Mendatangkan Rezeki Dengan Berinovasi Tanpa Henti

Mendatangkan Rezeki Dengan Berinovasi Tanpa Henti

Banyak orang yang setuju kalau kesuksesan orang lain yang berasal dari usaha yang dijalankannya kerap begitu menggoda dan terlihat sangat mudah dicapainya. Memang pada dasarnya setiap manusia sangat mudah menilai sesuatu apa yang dilihatnya. Meskipun sebenarnya tidak semua orang benar-benar tahu dan memahami apa yang telah dilakukan orang itu untuk mencapai kesuksesannya sendiri.

Nyatanya, seorang pengusaha yang sukses telah mengalami banyak hal terlebih dahulu, sebelum akhirnya mendapatkan kesuksesan yang diimpikan. Sama halnya seperti perjalanan seorang pebisnis bahan bangunan asal Bali yang bernama I Ketut Suardana. Sesesorang yang bisa menepis keraguan ketika mendapati masalah yang menghadang. Tak jarang, masalah yang muncul terasa begitu berat dan sulit menemukan jalan keluarnya. Mulai dari masa – masa krisis, jatuh bangun merintis usaha, hingga kegagalan demi kegagalan pun menghiasi perjalanan karir bisnisnya. Namun perlahan tapi pasti, kata putus asa dan menyerah, ditepis oleh pengusaha satu ini. Berkat kegigihan dan kekuatan doa, akhirnya ia dapat sukses mengembangkan bisnis yang bernama ‘’UD. Ria Karya Mandiri” yang dimulainya dari nol.

Baca Juga : Diarahkan ke Seni hingga Menjadi Dokter Hewan dari Hati

Terlahir dari keluarga yang jauh dari kata mewah, membuat karakter kemandirian I Ketut Suardana terbentuk secara alami. Melihat getirnya kehidupan yang harus dilalui kedua orangtuanya dalam membesarkan dan mencukupi hajat hidup keluarganya. Maka sedari SMP I Ketut Suardana pun sudah mempunyai prinsip untuk setidaknya dapat sedikit mengurangi beban orangtuanya, dengan belajar mandiri dan bekerja serabutan di sebuah perusahaan garmen, yang kala itu pendapatannya bisa sangat lumayan untuk menutupi uang sekolah dan tambahan uang jajan untuknya. Hingga kegiatan bersekolah sembari bekerja pun sudah menjadi rutinitas sehari – hari yang ia lakoni hingga menamatkan pendidikan SMA nya.

Dengan keadaan ekonomi keluarganya yang masih belum stabil, ia pun kemudian mengambil langkah tegas untuk tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Alhasil dengan berbekal ijazah SMA, I Ketut Suardana saat itu tidak pernah sungkan ataupun gengsi memilah-milah pekerjaan. Baginya apapun ia kerjakan selagi halal dan tidak merugikan orang lain. Mulai dari pegawai serabutan, hingga menjadi asisten pekerjaan – pekerjaan yang berat pun ia lakoni untuk dapat bertahan mencukupi hajat hidupnya.

Benar kata pepepatah “Dimana ada keinginan di situ ada jalan”. Perlahan tapi pasti akhirnya I Ketut Suardana dapat menabung sedikit demi sedikit modal untuk dapat mengembangkan usaha miliknya sendiri. Sehingga dari berbagai pekerjaan yang di lakoinya itu, ia pun banyak mendapatkan ilmu dan juga relasi yang memberinya jalan untuk dapat berbisnis sebagai eksportir pada tahun 1998, dengan produk berupa ragam kerajinan lokal Bali yang mendapatkan pasar masif di eropa. Industri jewelry dan pengkultusan tren mode di pasar Eropa nyatanya memberikan dampak yang sangat positif bagi bisnis yang dijalaninya kala itu, bisa dikatakan era awal tahun 2000an merupakan masa puncak industri bisnis yang dijalankannya. Hingga akhirnya tahun 2009 menjadi sebuah titik balik yang mengandaskan bisnis yang telah dijalankannya selama bertahun-tahun itu. Karena kenyataannya pasar bisnisnya anjlok secara drastis, dikarenakan krisis yang terjadi di Eropa. Dengan keadaan itu, ia pun mencoba bertahan untuk tetap berda di jalur bisnis ini selama 4 tahun, mengharapkan akan segera terjadi perubahan yang membuat pasar bisnisnya normal kembali. Tapi, harapan itu pun perlahan kandas dikarenakan pembengkakan biaya dan merugi.

Kegagalan itu merupakan pukulan telak bagi I Ketut Suardana. Meski kenyataan pahit itu harus ia telan, namun sebagai pebisnis ia sadar akan pentingnya beradaptasi dan terus berinovasi dalam menghadapi segala sesuatu yang tak dihendaki. Karena pada dasarnya tak ada bisnis yang benar – benar bersifat absolut dan terus berada di puncak menghasilkan keuntungan. Maka dari itu, tak larut dalam kekecewaan I Ketut Suardana pun akhirnya mencoba membaca pasar bisnis lokal yang ada di Bali, yang dinilainya akan mudah dipantau dikarenakan dapat berhadapan langsung dengan situasi yang terjadi.

Baca Juga : Bangkit dan Berdamai Dengan Masa Lalu

Pertumbuhan pembangunan infrastruktur yang semakin pesat di Indonesia, membuat toko bangunan ramai dicari untuk membeli bahan material bangunan. Prospek usaha ini di masa depan juga akan tetap cerah selama pembangunan di sekitar kita masih ada. Menangkap prospek dalam bisnis tersebut, I Ketut Suardana pun mencoba untuk memulai bisnisnya kembali dengan membuka toko bangunan bernama ‘UD. Ria Karya Mandiri’ dengan sisa modal yang ada.

Namun menurutnya hal yang paling penting dalam menjalankan sebuah usaha bukanlah semata-mata memiliki modal yang besar, hal terpenting yang tidak bisa diabaikan menurutnya adalah pelayanan terbaik untuk para pelanggan. Jika kita memberi pelayanan yang ramah dan memuaskan, tentu para konsumen juga akan merasa betah berbelanja di toko kita. Maka langkah mengenali produk dan melayani konsumen dengan baik adalah kuncinya, walau tak jarang pula dari mereka yang hanya bertanya – tanya terlebih dahulu sebelum membelinya. Mungkin saat ini mereka hanya membeli satu barang namun dikemudian hari bisa saja mereka bisa membeli dalam jumlah banyak. Pola pikir itulah yang terbukti hingga saat ini dapat membuat I Ketut Suardana bergerak dinamis mengembangkan bisnis ‘‘UD. Ria Karya Mandiri” miliknya yang beralamat di Jalan Raya Bona, Bitera, Gianyar.

Dalam sejumlah bidang pekerjaan tertentu, kadang kita harus menjalani segala sesuatunya sendiri dari nol. Seperti membangun sebuah bisnis, pada awal merintisnya bisa jadi kita harus hidup super hemat dan menjalani hidup dengan cara yang sangat sederhana. Dari I ketut Suardana kita banyak belajar untuk tidak terlalu gengsi dalam mengambil suatu pekerjaan selagi itu halal. Karena jika terlalu gengsi, kadang kita enggan belajar dari seseorang. Padahal bisa jadi seseorang itu kedepannya akan menjadi rekan kerja yang dapat menguntungkan, terlebih dapat bertukar pengalaman dan referensi dalam membangun bisnis. Karena nyatanya banyak dari generasi milinial saat ini seringkali terlalu fokus memikirkan gengsi dengan menuruti ego pribadi, alhasil banyak kesempatan dan peluang lain terlewatkan.

Pada akhirnya memang keputusan dan pilihan ada pada tangan kita masing-masing. Kita mungkin punya ego dan gengsi sendiri, hanya saja jangan sampai malah terlalu mendewakannya sampai merugikan diri sendiri. Seperti kisah I Ketut Suardana yang bisa bangkit dari keterpurukan dan sukses mengambil alih kemudi nasibnya sendiri. Kita banyak belajar bahwa langkah pantang menyerah dan terus tajam berinovasi dengan peluang – peluang baru merupakan prinsip hidup yang harus selalu kita pegang teguh.

Leave a Reply

Your email address will not be published.