Di balik lahirnya sebuah produk legendaris, selalu tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, keyakinan, dan visi yang tak tergoyahkan. Begitulah cerita yang mengiringi perjalanan Bambang Pranoto dan Riva Effrianti, dua sosok di balik berdirinya PT. Kutus Kutus Herbal yang kini dikenal luas melalui evolusinya “Sanga Sanga”.
Bagi Bambang Pranoto yang akrab disapa Babe, kesehatan bukan sekadar bebas dari penyakit. Ia meyakini bahwa kesehatan adalah harmoni antara manusia dan alam. Keyakinan inilah yang kemudian melahirkan racikan minyak herbal yang berakar dari kearifan tradisi Nusantara.
Perjalanan Babe tidak dimulai dari dunia herbal. Pria kelahiran Klaten, 13 Mei 1955 itu sempat meniti karier di sejumlah perusahaan besar, seperti PT. Philips Indonesia Commercial hingga PT. Inovasindo. Namun pada 2002, hidupnya berubah arah. Bukan karena tuntutan pekerjaan, melainkan panggilan batin yang membawanya menuju Bali.
Di Pulau Dewata, Babe merasakan energi yang sulit dijelaskan. Ia sempat membantu usaha restoran milik temannya, lalu beralih ke dunia musik, hingga akhirnya kembali membuka usaha kuliner. Namun di tengah fase tersebut, hidupnya diuji dengan cobaan berat, ia jatuh sakit hingga mengalami kelumpuhan.
Titik terendah itu justru menjadi awal dari sebuah perjalanan baru. Dalam kondisi terbatas, Babe memilih untuk merenung dan bermeditasi. Dari proses itu, ia mengaku mendapatkan “petunjuk” untuk meracik minyak herbal.

Tanpa ragu, ia mulai mengumpulkan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitarnya. Dengan satu kali percobaan, racikan tersebut justru membawanya pada pemulihan. Dari situlah ia menyadari, inilah panggilan hidup yang selama ini ia cari.
Minyak racikannya mulai diperkenalkan ke orang-orang terdekat dan mendapat respons positif. Namun ada satu kendala, aroma minyak yang terlalu kuat, sehingga beberapa orang merasa kurang nyaman saat memakai produknya. Babe pun mempelajari aromaterapi dan menambahkan essential oil untuk menyempurnakan produknya.
Hingga pada 2013 lahirlah brand Kutus Kutus, nama yang menurut Babe datang dari “bisikan” yang ia yakini sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya.
Seiring waktu, Kutus Kutus berkembang pesat. Permintaan meningkat, hingga akhirnya pada 2017 pembangunan pabrik dimulai dan resmi beroperasi pada 2019. Namun perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Sengketa produk dan maraknya imitasi menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.
Memasuki satu dekade perjalanan, Kutus Kutus pun berevolusi menjadi Sanga Sanga. Babe juga mengungkapkan jika angka delapan puluh delapan dengan sembilan puluh sembilan terdapat selisih sebelas angka dimana dalam bahasa jawa disebut sewelas dan secara filosofis berarti kawelasan atau rasa belas kasih.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan langkah besar untuk memperkuat identitas dan kualitas produk di tengah persaingan.

Di balik transformasi tersebut, Babe tidak berjalan sendiri. Hadir sosok Riva Effrianti, perempuan tangguh yang menjadi pendamping hidup sekaligus motor penggerak modernisasi bisnis.
Baca Juga : Sanga Sanga “Sing Ada Lawan”, Wajah Baru Herbal Bali yang Tetap Jaga Khasiat dan Kepercayaan
Riva memulai karier dari bawah di dunia perbankan, hanya dengan ijazah SMA. Berkat ketekunan dan kerja keras, ia mampu meniti karier hingga mencapai posisi manajer operasional setelah 25 tahun berproses.
Perjalanan hidupnya juga penuh tantangan, termasuk menghadapi dinamika keluarga yang membentuk mental dan keteguhannya. Demi masa depan yang lebih baik, Riva melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana dan terus mengembangkan dirinya.
Di titik tertentu, ia dihadapkan pada pilihan besar, bertahan di zona nyaman atau terjun ke dunia bisnis yang penuh risiko. Dengan keberanian, ia memilih meninggalkan karier mapan dan bergabung dalam perjalanan PT Kutus Kutus Herbal.
Keputusan itu bukan tanpa tantangan. Riva harus beradaptasi dengan kompleksitas bisnis herbal yang jauh dari bayangannya. Namun di sinilah perannya menjadi krusial.
Ia mulai menata ulang sistem manajemen, memperkuat legalitas, membangun branding modern, serta memastikan tata kelola keuangan berjalan profesional. Di bawah sentuhannya, bisnis tidak hanya bertumbuh, tetapi juga memiliki fondasi yang kuat untuk bersaing secara global.
Bagi Riva, bisnis bukan sekadar mencari keuntungan. Ada nilai kemanusiaan yang harus dijaga. Prinsip ini tercermin dari komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan karyawan dan menghadirkan produk yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Kini, dengan ribuan tenaga kerja yang terlibat, Sanga Sanga tidak hanya menjadi produk herbal, tetapi juga simbol kolaborasi antara tradisi dan modernitas.

Babe sebagai peracik sekaligus penjaga nilai-nilai tradisi dan Riva sebagai penggerak transformasi dan ekspansi, kolaborasi keduanya menghadirkan harmoni yang menjadikan Sanga Sanga lebih dari sekadar merek, akan tetapi ada amanah perjuangan, warisan nilai dan panggilan jiwa untuk memberi manfaat lebih kepada masyarakat.
Jika kita berkaca pada perjalanan hidup dari sososk Bambang Pranoto, ada satu benang merah yang dapat kita ambil yaitu “keyakinan”. Dalam mencapai suatu cita-cita, perjalanan yang akan kita hadapi tidak akan selalu berjalan mulus, selalu ada kerikil-kerikil kecil bahkan batu besar yang kan menghambat, yang kadang membuat kita ingin menghentikan langkah. Namun, Babe terus melanjutkan langkahnya menerjang semua halang rintang di depan matanya bahkan disaat seseorang ingin menjatuhkannya. Ia percaya bahwa selama seseorang tetap mendengar panggilan dari dalam dirinya, mendengar petunjuk-pentujuk yang datang dengan cara yang tidak selalu dapat dijelaskan dan tidak pernah mencari kambing hitam dalam segala persoalan melainkan fokus untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut, maka setiap langkah akan bermuara ketempat yang telah menunggu untuk ditemukan.
Begitu juga dengan perjalanan hidup Riva Effrianti, bahwa melalui setiap proses tanpa melihat sebuah hasil yang instan, niscaya hasil yang akan kita dapatkan mungkin akan melebihi dari hasil yang kita rencanakan, asalkan tetap pada jalur kebaikan.
Sanga Sanga pun hadir bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai warisan nilai, perjalanan hidup, dan bukti bahwa harmoni antara alam, manusia, dan keyakinan mampu melahirkan sesuatu yang luar biasa.

