Berpengalaman dalam membangun sebuah lembaga keuangan selama lebih dari satu dekade ia jadikan sebagai energi pendorong untuk kembali berkarya membangun desa tercinta dengan membentuk suatu lembaga koperasi, yang pada saat itu mulai berjalan sebagai lembaga pra-koperasi.
Kredibilitas dan kepercayaan masyarakat terhadapnya, rupanya memberikan energi lebih dari apa yang ia harapakan dalam membangun lembaga baru yang ia jalankan. Hal itu terbukti, karena tak menunggu lama lembaga pra-koperasi yang ia jalankan selama lebih kurang 2 bulan itu kemudian menjadi sebuah lembaga resmi dan berbadan hukum, ‘KSU Bulit Sri Sedana’ pun hadir di tengah masyarakat dengan semangat keguyuban untuk maju bersama.
Baca Juga : Kesungguhan Hati di Setiap Amanat, Cerminan Kesederhanaan dan Rendah Hati Sang Pemimpin Sejati

Optimalisasi produktivitas selalu menjadi aspek utama dalam berjalannya lembaga yang secara langsung juga membutuhkan optimalisasi pengelolaan berbagai sumber utama dan pendukung oleh manajemen organisasi serta pemimpin.
Hal inilah yang I Nyoman Kemuantara yakini sebagai bahan bakar keberhasilan suatu lembaga untuk mencapai keberhasilan kinerjanya secara kolektif, sehingga memberikan dampak positif untuk menumbuhkan rasa saling memiliki dalam menjalankan lembaga koperasi yang akarnya memang mempunyai visi sebagai lembaga sosial yang menumbuhkan perekonomian wilayah.
Pembangunan ekonomi kerakyatan merupakan hal yang sangat sensitif, untuk itu segala bentuk program dan pergerakannya harus linier dan saling bersinergi. Pemberdayaan ekonomi desa tentunya membutuhkan peran masyarakat secara keseluruhan untuk dapat swadaya membangun kekuatan otonom dengan asas kemandirian. Untuk itulah ‘komunikasi’ menjadi poin yang sangat fundamental dalam kemajuan lembaga keuangan yang dijalankan.
‘KSU Bulit Sri Sedana’ yang dikomandoi oleh sosok I Nyoman Kemuantara, membuktikan bahwa kesejahteraan sosial akan tercipta dalam sistem masyarakat yang stabil dan mempunyai semangat dan animo tinggi untuk senantiasa maju bersama.
