Sebagai sebuah gengsi di hadapan generasi muda, Kardiasa bekerjsama dengan beberapa vendor untuk mengadopsi sistem bank profesional untuk diimplementasikan ke KSP SM2. PR lainnya, belajar dari para senior, ialah bagaimana menyusun strategi dalam menghadapi tantangan yang berliku, sehingga mampu eksis dari tahun ke tahun. Kurang lebih proses 3,5 tahun, dioptimalkan Kardiasa dan tim, untuk terus bertransisi sebagai lembaga ekonomi yang secara pendekatan pelayanannya secara kearifan lokal, tentunya tetap memegang teguh profesional dan keimanan dalam prosesnya.

Kabar teranyar KSP Suryananda Mitra Mandiri kini telah beranggotakan 450 orang, memiliki aset senilai Rp. 5 miliar lebih dalam kurun waktu yang singkat. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya yang membutuhkan waktu enam tahunan, karena target anggota juga cenderung ada di usia 40 tahunan ke atas dan masih menganut sistem konvensional. Berbeda dengan sekarang, 80%nya beranggotakan generasi muda, sembari menerjemahkan Undang-Undang Koperasi No. 25 tahun 1992 dan dikolaborasikan dengan kebutuhan zaman yang terus berubah.
Baca Juga : Pemuda Berdikari Sukses Membangun Klinik Fisioterapi Dengan Niat Membantu Masyarakat Hidup Sehat
Yang tak kalah membanggakan di masa pandemi, dari modal awal Rp. 160 juta, Kardiasa bahkan mampu menaruh kepercayaan anggota untuk mulai berinvestasi melalui produk deposito dengan suku bunga 8,5% / tahun di koperasi yang masih terbilang masih muda. Bahkan menariknya, KSP SM2 sempat menolak beberapa deposito yang hendak disalurkan. Omset pun mengalami kenaikan, selaras dengan penerimaan tersebut yang tak ternilai harganya, bagi lembaga ekonomi yang tak hanya rentan dengan krisis ekonomi tapi juga kepercayaan.

Dengan prestasi yang dilampaui dalam waktu singkat, KSP SM2 dijuluki sebutan ‘bocah nakal’ oleh rekan-rekan koperasi lainnya. Bagi Kardiasa pencapaian ini sejalan dengan kerja keras, kerja cerdas dan inovatif oleh tim KSP SM2. Bila kita sudah memiliki ide, segera take action, jangan ditunda-tunda, apalagi sudah memiliki kemampuan dalam kompetensi masing – masing. Semangat revolusioner ini yang harus terus dipertahankan dan diwariskan ke koperasi-koperasi lainnya di Bali, jangan hanya menjadi formalitas atau tren menjamurnya koperasi, tapi memberikan benefit yang sejatinya menjembatani kebutuhan finansial masyarakat.
