Hal itu juga diamini oleh rekan kerjanya bernama Gusti Putu Yatimardika dan I Wayan Eka Mahendra, sebagai bendahara dan staff IT di kantornya. Bagi mereka sosok I Ketut Luki memang memiliki sikap disiplin dan tegas dalam menjalankan kinerja kepemimpinannya, sehingga setiap program yang ingin dijalankan dapat selalu terarah dan optimal dalam pengerjaannya.
Karakter kepemimpinan yang di miliki I Ketut Luki itu tidak lah lepas dari penempaan hidup dan lembar kehidupan masa kecilnya. Sosok I Ketut Luki merupakan putra daerah yang terlahir ditengah keluarga sederhana dan jauh dari kata mewah. Ayahanda adalah seorang penari yang telah melanglang buana melestarikan adat dan kebudayaan Bali ke penjuru dunia, dan ibunda juga adalah sosok yang sangat lekat dengan aktivitas kesenian.
Seperti halnya esensi kesenian, perjalanan hidup yang dimiliki I Ketut Luki tidaklah selalu indah, tapi juga memiliki titik kegelapan dan kesuraman. I Ketut Luki telah ditinggal oleh sosok ayahanda sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, pada saat itu pementasan ayahanda di negara eropa ‘Belgia’ harus berurusan dengan insiden pembegalan yang juga merenggut nyawa ayahnya.

Baca Juga : Tetap Membumi Dengan Impian Besar Untuk Masa Depan Keluarga dan Anak Bangsa
Kehilangan belahan jiwanya, kesehatan ibunda pun kemudian ikut menurun. Seingat I Ketut Luki, dahulu ibunda tercinta mengalami guncangan trauma yang sangat berat sehingga berdampak pada daya ingat ibunya terus menurun.
Alhasil setelah beranjak SMP I Ketut Luki harus kembali kehilangan sosok ibunda tercinta, dikarenakan riwayat sakit yang diderita ibunda. I Ketut Luki pun kemudian dibesarkan oleh sosok ibu asuhnya yang merupakan istri pertama dari ayahnya. Meski begitu kehidupan I Ketut Luki masih mendapatkan rasa hangat dan kasih sayang yang mendalam dari orang tua asuhnya. Baginya sosok ibu / orang tua asuhnya itu adalah ‘pahlawan sejati dalam kehidupan nyata’.
