Selanjutnya ada I Wayan Murta sebagai Bendahara, lepas SMA ia langsung dipilih untuk berkontribusi di KSU Merta Buana. Namun, ia sempat menunda selama setahun karena merasa belum pantas ada di posisi tersebut. Sampai akhirnya komitmen dan kejujuran tersebut tumbuh seiring berjalannya waktu, berdasarkan rasa memiliki dan membangun desa kelahiran sendiri. Fakta menariknya, selama menjabat sebagai Bendahara, koperasi yang beranggotakan 346 orang ini, ia sempat menolak simpanan pokok dari warga karena sudah melebihi dari target. Fenomena yang jarang terjadi koperasi-koperasi lainnya.
Baca Juga : Pemuda Berdikari Sukses Membangun Klinik Fisioterapi Dengan Niat Membantu Masyarakat Hidup Sehat

Di posisi sekretaris dipegang oleh Ketut Sudiatmaja, dirinya juga mengaku bukan berlatarbelakang di bidang perekonomian, dimana sebelum bergabung di KSU Merta Buana dirinya hanya seorang kuli dan petani. Sempat bekerja di Denpasar, Ketut Sudiatmaja kemudian diajak oleh sosok ketua untuk bergabung di koperasi, dimana sosok sang ketua menjadi mentornya selama bergelut di lembaga koperasi. Dengan memegang teguh prinsip kejujuran dan bertanggujawab di setiap pekerjaan, Ketut Sudiatmaja berharap kedepannya agar KSU Merta Buana tetap berada pada jalurnya yang sesuai dengan asas dari koperasi, disamping itu sinergitas antar pengurus, pengawas, staff dan seluruh anggota tetap terjaga demi mengajegan koperasi yang menjadi soko guru perekonomian nasional kita.
Terakhir, dari Pengawas oleh I Nyoman Reken Darnata memiliki latar belakang di pariwisata, sebelumnya sudah ngayah sebagai Kelihan Adat dan bergabung dengan KSU Merta Buana. Ia mengungkapkan bangga dan senang bisa terlibat langsung dalam keberhasilan membangkitkan koperasi ini, baginya semua ini berkat solidaritas dari seluruh tim yang berangkat dari visi misi yang sama, hingga bertemu di satu titik yakni meregenerasi KSU Merta Buana ke lintas generasi selanjutnya.
