“Kalau perjalanan di LPD sudah pasti ada pasang surutnya. Hanya saja, yang sering terjadi adalah bagaimana jabatan sebagai ketua ini menjadi rebutan banyak pihak. Tetapi saya selalu berusaha untuk bekerja dengan jujur dan terbuka. Disamping itu, tentu berdoa dan berusaha. Sebab saya percaya, kalau dari awal perjalanan ini adalah sudah diatur oleh sang pencipta. Saya sangat bersyukur ada banyak campur tangan Tuhan. Yang pasti kalau kita selalu bekerja dengan tulus dan ikhlas, pasti akan ada berkahnya,” jelasnya.
Kesuksesan serta pencapaian yang kini di rasakan oleh Pak Sutarja tentu tidak terlepas dari penempaan-penempaan masa kecil. Didikan serta ajaran yang ia terima dari rumah, tentu saja berkontribusi besar membentuk karakter serta kepribadiaannya saat ini. Sikap disiplin nyatanya tanpa disadari sudah terbentuk sejak masa kecilnya. Terlebih khusus peran Ayah, Wayan Suka, yang selalu mendidiknya untuk disiplin. “Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ayah sebagai petani (sudah meninggal tahun 2001). Sementara ibu seorang pedagang sayur, keseharian saya setelah pulang sekolah tentunya langsung ikut bekerja bersama ayah atau ibu. Bisa dikatakan, saya lebih banyak waktu dengan bapak, karena memang bapak yang paling sering di rumah dan di kebun, sementara ibu banyak waktu di pasar. Jujur saja, sosok ayah adalah petani yang tekun dan sangat disiplin. Dari beliau lah saya ditempa untuk disiplin, khususnya dari segi waktu,” kenang Pak Sutarja.

Dari semua itu, pemaknaan hidup baginya adalah perjuangan. Berjuang untuk tetap bekerja keras dan selalu mengerjakannya dengan sungguh. Selain itu adalah disipin sebagai gerbang perubahan. Termasuk dua anaknya yang sudah tergolong sukses. “Kuncinya disiplin untuk mengajarkan kepada anak-anak. Tidak hanya peran saya, tetapi peran istri selama mendidik anak sangat disiplin. Sehingga sekarang anak saya sudah bekerja dan menamatkan perguruan tinggi S2,” tutupnya dengan sidikit tersenyum.
