Untuk kontribusi kepada krama, I Made Anom menyebutkan LPD Desa Adat Bangunliman belum seaktif LPD lain, mereka baru sebatas memberi doorprize bagi nasabah yang setia dalam menabung dan pembagian sembako saat pandemi. Harapannya, semoga kedepannya mampu menyumbang dan mendukung kegiatan krama lebih luas lagi, baik tunai maupun non tunai, ucap pria kelahiran tahun 1964 tersebut.
Terlepas dari pertumbuhan LPD Desa Adat Bangunliman yang hadir di tengah krama desanya, rasanya belum lengkap untuk mengetahui latar belakang dari dua pengayah LPD Desa Adat Bangunliman, tentunya sang ketua dan dari tim pengurus yang diwakili oleh I Wayan Kartu Hendradiasa. Diawali dari I Made Anom, ia lahir dari keluarga dengan ekonomi sebagai buruh tani yang apa adanya. Demi dapat terus melanjutkan sekolah, kakak-kakaknya yang sudah bekerja sebagai buruh, ikut turun tangan untuk membantu membiayai pendidikannya, hingga ia berhasil tamat di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Kemudian ia langsung bekerja sebagai buruh patung, hingga di tahun 1993 dipercaya bergabung dengan LPD, namun sebelumnya ia telah mengikuti prosedur pelatihan di Gianyar. Setelah kegiatan selesai, langsung saja tanpa penundaan yang berarti, ia menerima mandat tersebut dengan modal awal yang didapat dari Pemerintah Provinsi Bali sebesar Rp. 5 juta.
Baca Juga : Siap Hadir 24 Jam! Layani Perawatan Intensif Hingga Aneka Kebutuhan Hewan Peliharaan

Sekretaris LPD Desa Adat Bangunliman, I Wayan Kartu Hendradiasa lahir pada 8 Juni 1959, juga berpendidikan terakhir SMEA yang tamat tahun 1978. Tahun 1979, ia merantau ke Jakarta, tinggal dengan paman dan bekerja di bank pemerintah, Bank Bumi Daya (BBD) tahun 1980. Tahun 1999, terjadi merger (penggabungan dua perusahaan atau lebih menjadi satu) yakni Bank Bumi Daya, Bank BDN (Bank Dagang Negara), Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), diambil alih oleh PT. Bank Mandiri. Manajemen kemudian menawarkan kepada I Wayan Kartu Hendradiasa, apakah akan lanjut ke bank yang sudah di merger dengan konsekuensi daerah kerjanya akan berada di Kalimantan atau Sulawesi atau memilih untuk pensiun. Belum berani membayangkan bila ia harus pindah ke pulau tersebut, jauh dari dua orang anak yang masih belia. 2005, ia memilih pensiun dan pulang ke Bali, sekaligus bergabung dengan I Made Anom dan tim LPD Desa Adat Bangunliman, sebagai Sekretaris.
Dalam menjaga hubungan baik dan sehat di lingkungan kerja LPD Desa Adat Bangunliman, sebenarnya tidak ada kiat yang istimewa dari I Made Anom, sebagai ketua dan tim lainnya. Hanya berasaskan sama-sama satu daerah, yang hampir setiap harinya bertatap muka di kegiatan sosial dan adat juga. Sudah wajib meminimalisir sikap – sikap yang negatif tidak penting yang hanya menyisakan ketidaknyamanan dalam interaksi di desa. Demi terciptanya solidaritas di segala aspek, semuanya harus berangkat atas kesadaran dari diri sendiri terlebih dahulu, barulah mampu berbuat lebih banyak untuk krama, khususnya pada ruang lingkup LPD Desa Adat Bangunliman dalam meningkatkan level kesejahteraan keuangan krama.

