Perjalanan Koperasi Arta Nadi Sedana berlanjut tak lepas dari berbagai tantangan, terutama dari eksternal. Seperti erupsi Gunung Agung dan yang terekstrem saat pandemi COVID-19. Ia sangat memahami anggota sebagai prioritas utama dalam kelembagaan koperasi, namun saat pandemi, banyak anggota yang melakukan penarikan diatas 30%, yang tidak sesuai aturan. Akibatnya, kepanikan pun sempat ia alami sebagai ketua agar koperasi tetap terjaga likuiditasnya.
Kondisi demikian peliknya, menguji tanggung jawab Wayan Darta. Ia wajib menyeleksi para anggota yang bisa melakukan kredit dengan lebih ketat. Namun ternyata ia sempat kecolongan, ada beberapa anggota yang mengalami kredit macet yang menjadi tantangan lagi, bagi Wayan Darta selanjutnya. Mendekati hari raya Galungan, tiba saatnya pembagian SHU, ia mencoba cara untuk bekerjasam dengan beberapa lembaga keuangan, namun hasilnya nihil. Akhirnya, ia terpaksa menggunakan menggadaikan aset pribadinya untuk membagikan SHU para anggota.

Baca Juga : Pemuda Berdikari Sukses Membangun Klinik Fisioterapi Dengan Niat Membantu Masyarakat Hidup Sehat
Ketangguhan pria kelahiran Rendang, 15 April 1979 tersebut dalam memimpin koperasi, tak lepas dari kisah masa kecilnya yang diungkapkannya sangat sederhana. Ia lahir sebagai anak petani dan pedagang, sekaligus dirinya ikut membantu dengan ngangon sapi dan berjualan pisang goreng ke warung-warung. Saat itu masih kelas IV SD, setiap sebelum berangkat maupun sepulang sekolah yang jaraknya tak terkira jauhnya, ia mengambil pekerjaan tersebut dengan suka rela, demi meringankan biaya sekolahnya.
Wayan Darta akhirnya harus berpuas diri sampai duduk di bangku sekolah yang setara SMA, sedangkan teman-teman sebayanya bisa bersekolah sampai di kota Klungkung. Namun ternyata kondisi ketimpangan tersebut, bukan akhir segalanya. Masa depannya masih cerah dan suci, ia memiliki hak untuk ke mana langkah selanjutnya setelah masa SMA. Berkat dukungan positif dari orangtua, istri, anak dan kerabat, di usia 44 tahun ia bisa dinyatakan telah sukses meraih kepercayaan masyarakat dalam perkoperasian. Karena sejatinya koperasi ini tak hanya berhadapan dengan inflasi perekonomian, tapi juga masyarakatnya. Komitmen ini yang diharapkan tetap ajeg dan mampu diwarisi ke anak cucu, demi masa depan koperasi yang terus maju, namun tetap memegang erat kearifan lokal.

