Koperasi Maju Mandiri Hadir Sebagai Oase, Peternak Desa Diberdayakan Demi Kemandirian Ekonomi

Salah satu penempaan yang tentu telah mendarah daging dari karakter Pak Agung adalah memiliki kepribadian yang bertanggung jawab dan mandiri. Perspektif ini bisa kita temukan dari kisah hidup yang ia temukan dalam pola asuh kedua orang tua di tengah lingkup keluarga. Pak Agung merupakan putra bungsu dari 5 bersaudara, dari pasangan suami – istri A.A. Nyoman Arta (alm) dan Sagung Made (alm). Tumbuh dalam keluarga petani, seakan memberikan banyak pengalaman yang berarti.

“Orang tua sudah tua saat saya masih sekolah. Sehingga kerena kondisi itu pun saya sendiri mesti mandiri dan berupaya untuk mulai mencari kerja. Sejak tamat SMA, saya melanjutkan kuliah sambil melakoni pekerjaan sebagai sales di beberapa perusahaan. Tamat tahun 1993, sedikit lebih lama dari kawan-kawan saya yang lebih cepat menyelesaikan studi. Saya menyelesaikan kuliah 7 tahun. Jadi dua tahun sempat tersendat karena saat itu saya banyak sibuk kerja di hotel, kemudian baru bisa melanjutkan kuliah,” kenang alumnus program studi ekonomi, Saraswati Denpasar ini.

Baca Juga : Pemuda Berdikari Sukses Membangun Klinik Fisioterapi Dengan Niat Membantu Masyarakat Hidup Sehat

Menurut Pak Agung, dirinya termasuk salah satu anak yang beruntung bisa merasakan sentuhan kasih sayang sekaligus didikan orang tua yang perhatian tanpa harus mengekang kebebasannya untuk memilih jalan hidup. Bahkan, dukungan besar dari mereka menjadi api semangat bagi Pak Agung untuk terus berusaha. “Orang tua tidak pernah memanjakan anak – anaknya, bahkan memberi dukungan kepada setiap minat dan usaha kami. Bagi saya, mereka (orang tua) sangat mendukung kami. Mendidik kami dengan penuh perhatian yang tentu sesuai dengan kemampuan mereka saat itu. Bagi saya, orang tua menjadi energi positif unuk saya, berkat kerja keras dan kasih sayang mereka,” imbuh pria paruh baya yang suka berolahraga ini.

Tak sia – sia, tempaan – tempaan tersebut menjadi senjata ampuh bagi Pak Agung selama menghadapi situasi sulit. Terlebih ketika merasakan guncangan ekonomi akibat tragedi bom Bali di tahun 2002 silam. Kondisi yang memang tak bisa dipungkiri, geliat ekonomi di hampir seluruh sektor mesti terhenti dan banyak pihak banting stir demi memperbaiki perekonomian keluarga. Dan Pak Agung menjadi salah satu individu yang mesti memutar otak untuk mulai melakukan sesuatu. “Sehingga akhirnya saya pun memutuskan untuk balik ke desa dan mulai membangun usaha bersama dengan kelompok ternak di desa sejak tahun 2004,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *