Perannya yang strategis dan langsung turun ke lapangan membangun kepercayaan masyarakat, sebenarnya bukan basic Sudarwati, ia condong berpengalaman dalam administrasi pembukuan di BPR. Namnun dari keberaniannya keluar dari zona nyamannya tersebut, hal inilah yang mensinyalir ia kemudian terpilih sebagai ketua, meski sang suami tak bisa terus menemani, karena masih menjadi karyawan aktif di BPR.
Selain poin diatas, bagi wanita kelahiran tahun 1967 ini, kejujuran, integritas dan kesahajaan dalam kesehariannya juga menjadi kriteria yang memacu ia mendapat pengakuan dari masyarakat, tak hanya sebagai pendiri koperasi, tapi sekaligus sebagai Ketua Pengurus Koperasi Widhi Dana.

Transisinya kali ini, Koperasi Widhi Dana telah berhasil menghimpun 256 anggota dengan aset Rp. 7,38 miliar dari modal awal Rp. 52 juta. Sudarwati mengungkapkan koperasi ini pun sudah mendapatkan beberapa kali “Sertifikat Koperasi Sehat”, hanya saja saat pandemi mengalami penurunan dengan kategori “Cukup Sehat”. Namun, Sudarwati sangat bersyukur, terlebih ditengah kondisi krisis pandemi, ia tetap bisa konsisten membagikan Sisa Hasil Usaha (SHU) kepada seluruh anggota. Kontribusi – kontribusi lain seperti pembagian sembako, dana duka, dana punia untuk kegiatan keagamaan juga masih dirasakan oleh masyarakat non anggota.
