarik untuk bekerjasama dengannya. Dayu Alit Mardini sempat menolak tawaran tersebut, karena alasan terhimpit modal. Namun distributor tersebut memberikan harapan kepadanya, dengan memberikan keringanan dalam pembelian barang, berapa pun uang yang ia miliki. Tak hanya saat itu, hal yang sama pun terjadi di bulan-bulan selanjutnya, hingga ia bisa mencicil barang sedikit demi sedikit untuk mengisi toko yang didirikan di lingkungan yang masih sepi oleh usaha serupa.

Suami dari Dayu Alit Mardini, yang berprofesi sebagai dosen di Fakultas Hukum, pun ikut terjun langsung dalam usaha, hanya tak seintens dirinya. Bersama – sama sebagai wirausaha yang baru merangkak dari bawah, pasangan ini berupaya mempelajari material – material bangunan yang masih awam bagi mereka, sembari menghadapi apapun tantangan kedepannya, hingga menjadi toko bangunan yang berlokasi di Jalan Danau Tandakan No.10, Sanur, Denpasar Selatan ini mampu untuk terus menjawab kebutuhan masyarakat akan material bangunan.

Sukses Dalam Usaha Maupun Pendidikan Anak
Sebagai perempuan, apalagi seorang ibu, tak salah Dayu Alit Mardini sebelumnya pernah mencoba peluang usaha menjual alat – alat kebutuhan rumah tangga. Namun ternyata pilihannya kurang tepat, barang – barang yang sudah sempat ia pajang, tak sukses memanggil pelanggan.

Wanita kelahiran Klungkung ini, pun tak berhenti sampai disana, ia mencoba dengan menjual material bangunan, meski tak memiliki ilmu maupun pengalaman apapun, hanya terinspirasi dari mertua yang bekerja sebagai kontraktor, ia nekad mendirikan usaha yang umumnya melekat dengan citra laki-laki tersebut.

Semangat dalam berwirausaha Dayu Alit Mardini tak didapatkan secara singkat, di mana sejak kecilnya ia sudah mengenal kegiatan berdagang dari ibu, tanpa paksaan dari pihak mana pun. Secara tidak langsung ia pun banyak belajar dari pengalamannya, tak hanya bagaimana cara ibunya berdagang, tapi juga berperilaku di lingkungan sosialnya.

Di balik ekonomi yang cukup sulit, di mana pun Sang Ibu menginjakkan kakinya, selalu meninggalkan kesan baik bagi sesama. Beliau merupakan figure yang tak ragu memberi pertolongan, terbukti dari setiap perkataan orang yang didengar langsung oleh Dayu Alit Mardini. Bahkan di sisa hidup Sang Ibu, orang-orang tak berhenti mengelu-elukan nama beliau.

Butuh perjuangan kerja keras untuk Dayu Alit Mardini terus melenggangkan langkahnya di dunia pendidikan, sampai pada tahap kelulusannya dari Fakultas Teknologi Pertanian. Ia pun ingin tiga orang anaknya memiliki nasib yang sama, bahkan lebih baik darinya. Doanya pun didengar oleh Sang Pencipta, di mana salah satu anaknya merupakan lulusan terbaik dari Fakultas Teknik Arsitektur, Universitas Udayana. Bahkan tak hanya berprestasi di bidang akademis, anaknya yang kembali melanjutkan sekolah kuliner pun pandai dalam memasak menu khas Bali, yang mengundang decak kagum para penikmatnya, bahkan wisatawan mancanegara.

Tentu sebuah kebanggaan yang dirasakan Dayu Alit Mardini, sebagai ibu, tak hanya sukses dalam berwirausaha tapi juga dalam mendidik anak-anak. Dalam kesempatan ini, ia pun berupaya memberikan pesannya kepada generasi muda, agar mulai menggali potensi yang dimiliki dan jangan menyia-nyiakan waktu muda begitu saja. Misalnya saat duduk nongkrong bersama rekan-rekan, mulailah buka dengan obrolan yang positif dan saling berbagi informasi. Bisa saja diantara rekan-rekan kita tersebut, ada yang berpeluang menjadi partner bisnis yang sevisi misi dengan kita, untuk menikmati proses jatuh bangun hingga sukses bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.