Kehidupan masa kecilnya yang sungguh susah, nyatanya tidak menyurutkan langkahnya untuk dapat terus menimba ilmu pendidikan, karena ibunda pernah berpesan kepadanya ‘untuk tidak menyerah dengan keadaan yang ada, karena sebelum meninggal ibundanya berharap dan ingin sekali melihat anak-anaknya menjadi sosok yang sukses dan bahagia’.
Pesan dari sosok ibunda yang tersemat itulah yang menjadi energi pendorong baginya untuk dapat terus melanjutkan menimba ilmu pendidikan. Hingga dengan kegigihan dan keinginan yang kuat itu, I Ketut Pegog pun dapat menuntaskan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi dengan hasil gemilang.
Mungkin hal itu juga yang membentuk I Ketut Pegog hingga sekarang tak pernah mengeluh dengan lika-liku dan naik turun perjalanan hidup yang ia jalankan. Karena baginya bekerja keras adalah hal yang telah biasa dilaluinya sejak kecil, telah menjadi prinsip dasar hidupnya untuk tidak bergantung kepada orang lain dan percaya akan kemampuan diri sendiri untuk dapat mengubah garis takdir hidup dan keluarganya.
Baca Juga : Kesungguhan Hati di Setiap Amanat, Cerminan Kesederhanaan dan Rendah Hati Sang Pemimpin Sejati

Karirnya pun terus menanjak sejalan dengan usaha yang melebur dengan doa – doa keluarga dan orang-orang terkasih. Hingga sekarang impian ibunda tercinta terjawab dengan hasil kerja nyata I Ketut Pegog yang selalu berteman dengan kegigihan.
Baginya kesuksesan bukan hanya perkara materi, namun juga bagaimana seorang insan dapat berkontribusi memberikan manfaat dengan pengalaman dan sumber daya yang dimiliki, sehingga dengan itu kebahagian lahir dan batin pun akan dirasakan.
Hidup adalah pilihan, termasuk dalam bersikap. Jika kita mau memiliki, memelihara dan membangun sikap dan antusiasme yang tinggi, maka bagaimanapun keadaan, keterpurukan, penderitaan atau beratnya beban hidup dalam menjalankan lembar demi lembar perjalanan hidup akan bisa dilalui dengan tarian sukacita yang menjadikan setiap momen itu sebuah pelajaran berharga sebagai bekal untuk dapat menjalankan hari esok yang lebih baik lagi.
Ia berharap, di era 4.0 ini, anak-anak muda milenial akan dapat mendominasi turut bersama mengembangkan koperasi sebagai soko guru nasional. Tentu dibutuhkan generasi penerus agar iklim dan laju koperasi dapat terus progresif dan berdaya saing.
