Kerja Tulus & Ikhlas Untuk Kesejahteraan Krama Melalui LPD Desa Adat Marga

Ketika ditanya terkait seperti apa kontribusi positif yang telah dilakukan LPD Desa Adat Marga kepada masyarakat setempat, Ketut Jadra dengan lugas menjawab bahwa semuanya telah diimplementasikan lewat sejumlah program. Selain setiap tahunnya disumbangkan ke desa adat dengan jumlah 20% pendanaan demi pembangunan desa, anggaran lainnya di distribusikan ke bidang sosial dan kebutuhan acara adat. “Lembaga koperasi ini di buat memang bertujuan sebagai wadah intermediasi keuangan, untuk menyokong dan men-support segala sumber daya lokal yang ada agar dapat terus bersinergi menuju kesejahteran bersama,” tegas suami Ni Wayan Sukarti.

Pastinya, kesuksesan yang ia rasakan saat ini tentu tak luput dari penempaan – penempaan sebelumnya. Termasuk pengalaman semasa kecil yang menjadi pemantik semangat untuk mulai berbenah. Ketut Jadra mengenang bahwa dirinya terlahir di tengah keluarga yang hanya hidup dari lahan garapan pertanian. Disamping itu, sesekali waktu Ketut Jadra dan 3 saudara lainnya mesti ikut bekerja beternak selama waktu liburan sekolah. Pola asuh mandiri yang diterapkan oleh (alm) Ayah I Ketut Bagia dan (alm) Ibu Ni Ketut Nyati akhirnya membentuk karakter Ketut Jadra untuk bertanggung jawab. “Tahun 1982 Bapak meninggal saat saya kelas 6 SD dan di tahun 2002 Ibu meninggal. Jadi kami terbiasa untuk kerja, setiap liburan panjang kami ikut membantu bekerja di lahan garapan. Setelah bapak meninggal, kami menekuni pekerjaan tanaman hias. Dan sejak saat itu, kami mencoba seirius membangun usaha itu hingga bisa menghidupi segala kebutuhan pribadi,” kenang pria kelahiran 23 Januari 1971 tersebut.

Baca Juga : “Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia” Belajar Dari Sebuah Seni Untuk Menjalani Hidup Multidisiplin

Faktor lain yang juga mampu membangun karakter Ketut Jadra adalah dari sosok Ibu yang banting tulang melakoni ragam profesi demi memenuhi kebutuhan keluarga dan rumah setelah ayahnya meninggal. Sikap loyal untuk mementingkan kebutuhan bersama tentu ia temukan di setiap pesan – pesan baik dari kedua orang tua sebelum meninggal. Diantaranya adalah tentang kerukunan antar sesama serta dibarengi dengan semangat kerja keras untuk kesejahteraan. Selain itu, tidak ketinggalan jiwa sosial Ketut Jadra pun terus di pupuk dari arahan kedua orang tua untuk selalu memberi rejeki di tengah kekurangan.

“Saya merasa bersyukur dengan apa yang bisa saya rasakan saat ini. Meskipun kita hidup di zaman yang berbeda sekarang ini tapi petuah dan ajaran yang diberikan, baik dalam tutur kata, sikap dan perilaku. Sehingga harapan saya secara pribadi, mudah-mudahan apa yang saya lakukan secara turun-temurun bisa dilakukan oleh anak cucu saya dan untuk kelembagaan, semoga terus berkembang, profesional dan memberi dampak atau berkontribusi lebih besar lagi kepada masyarakat luas,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *