Berada di titik gemilang saat ini, siapa yang menyangka bahwa sosok I Made Gami sempat merasakan hidup susah. I Made Gami lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang terbilang serba pas-pasan. Orang tuanya berprofesi sebagai petani penandu yang mengerjakan ladang milik orang lain.
Kehidupan masa kecilnya yang sungguh susah, memaksanya untuk turut membantu pergejolakkan ekonomi keluarga dengan turut bekerja sejak dini agar dapat memenuhi hajat hidup keluarga dan pendidikannya. Mulai dari membantu orang tuanya bekerja di ladang atau menjadi pekerja serabutan harian.
Meski terus dihadapkan dengan keadaan hidup yang begitu susah, tak pernah sekalipun I Made Gami mengeluh. Karena ia tahu betul perjuangan kedua orang tuanya yang terseok-seok untuk mencukupi hajat hidup dan pendidikan anak-anaknya, tak jarang pula orang tuanya harus gali lubang tutup lubang agar anak- anaknya dapat terus bersekolah.

Ia pun sempat mau putus sekolah lantaran orang tuanya sudah tidak lagi mampu menyekolahkannya, karena tidak memiliki uang. Namun beruntung dalam kondisi itu semangatnya untuk bersekolah tidak patah arang. Di kondisi terpuruk itu I Made Gami kemudian mendapatkan tawaran untuk melanjutkan sekolah dari saudaranya dan sebagai darmanya I Made Gami pun harus ikut serta mengerjakan pekerjaan rumah.
Tawaran itu pun tidak diulur oleh I Made Gami, sehingga ia pun dapat melanjutkan pendidikan STM nya dengan menumpang tinggal di rumah saudaranya. Jerih payah dan kegigihan I Made Gami dalam menuntut ilmu akhirnya terbayar saat ia berhasil menamatkan pendidikan formalnya. Setelah menamatkan sekolah, ia pun tidak ingin membuang waktu untuk mencari pekerjaan dengan harapan kelak dapat merubah garis takdir hidupnya dan keluarga.
