I Wayan Winatha terlahir dari keluarga yang amat sederhana, ia adalah anak ke lima dari sepuluh bersaudara. Walaupun kehidupan masa kecilnya sangat sederhana dan jauh dari kata mewah, ia tidak merasa kekurangan kasih sayang dari sosok orang tua dan lingkaran keluarganya.
Meski keadaan ekonomi keluarganya saat itu terbilang pas – pasan, hal itu tak menjadi penghalang bagi orang tuanya untuk terus berjuang mengedepankan kebutuhan pendidikan anak – anaknya. Alhasil, suri tauladan dan kegigihan orang tuanya itu menjadi landasan tekad I Wayan Winatha dan membentuk pribadinya untuk terus positif menjalani kehidupan, agar kelak dapat menjadi orang yang berguna dan berilmu bagi lingkungannya.
Keseharian masa kecil I Wayan Winatha pun banyak dihabiskan untuk membantu memutar roda perekonomian keluarga dengan turut membantu orangtuanya bekerja agar dapat mencukupi hajat hidup dan pendidikannya.
Baca Juga : Kesungguhan Hati di Setiap Amanat, Cerminan Kesederhanaan dan Rendah Hati Sang Pemimpin Sejati

Resiko saat menjalankan sebuah lembaga pastilah akan selalu ada, ibarat pribahasa “Semakin tinggi pohon, semakin lebat buahnya dan semakin kencang juga angin yang menerpanya” pepatah itu seperti kehidupan yang mungkin pernah semua orang rasakan, semakin kita tumbuh dewasa, maka semakin banyak pula pelajaran dan pengalaman yang kita dapat, begitupun juga dengan ujiannya.
Jiwanya yang berdikari menuntunnya untuk langsung terjun bekerja setelah menamatkan pendidikan SMA nya dan tetap konsisten menekuni pekerjaannya. Alhasil dengan kebulatan tekad untuk fokus berbisnis, I Wayan Winatha membuat keputusan untuk meninggalkan pendidikan lanjutannya di perguruan tinggi dan lebih memilih untuk memfokuskan diri mengembangkan usaha di bidang percetakan yang terbukti hingga saat ini ditangannya masih berjalan dan terus meraksasa.
