Koperasi yang berlokasi di Desa Meliling, Kabupaten Tabanan ini, didirikan oleh I Made Sutama dengan beberapa penopang usaha yang beliau rintis sebelumnya yaitu spa dan bengkel elektronik. Padatnya aktifitas beliau di usia 50 tahun, akhirnya mempercayakan Ayu Eliana untuk membantunya mengelola koperasi dan masih dibawah pengawasannya. Selain secara ilmu, beliau juga berbagi tipsnya dalam menjalankan koperasi dengan sikap – sikap yang sederhana, terlebih mengingat dirinya masih tergolong muda untuk mengemban posisi tersebut. Seperti tidak terlalu berambisi untuk menginginkan sesuatu, sampai mengabaikan aspek-aspek penting, karena hanya fokus pada satu tujuan itu saja. Dengan kapasitas yang ia miliki saat ini, dirinya tetap bersahaja dan merangkul tim koperasi untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada anggota koperasi.
Latar belakang kehidupan Ayu Eliana, jauh dari kata kemapanan. Ayah bekerja sebagai sopir dan ibu mengurus kebutuhan rumah tangga saja, itu artinya seluruh pemasukan, hanya bergantung dengan ayah. Bersyukurnya ia mendapat beasiswa untuk keluarga miskin saat SD hingga SMK. Setelah tamat ia sempat langsung melamar kerja, namun tak kunjung diterima karena hanya tamatan SMK. Ia kemudian mengutarakan keinginan kepada ayahnya untuk melanjutkan kuliah dan berkenan mau membiayainya di awal semester saja. Agar tak membebani beliau, semester selanjutnya akan ia biayai sendiri dengan bekerja sembari kuliah. Akhirnya dengan diantar sang ayah, ia melanjutkan kuliah di Program Studi Komputer Akuntansi Bisnis di STIKI Indonesia yang sekarang berubah nama menjadi Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI).

Baca Juga : Siap Hadir 24 Jam! Layani Perawatan Intensif Hingga Aneka Kebutuhan Hewan Peliharaan
Di Panjer Denpasar, ia ngekost dengan kakaknya selama empat tahun. Diawal masa kuliah disaat belum mendapat pekerjaan, ia berupaya menggunakan uang Rp. 100 ribu bekal dari orangtua untuk cukup ia gunakan selama satu minggu. Hingga ia mendapatkan pekerjaan sebagai marketing event, seiring berjalannya waktu kemudian Ayu Eliana keluar dari pekerjaan tersebut dan menemukan pekerjaan tetap sebuah perusahaan kontraktor sebagai admin keuangan. Jam kerja yang bisa dibilang tidak terlalu padat, pada akhirnya Ayu Eliana bisa membagi waktunya antara bekerja dan kuliah, di pagi hari sampai sore dirinya bekerja di kontraktor kemudian dilanjutkan kuliah hingga malam hari. Atas perjuangan dan tekadnya untuk tidak membebani orangtua, akhirnya Ayu Eliana mampu membiayai kuliahnya secara mandiri.
Dari sosok ibu, tak kalah memiliki peran penting bagi Ayu Eliana, selain disiplin ilmu dari kampus, ia belajar cara mengelola keuangan dengan baik agar terhindar dari utang, bila kondisi keuangan seadanya maka itulah yang menjadi hak kita. Pengalaman orangtua dan kolaborasi ilmu dari pendidikan profesional, menjadi bekal wanita berusia 25 tahun ini untuk terus berupaya menjaga dan membawa Koperasi Lumbung Padi Bali terus bertransformasi sesuai dengan kebutuhan zaman. Kini pasca-pandemi Covid-19, Ayu Eliana dan tim sangat bersyukur bisa melampaui pandemi Covid-19 dengan pencapaian aset Rp. 3,8 miliar, meski mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Namun kontribusi yang bisa dibagikan ke anggota berupa pembagian sembako setiap tahunnya tetap berupaya dilaksanakan kendati tak terkait kondisi pandemi, demi menjaga citra koperasi agar selalu dekat di hati masyarakat.

