Seingat I Ketut Sudipta, dahulu untuk pergi ke sekolah ia harus berjalan kaki sejauh 20 kilometer setiap harinya. Rutinitas yang berat itu tidak membuatnya patah arang dan menyurutkan langkahnya untuk dapat terus menuntun ilmu hingga ke bangku SMA.
Karena I Ketut Sudipta meyakini bahwa ilmu pendidikan adalah bekal penting untuk dapat mengubah garis takdir hidupnya. Dengan kebulatan tekad untuk dapat hidup berdikari, pada tahun 1979 I Ketut Sudipta pun kemudian merantau ke Denpasar untuk dapat bekerja. Apapun pekerjaannya ia lakoni dengan gigih dan tekun, mulai dari bekerja sebagai tenaga serabutan harian, hingga buruh kasar bangunan.

Semua itu ia kerjakan hanya untuk dapat memenuhi kebutuhan makan sehari – hari. Hingga akhirnya semangat kegigihan, keuletan dan ketekunannya itu membawa sebuah keajaiban yang mempertemukannya dengan seorang kolega yang menawarkannya untuk dapat bekerja di sebuah lembaga perbankan.
Momen ini pun kemudian menjadi sebuah lembar yang menjadi titik balik kehidupan I Ketut Sudipta. Baginya kesempatan untuk dapat terjun bekerja dalam dunia perbankan merupakan suatu anugerah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Baca Juga : Udiyananda Medical Clinic Sebuah Dedikasi Layanan Kesehatan Untuk Kesejahteraan Masyarakat Seutuhnya
Namun nyatanya rencana Tuhan memang tidak dapat ditebak, pintu kesempatan pun selalu terbuka bagi orang-orang yang berteman dengan kegigihan. Dengan berbekal ijazah SMA, I Ketut Sudipta pun akhirnya berkarir dalam dunia perbankan, sampai akhirnya waktu menjawab kebulatan tekad dan kegigihannya dengan diberikan sebuah amanah untuk memimpin jalannya lembaga keuangan tempatnya berkarir.

Pengalaman menahun dalam memimpin dan mengelola lembaga keuangan itulah yang akhirnya ia jadikan pegangan untuk mengelola lembaga koperasi ‘KSP Karya Bersama – Sama’ yang ia jalankan dan terus bersinar hingga saat ini.
Sang anak, Komang Yogi Trisna Adi yang ikut serta dalam menjalankan KSP Karya Bersama – Sama pun mengungkapkan kekagumannya dengan sosok sang ayah, dimatanya sang ayah adalah panutan baginya dan banyak memberi pelajaran tentang arti kehidupan agar bisa berguna untuk keluarga dan masyarakat luas.
Dari perjalanan I Ketut Sudipta, kita belajar bahwa kegigihan adalah keteguhan dalam memegang pendapat dan keuletan untuk terus berupaya mewujudkan apa yang ingin dicapai. Meski tidak mudah untuk dicapai, tetapi kehidupan ini sendiri sebenarnya dapat membentuk kegigihan seseorang. Sehingga tidak menutup kemungkinan setiap insan yang memiliki sikap mental yang gigih dapat menjadi salah satu orang yang sukses dikemudian hari.
