Pandangan Ida Pandita Mengenai Hindu Bali dan Hindu India

Pandangan Ida Pandita Mengenai Hindu Bali dan Hindu India

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

Masyarakat Bali secara umum belum bisa menerima pelaksanaan prosesi ritual ala Hindu India yang bersumber dari kitab suci Weda. Apa yang menjadi penyebabnya, dan bagaimana sebenarnya ritual Hindu Bali dan Hindu India?

Ketika kita berbicara tentang ritual India di Bali memang selalu menuai pro dan kontra. Sudah menjadi suatu adagium (pepatah), bahwa ketika ada materialisasi ide-ide ketuhanan, selalu terjadi rwa bhineda, yang menimbulkan dwalita (perbedaan yang bisa berjalan beriringan) dan dualisme (perbedaan yang tak bisa disatukan).

Bahkan salah satu menghakimi, menjustisfikasi yang satu salah. Hanya dirinyalah yang benar. Bisa dikatakan prosesi keagamaan di India adalah produk budaya India, dan begitu juga prosesi keagamaan di Bali adalah produk budaya Bali. Secara kultur keduanya tidak bisa disamakan. Namun jangan diartikan bahwa budaya itu semata-mata produk manusia. Sebab tetap roh atau spiritnya berada pada Weda. “Melalui agama, sebuah budaya itu menjadi bermakna, tanpa ada roh dari agama tidak akan ada makna, apapun dia.”

Oleh sebab itu, kepemilikan-kepemilikan itu tentu memiliki konsekuensi logis. Dalam pandangan saya secara pribadi, penolakan terhadap ritual murni Weda, karena ada beberapa kelompok termapankan oleh tradisi agama Bali menjadi tidak nyaman. Karena zona nyamannya mulai terusik dengan ritual-ritual yang saya katakan ‘new age religion’ atau gerakan agama baru.

Di sini, kelompok tradisional menjadi sangat khawatir, dikarena berbagai hal, seperti tergesernya peran mereka. Pemertahanan ritual Bali ini akan menimbulkan multiplier effect. Karena manusia selaku pelaku agama, terutama dalam ritual agama, ini juga bisa melahirkan konsekuensi positif dan negatif.

Maka multiplier upacara Hindu di Bali ini akan memberikan implikasi yang sangat luar biasa. Baik secara nilai yang memungkinkan membawa manusia pada satu hal yang bersifat upgrade. Namun berbicara mengenai dampak, tentu ada dampak positif dan negatif. Secara positif, budaya Bali itu ritualnya adalah drama kolosal, seperti drama teater.

Ketika dia menjadi agama teater, dia menjadi agama tontonan. Siapa yang menonton, mungkin kita sendiri sebagai pelaku dan insan pariwisata. Pemerintah juga memiliki peran penting dalam mengatur hal ini. Sebab kalau semua ritual itu dilakukan sangat sederhana, apa yang dinikmati pariwisata? Itulah yang saya maksud multiplier effect.

Sekarang bagi kaum urban, migran, dan terpelajar, tidak menginginkan agar ritual itu besar-besar, karena banyak menyita waktu. Permasalahan waktu ini pula yang menyebabkan sektor riil kita sudah dikuasai oleh orang lain. Pemerintah dalam hal ini, atau siapapun dia, baik itu desa pakraman, tokoh agama, harus membangun pola keseimbangan, supaya multiplier effect itu lebih banyak membangun kesejahteraan internal.

Jangan sampai kita yang menjadi konsumerisme, tetapi yang menyediakan justru umat lain. Maka di sini harus ada sebuah kebijakan berpikir atau berpikir secara seimbang. Secara konsep agama, kalau berbicara ritual di Bali lebih besaran bhakti dan karmanya. Kita tidak boleh menghapus yang sudah diwariskan ini. Tetapi, kita juga harus ada keseimbangan, yakni memberikan ruang untuk kelompok jnanin. Namun kalau ingin ditelusuri, upacara Hindu di Bali sebenarnya tidak selalu besar, sama seperti di India.

Bedanya, di Bali agama itu masuk ke ruang publik atau adat. Inilah yang menyebabkan upacara itu menjadi ramai. Sebab setiap anggota masyarakat mendapatkan pembagian tugas, yang mengakibatkan pengeluarannya menjadi besar.

Dalam istilah Balinya, ‘gedenan ke teben’. Kalau bisa merujuk ke sastra, bahkan sastra-sastra di Bali sekalipun, sastra sudah memberikan pilihan pada umatnya supaya beryadnya sesuai tingkat kemampuan. Tapi karena malu diledek oleh teman atau saudara, ini kerap menyebabkan gengsinya naik, sehingga upacara menjadi boros. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul “Begini Pandangan Ida Pandita Mengenai Hindu Bali dan Hindu India”.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto

Leave a Reply

Your email address will not be published.