Bangkit Dengan Visi yang Kuat Untuk Masa Depan dan Kesejahteraan Bersama

I Made Astawa pun terus mempersiapkan ‘Koperasi Mekar Sedana Sari’ dan LPD Desa Adat Abiansemal untuk menjadi suatu lembaga yang mempunyai nilai ekosistem yang sehat, komprehensif dan dinamis dengan segala perkembangan yang ada, termasuk sistem digitalisasi yang sekarang sedang ia fokuskan arah kebijakannya, sehingga dapat selalu efisien dan memberikan kemudahan bagi nasabah, anggota dan krama desa.

Ditanya kunci suksesnya dalam mengemban amanah mempimpin dua lembaga yang dijalankannya, I Made Astawa meyakini bahwa sikap disiplin dan pola pikir positif merupakan hal yang paling fundamental yang menghantarkannya pada titik saat ini. Dalam hal ini, baginya seseorang harus terus belajar untuk meningkatkan pengembangan diri dan kualitasnya.

Siapa yang menyangka I Made Astawa yang hanya lulusan SMA, kini dapat sukses berkecimpung di dunia perbankan dan menahkodai gerbong utama laju pertumbuhan ‘Koperasi Mekar Sedana Sari dan LPD Desa Adat Abiansemal. Segala prosesnya dinikmati I Made Astawa dengan sepenuh hati, sehingga kesungguhannya itu selanjutnya memunculkan kerja keras dalam setiap usaha dan pekerjaan yang di lakoninya.

I Made Astawa merupakan putra daerah, yang terlahir dari keluarga yang kurang berkecukupan dan jauh dari kata mewah. Sosok Ibunda berprofesi sebagai buruh kasar bangunan, dan ia pun harus kehilangan sosok ayahanda tercinta yang meninggal dunia saat ia masih berumur tiga tahun. Alhasil dalam masa tumbuh kembangnya, I Made Astawa lebih dekat dengan sosok single parent ibunda tercinta yang menjadi kepala keluarga dan menafkahi hajat hidup kedua anaknya.

Terbentur dengan keadaan ekonomi keluarga yang serba pas – pasan dan melihat langsung sosok ibunda yang seolah tanpa lelah bekerja demi dirinya dan kakaknya. Keadaan itu pula yang membentuk karakter kemandiriannya sejak dini.

Baca Juga : Kesungguhan Hati di Setiap Amanat, Cerminan Kesederhanaan dan Rendah Hati Sang Pemimpin Sejati

Tidak seperti anak lain seusianya, I Made Astawa telah ikut dan terjun langsung dalam pergulatan ekonomi keluarga sedari ia masih duduk di bangku SD. Pekerjaan apapun ia lakukan untuk membantu sosok ibunda memenuhi hajat hidup keluarga dan pendidikannya.

Sepulang sekolah I Made Astawa biasanya langsung bekerja sebagai buruh kasar bangunan, mengangkut pasir, hingga bekerja di ladang. Hal itu telah menjadi rutinitas harian I Made Astawa dalam menjalani lembar kehidupannya.

Namun baginya tidak mengapa, yang terpenting adalah ia dapat melaksanakan dharmanya sebagai seorang anak dan dapat melakukan hal terbaik untuk membantu meringankan beban pikul ibunda.

Sedari kecil terus dibenturkan dengan kehidupan yang keras, tak membuat sosok I Made Astawa lantas patah arang, meski tertatih-tatih membiayai kebutuhan pendidikannya, akhirnya ia pun dapat menyelesaikan pendidikan formalnya sampai ke tingkat SMA.

Mungkin bagi sebagian orang hal itu merupakan hal yang biasa, namun dengan kondisi perekonomian yang pelik seperti I Made Astawa, dapat menamatkan pendidikan hingga tingkat SMA adalah hal yang membutuhkan effort / usaha lebih, dimana ketekunan, doa dan kerja keras melebur menjadi energi esensial yang mengokohkan langkahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *