Dalam proses ini, I Made Astawa meyakini bahwa semua itu dapat dilewati tak lain berkat campur tangan Sang Hyang Widhi yang melapangkan setapak demi setapak langkahnya dan membukakan pintu kesempatan baginya untuk terus berkarya dengan apa yang dimilikinya.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA ia pun masih melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh bangunan, dalam selang waktu tersebut ia pun tergabung dalam kelompok swadaya ternak yang diorganisir oleh masyarakat desa Bantas, dari sanalah ia bersama beberapa kolega akhirnya mendapatkan ide untuk membentuk lembaga yang dapat mengangkat kesejahteraan bersama secara kolektif.

Dengan semangat itu ia dan beberapa koleganya pun kemudian menghadap ke balai banjar untuk mengkomunikasikan niat dan ide untuk mengelola suatu lembaga keuangan desa. Dengan niat yang luhur, semangat itu pun di sambut baik oleh krama banjar dan lembar kehidupan inilah yang kemudian menjadi titik balik kehidupan I Made Astawa, sehingga ia dapat terjun mengembangkan lembaga keuangan desa berupa Koperasi Mekar Sedana Sari dan LPD Desa Adat Abiansemal yang hingga saat ini terus bergerak signifikan, hadir di tengah masyarakat dengan berkontribusi penuh untuk menunjang kebutuhan dan kesejahteraan bersama.
Meski hanya dengan latar pendidikan tamatan SMA, tak membuat I Made Astawa minder dengan status pendidikannya itu, justru dirinya tetap berusaha menambah ilmu pengetahuannya terkait profesi yang dijalankan saat ini dengan aktif mengikuti berbagai program pelatihan ataupun diklat yang dilaksanakan oleh dinas terkait, dengan mengantongi sertifikat kompetensi yang didapatnya sewaktu pelatihan menghantarkan dirinya sebagai pemimpin sebuah lembaga yang berkompeten dibidangnya baik itu di LPD maupun di Koperasi.
Baca Juga : Optimis Membentangkan Layar Semangat Untuk Masa Depan Industri Pariwisata
Di setiap jatuh bangun dan pahit getir perjalanannya dalam meniti karir, I Made Astawa juga meyakini bahwa doa dan sikap optimis merupakan suatu hal yang saling terikat untuk menemukan jalan dan pembelajaran agar dapat menghadapi berbagai hambatan dan persoalan.

Menjalani hidup ibarat mengarungi lautan. Ada kalanya laut begitu tenang sehingga kita merasa nyaman berada di atas kapal kehidupan. Semua tersedia, membahagiakan dan membuat kita merasa inilah hidup yang sebenarnya.
Tapi pada lain waktu, angin akan bertiup kencang sehingga mendatangkan gelombang besar atau badai. Kapal kehidupan kita pun terombang – ambing tak menentu, dipermainkan gelombang ke segala arah. Pada saat seperti inilah hidup terasa menyedihkan dan menyesakkan. Seolah kapal kita nyaris karam dan akan berakhir.
Satu yang tidak bisa dipungkiri, sosok I Made Astawa menikmati setiap prosesnya. Baginya jatuh atau terpuruk oleh keadaan tidak dapat dijadikan alasan untuk berhenti. Memang ada saatnya kita sebagai seorang insan bersedih namun lekaslah bangkit dengan mempunyai visi hidup untuk orang-orang terkasih, harapan dan masa depan.
