“Berangkat Dari Kelompok Tani” KSP Mertha Buana Terus Bertumbuh Untuk Kesejahteraan Petani dan Anggota

“Berangkat Dari Kelompok Tani” KSP Mertha Buana Terus Bertumbuh Untuk Kesejahteraan Petani dan Anggota

Untuk pengisi tim pengelola koperasi, di baris awal masih diisi empat karyawan yang diketuai oleh Wayan Witarsana sekaligus Ketua Kelompok Buruh Tani. Dibantu oleh Nengah Tisna yang kini lebih fokus menjadi pegawai negeri sipil dan Nyoman Adnyana (Alm) yang sudah bergabung sedari awal merintis koperasi ini sedangkan Dewa Gede Adi Putra saat itu menjadi Bagian Kredit dan Pemasaran sekaligus sebagai pemungut tabungan. Rasa pesimis dari masyarakat pun sudah menjadi warna warni perjalanan koperasi ini namun disisi lain dukungan-dukungan dari masyarakat pun turut mewarnai perjalanan koperasi. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah tim KSP Mertha Buana untuk menaklukan hati masyarakat yang belum paham akan manfaat dari hadirnya sebuah lembaga koperasi.

Baca Juga : Siap Hadir 24 Jam! Layani Perawatan Intensif Hingga Aneka Kebutuhan Hewan Peliharaan

Menanamkan kepercayaan di kelompok tani, menjadi yang paling esensial dilakukan pria berusia 40 tahun ini. Kendati prosesnya tak mudah, KSP Mertha Buana kian membuktikan bahwa kinerjanya tak main-main dengan pindah ke lokasi yang lebih memadai dan ideal untuk melayani nasabah. Kepercayaan dan antusias positif dari masyarakat pun terus diterima, hingga kini sudah menampung sebanyak 300an anggota dengan aset Rp. 4,7 miliar.

Selain sisa hasil usaha (SHU) yang sudah pasti dibagikan setiap tahunnya, kemudahan dalam anggota mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan, didukung KSP Mertha Buana, salah satunya dengan gagasan cemerlang yakni mewajibkan tiap-tiap anggota memiliki tabungan harian minimal Rp. 5.000/hari. Suatu saat nanti, tabungan tersebut bisa saja meringankan beban kredit anggota setiap bulannya. Pada segmen kontribusi di desa, Dewa Gede Adi Putra yang menjabat sebagai Kepala Lingkungan, aktif menyertakan pendanaan sosial koperasi dalam kegiatan sekaa teruna teruni (STT), masifnya upacara adat dan dana pendidikan untuk anak yatim piatu. Harapannya minimal generasi muda Desa Katung, mengenyam pendidikan sampai SMA untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak atau membuka lowongan pekerjaan melalui rintisan usaha. Apapun pilihannya, tekuni dan totalitaslah dalam bekerja, karena tidak ada manuver dalam memperoleh hasilnya, baik datang dari segi materi maupun yang termanifestasi sebagai karma baik kita di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *