Membangun dan Membina Hubungan Kemanusiaan dalam Karya di Dunia Kesehatan dan Pendidikan

Membangun dan Membina Hubungan Kemanusiaan dalam Karya di Dunia Kesehatan dan Pendidikan

Drs. Ida Bagus Arka & Ida Ayu Oka Sulistiawati – Klinik Utama Tulus Ayu & Ketua Yayasan YPPLPK Bali

Kampus ITEKES didirikan sejak 1983 ini, awalnya berbentuk SPK (Sekolah Perawat Kesehatan), karena Drs. Ida Bagus Arka selaku salah satu pendiri, sebelumnya berprofesi sebagai perawat. Cikal bakal terbentuknya sekolah tersebut, berawal dari kisahnya saat ia bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem, yang jumlah perawat hanya ada dua orang pada masa itu. Dalam kondisi kelangkaan tersebut, pun ia dan rekan – rekannya memiliki ide untuk membangun sebuah sekolah, agar masyarakat semakin terbantu dalam menerima pelayanan kesehatan.

Pria kelahiran Karangasem, 28 Juni 1953 ini yang merupakan angkatan pertama sebagai siswa perawat di Bali tersebut, tak hanya sampai disana kiprahnya mengembangkan pendidikan sarjana di bidang keperawatan dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya, Seiring kemajuan teknologi dan kebutuhan dinamis masyarakat, SPK terus melakukan peningkatan status yang diikuti pergantian nama. Sempat bernama AKPER (Akademi Keperawatan) Bali, kemudian pada tahun 1995 berubah menjadi STIKES (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan) Bali.

Berdirinya STIKES Bali pada masa itu, menjadikan sekolah ini merupakan sekolah tinggi kesehatan pertama di Bali. Masyarakat pun menyambut hangat akan hadirnya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan di bidang teknologi dan kesehatan yang dinamis, berlandaskan kearifan lokal. Namun seiring fokus meningkatkan kualitas pengetahuan seputar ilmu keperawatan dan medis lainnya, kode etik untuk tampil secara profesional di hadapan publik, nyatanya masih belum terpenuhi.

Dari pengalaman pengaduan oleh masyarakat, Drs. Ida Bagus Arka kembali mengganti status sekolah yang berlokasi di Jalan Tukad Pakerisan No. 90 Panjer, Denpasar (Kampus I) dan Jalan Tukad Balian No. 180 Renon, Denpasar (Kampus II) ini, menjadi ITEKES (Institut Teknologi dan Kesehatan) Bali. Di bawah naungan ITEKES, Drs. Ida Bagus Arka pun mantap untuk membentuk visi misi, salah satunya “Mengembangkan kerjasama di tingkat regional, nasional maupun internasional” yang mulai dikembangkan pada tahun 2008, diantaranya melalui International Conference, kunjungan – kunjungan sekolah negara tetangga ke ITEKES Bali dan pertukaran dosen dan calon tenaga kesehatan.

Salah satu negara yang tertarik menjalin kerjasama dengan ITEKES Bali, adalah Negara Thailand yang ternyata lebih maju dibidang SDM-nya karena rata-rata kampus disana memiliki SDM berpendidikan S3 yang jauh melebihi SDM kita, namun hal tersebut dijadikan sebuah motivasi untuk secepatnya menyekolahkan dosen ke jenjang S2 dan S3. Thailand memberi kesempatan kepada ITEKES Bali untuk mengikuti kegiatan seminar internasional yang diadakan oleh Thailand.

Memperoleh Penghargaan dalam Seminar Internasional diantara 153 Negara

Dalam merespon kondisi tersebut, Drs. Ida Bagus Arka mulai surat penugasan kepada para dosen untuk menata manajemen ITEKES meliputi dua materi yakni praktek bahasa Inggris dan teknis kesehatan. Dalam praktek bahasa Inggris dipilih mahasiswa yang sudah memiliki basic bahasa Inggris yang cukup, kemudian lebih dimantapkan dengan mewajibkan selama dua jam setiap harinya untuk berlatih bahasa Inggris.

Sedangkan untuk tim teknis kesehatan, harus mempersiapkan presentasi mengenai pelayanan di suatu daerah seperti PUSKESMAS dan rumah sakit, yang akan dibawa pada seminar internasional tersebut.Antusiasme yang tinggi dari ITEKES Bali untuk mengikuti seminar internasional yang dihadiri 153 negara tersebut, berjalan lancar dan mendapat ucapan terima kasih yang tulus dari pihak perguruan tinggi Thailand. Tak hanya itu, ITEKES Bali pun sebagai kampus yang mewakili Indonesia, satu – satunya negara yang mendapat apresiasi atas semangat positif yang telah dibangun ITEKES kepada mahasiswa dan pendidik demi mengikuti kegiatan tersebut.

Baca Juga : Dari Berlayar, Kemudian Berlabuh Sebagai Wirausaha Toko Material Bangunan Dermawan

Drs. Ida Bagus Arka, sebagai penerima penghargaan tersebut yang diberikan langsung oleh salah satu anggota kerajaan Thailand, tak mampu berkata apa – apa, selain mengucapkan syukurnya kepada Sang Pencipta. Usai dari seminar, Drs. Ida Bagus Arka memantapkan tekadnya memberangkatkan 8 orang dosennya ke jenjang S2 ditambah 3 orang ke jenjang S3 untuk belajar ke beberapa negara di luar negeri.

Bukan atas alasan gaya – gayaan, kampus ITEKES sengaja dibangun dengan dilengkapi fasilitas yang modern, hal ini bertujuan agar keluarga besar ITEKES mampu beradaptasi dengan teknologi yang berkembang diluar sana, saat mereka menginjakkan kakinya untuk bekerja di luar wilayah Indonesia, seperti Jepang, di mana sudah 103 orang mahasiswa yang bekerja di negara tersebut dan dilanjutkan negara Belanda ada empat orang yang telah diberangkatkan.

Demi memantau dan memastikan apakah peserta didiknya sudah bekerja sesuai dengan amanah pendidikan yang diberikan di kampus, kali ini Drs. Ida Bagus Arka memiliki gagasan untuk mendirikan Klinik yang ia beri nama “Klinik Tulus Ayu”. Klinik yang beralamat di Jalan Tukad Batanghari No. 22 Renon, Denpasar dan di Jalan PB. Jendral Sudirman No. 28X, Subagan, Amlapura, saat ini sudah dilengkapi dengan pelayanan Dokter Spesialis Kandungan, Spesialis Bedah, Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Anak, Dokter Gigi, Physiotherapist, Laboratorium, Rawat Inap dan Dokter Umum dengan pelayanan 24 jam yang tentunya siap membantu masyarakat dalam menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan.

Berjualan Kacang Kapri, Tanpa Tahu Ayahnya adalah Pejabat

Jiwa kepemimpinan dan entrepreneurship yang dimiliki Drs. Ida Bagus Arka, ternyata lahir dari orangtua berpendidikan hanya sampai di bangku sekolah dasar. Namun di masa itu, ayahnya, Ida Pedanda Putra Gunung sudah bisa bekerja di sebuah pengadilan, sedangkan ibu, Ida Pedanda Istri Anom fokus pada kegiatan rumah tangga. Loyalitas dalam bekerja dan ketekunan membaca buku – buku tentang ilmu peradilan, kemudian membawa status ayahnya diangkat menjadi PNS, hingga dipercaya menjadi Panitera atau pejabat pengadilan yang salah satu tugasnya adalah membantu hakim dalam membuat berita acara pemeriksaan dalam proses persidangan.

Dalam posisi ayahnya tersebut, beliau berhasil merancang sebuah keputusan yang digunakan sebagai sumber referensi di Fakultas Hukum, Universitas Udayana. Prestasi tersebut kemudian menumbuhkan beliau menjadi sosok yang concern pada dunia politik dan resmi menjadi Badan Pelaksana Harian pendamping Bupati Karangasem dari utusan PNI (Partai Nasional Indonesia) yang berfungsi mendampingi Bupati.

Drs. Ida Bagus Arka yang saat itu masih terlalu dini mengetahui secara detail bagaimana loyalitas ayahnya dalam bekerja dan Sang Ayah pun tak pernah menceritakan secara langsung apa pekerjaannya, jadi bisa dikatakan, ia lebih mengenal sosok ayahnya yang sederhana yang tetap menyisihkan waktu bersama ia dan 11 orang saudaranya dengan mengajak pergi ke sawah, saat di hari Sabtu dan Minggu.

Tak hanya sekedar turun ke sawah untuk mengajaknya bermain, ayahnya pun menceritakan padanya bagaimana tanaman – tanaman tersebut merupakan sumber makanan pokok, yang wajib tahu bagaimana cara mengolahnya. Setelah menyimak dengan seksama, ia pun mulai mempraktekan masakannya di dapur. Merasa sudah cukup handal, ia mulai tertarik mengikuti orang-orang yang menjual kacang kapri, tanpa mengetahui bahwa ayahnya memiliki pekerjaan yang terhormat, ia tanpa prasangka apapun tetap melakukannya dengan cara berkeliling.

Baca Juga : Membuka Pintu Rezeki di Tengah Pandemi, Perbanyaklah Sedekah dari Hati

Hingga saat Drs. Ida Bagus Arka menginjak usia SMP, ia baru memahami pekerjaan ayahnya karena ia anak satu – satunya yang diikutsertakan beliau saat berpindahnya kantor Bupati Karangasem akibat peristiwa Gunung Agung meletus ke Ulakan Kecamatan Manggis. Tak hanya pindah sekolah yang harus dijalaninya, ia pun turut ambil bagian membagikan obat- obatan untuk korban bencana, dengan penjelasan sebelumnya dari ayahnya tentang fungsi obat – obat tersebut.

Ada rasa puas dalam diri Drs. Ida Bagus Arka, saat ia bisa memenuhi kebutuhan obat – obatan masyarakat. Terlebih pengalamannya yang paling tidak bisa ia lupakan dari kejadian tersebut, ada seorang nelayan yang memberikan sekeranjang ikan untuknya, sebagai tanda terimakasihnya karena sudah menolong anaknya. Tak menyangka akan mendapat respon yang luar biasa seperti itu, darisanalah timbul keinginannya untuk menjadi perawat dan mendapat dukungan dari ayahnya, untuk mendaftar di Rumah Sakit Sanglah.

Kedekatan Drs. Ida Bagus Arka dengan sosok Sang Ayah, tak bisa menutupi rasa kekagumannya pada beliau, baik sebagai orangtua dan tentunya pengabdiannya dalam masyarakat. Banyak pesan yang ia dapatkan, baik dari obrolan secara langsung maupun kesaksiannya sebagai putra, yang ia harapkan akan menjadi konsistensinya dalam berkarir, terutama bekerja dalam dunia medis.

Sudah semestinya, kita yang ahli di bidang medis yang terjun langsung menolong dan mengobati masyarakat, mampu bekerja secara profesional dan melandasinya dengan ketulusan hati. Jangan menyia – nyiakan anugerah berupa bakat dan kecerdasan yang telah diberikan Sang Pencipta kepada kita, hanya mengejar materi dan materi. Materi memang menjadi kebutuhan kita sebagai manusia, namun menyelamatkan jiwa manusia adalah profesi yang mulia, yang justru akan mendatangkan rezeki yang berlimpah dan karma baik untuk kita dari Sang Pencipta.

4 thoughts on “Membangun dan Membina Hubungan Kemanusiaan dalam Karya di Dunia Kesehatan dan Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *