Di Tempa Pengalaman Sukses dengan Profesionalisme dan Integritas Kerja yang Maksimal

Di Tempa Pengalaman Sukses dengan Profesionalisme dan Integritas Kerja yang Maksimal

Ir. Putu Sukadana – UD. Kartika Sari

Akhirnya, kesuksesan tidak melulu diukur dari seberapa hasil yang didapat dan dinikmati, akan tetapi sebarapa besar kita bisa menghargai dan memaknai setiap nilai – nilai dalam proses tersebut yang kemudian disyukuri, adalah sebuah pencapaian puncak tertinggi untuk dijadikan pengalaman sebagai bekal hidup. Hal itu pula yang turut mengilhami Ir. Putu Sukadana dalam melewati tantangan dan rintangan selama menapaki setiap anak tangga kesuksesan, lewat usaha mandiri yang ia kembangkan di bawah bendera UD. Kartika Sari. Tak ayal, etos kerja yang selalu mengedepankan profesionalisme dalam berkomitmen serta menjunjung tinggi integritas kerja yang maksimal, menjadi penanda sebagai mesin penggerak utama didalam setiap pengambilan keputusan dan pelaksanaan setiap pekerjaan.

Salah satu filosofi yang berkaitan dengan profesionalisme dan etos kerja adalah jujur, jemet dan jengah. Jika dikaitkan dengan konsep integritas kerja, filosofi tersebut sangatlah relevan. Sebab dalam konteks profesionalisme, integritas kerja didefinisikan sebagai kualitas dan prinsip moral di dalam diri seseorang yang dilakukan secara konsisten. Dalam artian, profesional dan integritas merupakan suatu wujud kepribadian yang mengedepankan nilai moral (jujur), disiplin (jemet) dan bertanggung jawab (jengah). Nilai-nilai yang tentunya tidak terlepas dari apa yang telah di lalui oleh Putu Sukadana selama menjalani beragam pengalaman di dunia pekerjaan. Tak heran, pria paruh baya yang lebih akrab disapa Sukadana ini pun bisa merasakan pundi – pundi penghasilan serta hidup yang sukses dari jerih payahnya sendiri.

Nama UD. Kartika Sari pun melejit hingga kokoh berdiri dengan konsep desain market yang efektif hingga saat ini. Dalam artian, tak hanya bagi masyarakat lokal dan tamu asing yang tinggal di sekitar, namun juga, UD. Kartika Sari yang berlokasi di jalan Uluwatu, Ungasan-Bali ini hadir sebagai pelengkap demi memenuhi kebutuhan sejumlah akomodasi pariwisata berupa hotel, restoran, ataupun villa. Selain menyajikan beragam produk grosir, UD. Kartika Sari pun mampu mengembangkan sayap usaha di bidang pariwisata sebagai penunjang kebutuhan wisatawan yang ingin menikmati liburan lebih lama. Hal tersebut ditandai lewat didirikannya sejumlah homestay berkualitas dengan label nama Kartika Homestay. Dari semua yang dicapainya itu, Sukadana yang sempat ditemui di sela kesibukannya ini mengaku jika pengalaman hidup menjadi guru terbaik. Selain sebagai alarm penanda, pengalaman pula yang membentuk karakter serta memupuk semangatnya untuk lebih maju. Baik dalam lingkup ekonomi, karir dan masa depannya.

Baca Juga : Membangun dan Membina Hubungan Kemanusiaan dalam Karya di Dunia Kesehatan dan Pendidikan

Dua hal penting sebagai penanda sekaligus mesin penggerak kesuksesan Sukadana adalah profesionalitas dan integritas kerja. Hal itu sudah ia temukan sejak masa muda. Saat itu, Sukadana sudah mulai terjun di dunia bisnis. Dengan modal seadanya, ia pun berinisiatif membuka usaha kecil – kecilan berupa tempat jasa fotocopy di tahun 1991. Ketika itu, Sukadana mesti mencari biaya tambahan sekaligus harus bisa membagi waktu antara kuliah dan kerja, namun demikian bisnisnya pun masih berjalan dengan baik. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, sambil menjalankan bisnis Sukadana pun juga memutuskan untuk mencari tambahan penghasilan dan pengalaman kerja dalam sebuah proyek pembangunan hotel. Dari sanalah, ia banyak belajar tentang sebuah etos kerja dan juga menyerap banyak ilmu manajemen dalam pengelolaan tugas serta peran yang dipercayakan.

Baginya, profesionalisme dan integritas kerja menjadi sebuah konsep yang berkaitan erat dengan konsistensi dalam bentuk tindakan-tindakan, nilai – nilai, metode-metode, ukuran – ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi – ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Berintegritas dalam dunia kerja berarti wajib memiliki pribadi yang jujur dan berkarakter kuat untuk serius dalam setiap tanggung jawab kerja. Dirasa cukup dengan modal yang ada, Sukadana pun bertekad untuk mengembangkan usaha fotocopy dengan membuka cabang di beberapa tempat. Sambil mengais rejeki, pria lulusan Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini pun mampu membangun rumah tangga sendiri. Sukadana pun menikah di tahun 1993 bersama Istrinya Ni Wayan Resmini. Bersama sang Istri yang setia mendukung setiap usahanya, hingga pada tahun 1996 Sukadana akhirnya bisa membeli tanah sebagai tempat tinggal sekaligus tempat usaha di kawasan Ungasan, Kuta Selatan.

“Waktu itu modalnya bersumber dari tabungan yang dikumpulkan dari hasil usaha fotocopy yang telah dijalankan. Saat membeli tanah, kami memulai usaha dengan membuka warung kecil yang sangat sederhana. Itupun sifatnya hanya coba – coba karena pada saat itu kami masih pemula dan belum punya pengalaman. Seiring dengan perjalanan waktu, astungkara usaha kami itu cukup berjalan dengan baik yang sudah tentu tidak terlepas dari kesulitan – kesulitan yang kami alami pada saat itu. Namun dengan berbekal keyakinan, semangat dan tekad yang kuat dengan melihat potensi serta peluang yang ada, sehingga pada tahun 1998 saya pun memutuskan untuk berhenti kerja di hotel dan fokus untuk mengembangkan usaha yang saya rintis tersebut. Mulai saat itu saya mulai memperluas tempat usaha dengan memaksimalkan area yang ada. Perjalanan kami memang tidak mudah, namun berkat kegigihan, ketekunan, kerja keras serta doa dan restu dari kedua orang tua kami pun selalu diberikan jalan untuk mencapai tujuan yang ingin kami capai. Dan pada tahun 2000, usaha UD. Kartika Sari ini mulai kami dirikan,” kata Sukadana.

Baca Juga : Doktor Medical Tourism Pertama di Bali: Menjadikan Bali dan Bali Royal Hospital Sebagai Destinasi Medical Tourism

Pria kelahiran Tabanan, 7 April 1965 ini menambahkan, “Jujur saja, pada saat itu di balik tantangan dan kesulitan yang ada, kami masih melihat potensi dan peluang pasar yang sangat menjanjikan sehingga usaha ini sangat mungkin untuk dikembangkan menjadi usaha yang lebih besar lagi. Perlahan namun pasti sembari mengikuti proses, tempat usaha yang kami tempati ini berhasil kami bangun. Untuk itu sekali lagi kami sangat merasa bersyukur karena tidak pernah terlintas di benak kami bahwa kami akan ada di titik ini. Kami yakin pencapaian ini tidak terlepas dari adanya penempaan-penempaan dari berbagai kesulitan yang membentuk kepribadian, mental, pengalaman dan pengetahuan saya tentang menjalankan sebuah usaha,” tuturnya.

Hal pertama adalah, lanjut Sukadana, dirinya memiliki pengalaman dan kesempatan kerja yang menurutnya cukup membantu ketika membangun usaha sendiri. “Sebut saja tugas, tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan saat saya bekerja di proyek pembangunan sebuah hotel, lalu kemudian ikut dipercaya sebagai bagian me-manage operasional hotel. Dari sana saya banyak belajar, bagaimana mengatur dan menerapkan sistem kerja yang proporsional. Dan konsep – konsep itu sedikitnya saya bisa terapkan saat membangun usaha pribadi,” aku Sukadana.

Seperti yang kini ia terapkan dalam konsep kerja. Salah satu bukti yang bisa diindikasi adalah lewat pelayanan maksimal kepada setiap pelenggan atau konsumen setia UD. Kartika Sari. “Pastinya dalam pengembangan usaha UD. Kartika Sari, kami menerapkan standar pelayanan yang maksimal. Konsep tersebut saya terapkan dari pengalaman kerja selama di hotel. Dalam hal ini, pelayanan untuk setiap konsumen yang datang dan juga memberikan kemudahan adalah konsep yang mesti di lakukan oleh setiap staff untuk mengimplementasikan. Bagi saya, pelayanan itu lah yang menjadi bagian yang penting selama usaha tersebut berjalan,” aku Sukadana.

Selain pengalaman, ayah 4 anak ini juga mengatakan bahwa ada tempaan – tempaan lain yang turut membentuk semangat dan karakter dalam menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab. Hal itu berkaitan erat dengan pola asuh dan didikan dari kedua orang tuanya, I Wayan Sampreg (alm) dan Ibu Ni Nyoman Serati (alm). Meski terlahir di tengah keluarga yang hidup serba kekurangan dari penghasilan sebagai seorang petani, Sukadana masih bisa merasakan sekaligus mendapat kesempatan untuk bisa menyelesaikan sekolah hingga perguruan tinggi. Namun dengan situsi serta kondisi itu pula, Sukadana sangat berterima kasih kepada kedua orang tua karena mampu membentuk karakter yang mandiri dan pekerja keras. Di sela-sela waktu luangnya, Ia bahkan turut menghabiskan banyak waktu dengan membantu kedua orang tua.

Baca Juga : Darah Sang Pendidik yang Sentuh Dunia Pariwisata hingga Kesehatan

“Saya lahir di Tabanan dan hidup bersama orang tua yang mata pencahariannya sebagai petani. Saya sangat ingat bahwa didikan saat itu kami betul-betul dituntun untuk selalu disiplin. Khususnya di dunia pendidikan. Apalagi trend kami ketika masa kecil, pendidikan menjadi sesuatu hal yang wajib dan mesti digeluti. Selain itu, jika ditanya tentang kedekatan, jujur saja saya sangat dekat dengan sosok Ibu. Menurut saya beliau itu adalah orang yang sangat luar biasa. Baik dalam lingkup keluarga maupun sosial di tempat tinggal sekitar. Ibu sangat luar biasa semangatnya untuk men-support dalam setiap rencana atau persoalan kehidupan saya dan keluarga,” ungkap anak sulung dari dua bersaudara itu.

Lebih jauh, Sukadana juga mengaku bahwa turut merasakan masa-masa sulit dan hanya doa yang menjadi sandaran. Akan tetapi semua itu menjadi bagian dari motivasi dan bekal untuknya demi mengembangkan setiap usaha. “Pernah mengalami masa sulit. Terlebih ketika saat awal kita memulai dan ingin mengembangkan usaha. Tetapi semua itu adalah motivasi untuk terus berjuang. Terus melangkah dengan optimisme yang besar. Saya pun meyakini bahwa apa yang saat ini saya nikmati juga berkat campur tangan Tuhan. Sehingga, semangat yang bisa saya sampaikan adalah jangan takut untuk memulai. Karena kalau sudah berani mencoba, maka kita pun harus bekerja dengan totalitas. Tetap semangat dan optimis. Dan paling penting adalah tentang integritas dan kejujuran. Baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Semua itu tentu akan bermuara pada kita sendiri agar ketika semua itu sudah bisa dicapai jangan pernah lupa untuk bersyukur kepada Tuhan,” tutup Sukadana

One thought on “Di Tempa Pengalaman Sukses dengan Profesionalisme dan Integritas Kerja yang Maksimal

Leave a Reply

Your email address will not be published.