Kompak Gigih Mengubah Nasib dari Pegawai Menjadi Wirausaha

Kompak Gigih Mengubah Nasib dari Pegawai Menjadi Wirausaha

I Komang Suadnyana & Ni Ketut Sukerti Alangkajeng – UD. Sari Luwih

Berwirausaha di bidang toko makanan ringan atau snack grosiran, juga tak kalah memiliki kesempatan cukup besar untuk dijadikan sebagai peluang usaha. Seperti yang dilakukan I Komang Suadnyana dan Ni Ketut Sukerti Alangkajeng dalam mendirikan UD. Sari Luwih, keduanya tak dapat menyangkal, berbagai latar belakang dan kalangan usia, mulai dari anak-anak usia sekolah, remaja, bahkan orang tua suka ngemil aneka makanan ringan, bahkan mengkonsumsi snack sudah menjadi kebiasaan banyak kalangan di saat santai, menyambut tamu, atau digunakan sebagai buah tangan saat berkunjung ke sanak keluarga.

Pasangan suami istri I Komang Suadnyana dan Ni Ketut Sukerti, tak lantas memilih usaha ini sebagai mata pencaharian utama mereka. Sebelum menikah, keduanya masih bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan dan sudah cukup matang dalam menjalani pekerjaan masing-masing. Hingga keduanya pun mulai merasakan kejenuhan rutinitas pekerjaan yang padat, namun tak memberikan perkembangan ekonomi yang signifkan bagi diri mereka masing – masing.

I Komang Suadnyana awalnya berkarir dengan bekerja sebagai pegawai di sebuah hotel, ia kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut yang sudah menemaninya sekian tahun, setelah menikah dengan Ni Ketut Sukerti Alangkajeng, yang juga berlatarbelakang pekerjaan sebagai pegawai, tepatnya sebagai sales. Di sebuah rumah kontrakan di Tabanan, pasangan ini bertempat tinggal dan berjuang merintis sebuah usaha yang masih sederhana, yang awalnya masih menjual kebutuhan pokok.

Keterikatan waktu dan tempat bekerja di hotel, membuat I Komang Suadnyana akhirnya mundur dari pekerjaannya, terlebih kehidupan berumah tangga yang mulai menghampirinya, mendorongnya berpikir lebih fleksibel, misalnya menjadi wirausahawan. Mereka pun mencari-cari bidang usaha yang cocok dilakoni sekaligus bersama istri, khususnya dalam menjual sesuatu yang banyak diminati masyarakat dari berbagai kalangan maupun usia.

Di saat waktu yang bersamaan dengan adanya pengurangan karyawan di hotel, I Komang Suadnyana pun tak keberatan untuk sekalian mundur saja dari ruang lingkup pekerjaan yang sudah mulai jenuh ia rasakan. Namun tak semudah penampakannya, saat setelah mundur dari hotel, ia tidak bisa begitu saja membangun usaha. Ia kembali menjalani pekerjaan sebagai pegawai di sebuah perusahaan rokok, yang setidaknya memiliki perbedaan dari bidang pekerjaan sebelumnya, sehingga ada hal baru lagi yang bisa ia pelajari, baik ilmu maupun pengalaman.

Kegigihan untuk memperoleh modal dari gaji seorang pegawai, memang nyatanya tidak bisa diandalkan. I Komang Suadnyana dan istri nekad akhirnya menjual sepeda motor seharga 11 juta untuk mengisi barang di toko, meski tak sedikit orang-orang yang pesimis akan hasil keputusan yang mereka ambil. Namun keduanya tak cepat mengambil kesimpulan atas omongan orang-orang, dengan tidak mudah menyerah dan membuktikan kerja keras mereka akan membuahkan hasil yang sepadan.

Berasal dari bahasa latin, ungkapan “Ora Et Labora”, menjadi pedoman pasangan suami istri asal Tabanan ini, menjalani usahanya. Terlebih sebagai Hindu Bali, tak terhindarkan untuk mengikuti serangkaian upacara agama. I Komang Suadnyana dan istri pun berbagi tugas, agar keduanya berjalan secara seimbang, selain mereka bekerja untuk dunia demi memenuhi kebutuhan hidup dalam batas kewajaran, di sisi lain pikiran selalu terikat pada tujuan kehidupan pikiran yang selaras dengan semesta.

Toko tersebut pun sukses mereka dirikan, yang berlokasi di dalam pasar yang mampu berjalan selama tiga tahun. Di tengah-tengah perjalanan usaha, mereka tak puas sampai disitu saja, mereka tak berhenti mencari ide dan peluang lainnya, dalam mengembangkan usaha mereka, agar lebih menjanjikan lagi kedepannya, terutama dalam urusan memenuhi kebutuhan keluarga. Terus melakukan peralihan produk-produk yang dijual, I Komang Suadnyana dan Ni Ketut Sukerti Alangkajeng tak lelah mencoba segala produk yang cocok dengan kebutuhan pasar. Hingga para sales pun seolah berlomba-lomba menawarkan barang mereka, dan pasangan suami istri sampai pada pilihan, fokus untuk menjual snack grosiran dan meninggalkan produk sembako.

Berlabel “UD. Sari Luwih”, toko ini menawarkan produk snack grosiran, yang beralamat di Jalan Gatot Subroto II No.99 Br. Anyar, Kediri-Tabanan. Seperti konsepnya, toko ini mendistribusikan berbagaia pilihan penjualan snack pada pengecer atau penjual lain untuk dijual lagi pada customer tingkat akhir. Jadi bisa dikatakan toko grosir snack merupakan broker atau penghubung produsen atau distributor snack pada agen snack serta pengecer. Dalam pilihan produk ini, I Komang Suadnyana dan Ni Ketut Sukerti pun bersyukur mampu menjalani usahanya dan memperoleh respon positif sampai saat ini.

Mengenal Dunia Dagang Sejak Kecil
Masa kecil I Komang Suadnyana dan Ni Ketut Sukerti, sama-sama sudah mengenal dunia dagang. Secara tidak langsung, pemahaman dari orangtua pun mereka dapatkan, bahwa sebelum mendapatkan makanan, mereka harus berjualan terlebih dahulu. Ni Ketut Sukerti yang dekat dengan sosok ibu pun diajarkan agar menjadi wanita yang mandiri, tak hanya mengandalkan suami saat sudah berumah tangga nanti.

Pengalaman dari pria kelahiran Tabanan, 9 Juni 1967 ini, pun tak jauh berbeda. Ia memiliki kedekatan dengan ibunya dan menyaksikan bagaimana beliau begitu berjuang keras untuk menghidupi keluarga. Hingga saat ini kebiasaan bekerja tersebut sulit dihilangkan, karena sudah menjadi kebiasaan, hanya saja waktunya tidak sepadat dulu, mengingat usia Sang Ibu yang sudah tidak lagi muda.

Kegiatan berdoa pun menjadi perhatian yang tak luput dari dua kubu keluarga sederhana ini. Mereka pun meyakini, akan adanya campur tangan dari Sang Pencipta dalam setiap jalan yang mereka pilih, tanpa melupakan kerja nyata yang tetap harus dilakukan, agar terus siap menghadapi tantangan – tantangan selanjutnya.

Dua sejoli ini berdasarkan pengalamannya terutama dalam berwirausaha, mengambil sebuah pelajaran penting di dalamnya. Bahwa semasih hidup dunia, proses perjuangan tidak akan pernah ada habisnya kita dalam hal apapun. Sebagai manusia kita harus memiliki mental yang kuat dalam menjalaninya dan jangan gampang untuk menyerah sebelum mencapai apa yang dicita-citakan, khususnya pada generasi muda yang masih memiliki kesempatan seluas-luasnya, agar memanfaatkan teknologi dengan bijak dan seefektif mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *