Kebaikan atau pencapaian yang dirasakan Pak Agung hari ini adalah sebuah kesuksesan. Namun pelajaran darinya pula, banyak orang yang lupa bahwa kesuksesan menjadi buah manis dari hasil konsisten, keseriusan dan kerja keras di hari – hari sebelumnya. Sebelum mantap membangun koperasi Maju Mandiri, Suami dari I Gusti Ayu Putri Martini ini pernah merasakan lika-liku membangun sebuah usaha. Mulai dari usaha ternak, menjual pakan ternak, jualan keliling dan lain sebagainya. “Saya selalu optimis bahwa suatu saat pasti akan berubah. Besok lusa pasti akan ada jalan. Kuncinya tetap berusaha untuk mencari jalan. Jujur, setiap ada kendala atau persoalan dalam usaha, saya tidak pernah pesimis. Karena sesuatu yang menimpa akan selalu ada hikmahnya. Belajar lah untuk menerima,” pungkasnya tegas.
Terbukti, Koperasi Maju Mandiri yang masih sanggup berkibar di Banjar Ambengan, Desa Gubug – Tabanan ini, kian menjadi oase bagi para anggotanya. Dalam konsep yang diterapkan, Pak Agung memberdayakan kelompok ternak dan digerakan dalam semangat membangun sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota dari masyarakat sekitar. Pengelolaannya pun berjalan berdasarkan prinsip kekeluargaan serta keterbukaan dimana menjadi cerminan dari asas koperasi itu sendiri. Selain bersifat demokratis, pemberian balas jasa terhadap pemberi modal sesuai dengan jumlah modal yang diberikan.

“Kontribusi positif yang bisa dirasakan oleh anggota koperasi sejauh ini, cukup banyak ya. Karena kita ini koperasi swausaha dan baru bergerak merambah di bidang simpan-pinjam, tentu sangat membantu para anggotanya. Jadi, upaya ini memang untuk membantu usaha-usaha setiap anggota agar lebih tumbuh dan berkembang dengan menyiapkan dana dengan bunga yang lebih rendah. Tidak hanya itu, untuk kebutuhan dana pendidikan anak-anak, serta kegiatan sosial antar anggota pun sudah kami siapkan,” tutur Pak Agung.
Ketika ditanya terkait seperti apa kiat yang dilakukan demi menumbuhkan kepercayaan di tengah masyarakat dengan hadirnya Koperasi Maju Mandiri, Pak Agung pun memaparkan sesuai dengan analisis keilmuan yang sudah ia pelajari. Menurutnya, masyarakat kita yang menjunjung tinggi kekeluargaan dan gotong royong menjadikan koperasi sebagai lembaga ekonomi yang sangat cocok untuk diterapkan. Terlebih khusus di tingkat masyarakat desa. Kebiasaan kekeluargaan dan gotong royong tersebut sudah menjadi kebiasaan yang turun menurun, sehingga tidak heran jika asas kekeluargaan dan gotong royong yang diusung oleh koperasi bisa menyatu dengan situasi sosial masyarakat desa.
“Membangun koperasi menurut saya kuncinya adalah kita bekerja dengan jujur, berintegritas tinggi, bekerja dengan semangat yang besar, hadir untuk menjawab kebutuhan maysarakat dan bekerja apa adanya. Dengan maksud, cara mengelola secara terbuka, transparan, menerima masukan dan intens berinteraksi, adalah pola kerja yang tepat. Saya pikir ini cara kita untuk menumbuhkan rasa kepercayaan kepada masyarakat serta membangun semangat kekeluargaan antar anggota. Karena apa pun yang kita lakukan adalah demi mensejahterakan setiap anggota yang terlibat.,” tutupnya.
